GANDA
Selasa, 10 Februari 2015

Q:

Antara Wiraswasta dengan Pegawai, untuk Modal Berkeluarga

Saya saat ini memiliki usaha kecil (2 toko), dengan penghasilan cukup. Tabungan selama 5 tahun berusaha, sudah cukup untuk pendidikan S2 dan membeli kendaraan. Saya saat ini dalam kondisi start to save money from zero, especially for wedding. Dalam diri saya muncul keraguan, apakah untuk biaya menikah (yang cukup besar), saya harus melamar pekerjaan di perusahaan atau tetap berusaha dengan dua toko kecil ini? Sementara passion saya sebagai pedagang. Mohon sarannya, Pak.

AW:

Ganda, Anda mengatakan bahwa passion Anda adalah menjadi pedagang dan bahkan sudah cukup sukses dengan memiliki dua toko. Menurut saya, berbekal pengalaman itu akan lebih baik daripada Anda harus memulai dari bawah menjadi pegawai yang Anda sendiri mungkin malah belum berpengalaman. Maksimalkan saja apa yang Anda miliki dan kuasai saat ini. Lalu, lakukan perencanaan keuangan yang lebih baik, sehingga biaya pernikahan bisa diatur sedemikian rupa untuk dicapai. Jika Anda bisa bekerja lebih keras dan lebih bisa mengatur keuangan dengan baik, bisa dimungkinkan, Anda tak perlu menunggu lama untuk bisa mengumpulkan biaya pernikahan Anda.


VIDI
Selasa, 3 Februari 2015

Q:

Takut Ditolak

Belakangan ini saya merasakan takut ditolak orang bila menghubungi orang melalui telepon untuk membuat janji temu, untuk memperkenalkan suatu produk jasa keuangan, yaitu asuransi. Sebelumnya saya berani menghubungi orang melalui telepon. Teman dan saudara mengatakan, “Lakukan saja, memang kalau ditolak kamu mati?” Keinginan melakukannya sudah ada, namun "kaki" ini seperti ada yang menahan. Mohon bimbingan Bapak.

AW:

Halo Vidi. Rasa takut biasanya muncul karena kurang adanya persiapan. Dan, untuk mengatasinya, satu-satunya cara adalah dengan menyiapkan diri lebih baik. Anda sudah pasti pernah diajari berbagai metode untuk menjadi telemarketer atau minimal punya referensi orang lain yang sukses menjalankan tugas yang sama dengan yang Anda lakukan. Belajar dengan metode tersebut dan pelajari contoh sukses tersebut, lalu matangkan dengan latihan, maka lama-lama Anda akan makin terasah dan lebih siap untuk mengatasi rasa takut. 


VINNY WANTORO
Kamis, 29 Januari 2015

Q:

Cara Membagi Waktu

Saya seorang ibu rumah tangga (IRT) yang mengurus sendiri anak-anak dan pekerjaan rumah tangga. Beberapa tahun terakhir saya menjalankan bisnis MLM untuk meringankan biaya kebutuhan keluarga, dan akhirnya tahun lalu bisnis MLM yang saya jalankan menampakkan hasil yang lebih baik, dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apakah Pak Andrie ada saran, bagaimana saya harus mengatur/membagi waktu antara mengurus rumah tangga dengan bisnis MLM? Saya ingin fokus dan sukses menjalankan bisnis ini, tanpa mengganggu kewajiban saya sebagai ibu rumah tangga. Mohon solusinya, Pak.

AW:

Bu Vinny, untuk mengatur waktu, kita harus tahu skala prioritas. Usahakan setiap hari melakukan perencanaan jadwal kegiatan sehari-hari dan setelah malam sebelum tidur lakukan evaluasi. Dengan disiplin mengikuti apa yang sudah kita rencanakan dan mengevaluasinya, kita akan tahu mana yang bisa kita maksimalkan dan mana yang lebih baik ditinggalkan. Sebagai IRT, Anda sudah pasti ada tanggung jawab yang diemban, namun jika memungkinkan, coba cari orang yang bisa membantu Anda. Tujuannya adalah agar Anda juga bisa tetap memberikan yang terbaik pada keluarga, tapi juga bisa fokus untuk membesarkan usaha. 


ERWIN
Sabtu, 20 Desember 2014

Q:

Meredam Emosi

Salam luar biasa Pak! Saya sedang ada ganjalan di hati. Singkat cerita, saya bekerja pada teman saya sebagai sales taking order. Dalam kurun waktu bekerja, saya melakukan hal yang mungkin dapat menghilangkan kepercayaan dari para pelanggan teman saya, yaitu menaikkan harga jual barang (tetapi hal itu memang sudah dilakukan oleh semua karyawan di tempat kerja). Pada akhirnya hal itu terbongkar.

Pada suatu saat, karena istri sakit, saya tidak masuk kerja beberapa hari. Tugas saya digantikan oleh helper. Saya kira itu untuk sementara, tetapi ternyata tidak. Saya malah dipindahtugaskan untuk menggantikan tugas helper saya itu. Hati saya benar-benar hancur. Akhirnya saya mengundurkan diri. Saya minta solusi dari Bapak, untuk meredam emosi dan sakit hati, khususnya pada teman dan mantan helper saya itu. Terima kasih.

AW:

Pertama, yang ingin saya sampaikan, jangan biarkan emosi terus-menerus menguasai diri Anda. Apakah dengan emosi semua bisa selesai dan berjalan jadi baik? Karena itu, redam emosi harus dimulai dari dalam diri. Kalau Anda sakit hati dengan perlakuan tersebut, ada baiknya Anda juga mengoreksi diri. Apakah dulu Anda memutuskan untuk menaikkan harga jual barang sehingga mengakibatkan hilangnya kepercayaan pelanggan teman Anda adalah hal yang bijak? Jika melihat apa yang Anda utarakan, bisa jadi itu adalah hukum sebab akibat.

Maka, jika ingin lebih tenang dan tak ada lagi sakit hati, coba bicara baik-baik dengan teman Anda.  Komunikasikan apa yang sebenarnya terjadi, baik saat Anda menaikkan harga, ataupun saat merawat istri Anda. Semoga, dengan hati yang tenang, jiwa yang lapang, dan pikiran yang terang, akan membuat komunikasi Anda dengan teman tersebut dapat memberikan solusi yang membawa kebaikan bagi kedua belah pihak. 


YOYON
Selasa, 16 Desember 2014

Q:

Bangkit dari Keterpurukan

Pak Andrie, saat ini saya mengalami keterpurukan dalam berbisnis. Yang saya mau tanyakan:
1. Apakah saya harus bangkit dengan sisa modal yang ada?
2. Apakah saya harus berutang untuk memulai usaha lagi—akan tetapi saya selalu menemui jalan buntu untuk mencari pinjaman, walau dengan jaminan.
Mohon solusinya.

AW:

Pak Yoyon, saran saya, jika saat ini benar-benar dalam kondisi terpuruk, akan lebih baik jika memulai dari modal yang kecil dahulu. Pelan-pelan, kembangkan dengan kemampuan yang ada. Fokuskan benar-benar pada jenis usaha yang paling Anda kuasai dan mengerti seluk-beluknya. Dan, jangan lupa untuk selalu menjadikan pengalaman buruk di masa lalu sebagai pembelajaran agar tidak terulang hal yang sama. Karena itu,jika memungkinkan, mulai saja dengan modal yang masih ada. Sebab, jika harus meminjam, risikonya terlalu besar. 




Kirimkan Pertanyaan Anda


Nama

Email

Subject
Pertanyaan

Terbaru