ERWIN
Sabtu, 20 Desember 2014

Q:

Meredam Emosi

Salam luar biasa Pak! Saya sedang ada ganjalan di hati. Singkat cerita, saya bekerja pada teman saya sebagai sales taking order. Dalam kurun waktu bekerja, saya melakukan hal yang mungkin dapat menghilangkan kepercayaan dari para pelanggan teman saya, yaitu menaikkan harga jual barang (tetapi hal itu memang sudah dilakukan oleh semua karyawan di tempat kerja). Pada akhirnya hal itu terbongkar.

Pada suatu saat, karena istri sakit, saya tidak masuk kerja beberapa hari. Tugas saya digantikan oleh helper. Saya kira itu untuk sementara, tetapi ternyata tidak. Saya malah dipindahtugaskan untuk menggantikan tugas helper saya itu. Hati saya benar-benar hancur. Akhirnya saya mengundurkan diri. Saya minta solusi dari Bapak, untuk meredam emosi dan sakit hati, khususnya pada teman dan mantan helper saya itu. Terima kasih.

AW:

Pertama, yang ingin saya sampaikan, jangan biarkan emosi terus-menerus menguasai diri Anda. Apakah dengan emosi semua bisa selesai dan berjalan jadi baik? Karena itu, redam emosi harus dimulai dari dalam diri. Kalau Anda sakit hati dengan perlakuan tersebut, ada baiknya Anda juga mengoreksi diri. Apakah dulu Anda memutuskan untuk menaikkan harga jual barang sehingga mengakibatkan hilangnya kepercayaan pelanggan teman Anda adalah hal yang bijak? Jika melihat apa yang Anda utarakan, bisa jadi itu adalah hukum sebab akibat.

Maka, jika ingin lebih tenang dan tak ada lagi sakit hati, coba bicara baik-baik dengan teman Anda.  Komunikasikan apa yang sebenarnya terjadi, baik saat Anda menaikkan harga, ataupun saat merawat istri Anda. Semoga, dengan hati yang tenang, jiwa yang lapang, dan pikiran yang terang, akan membuat komunikasi Anda dengan teman tersebut dapat memberikan solusi yang membawa kebaikan bagi kedua belah pihak. 


YOYON
Selasa, 16 Desember 2014

Q:

Bangkit dari Keterpurukan

Pak Andrie, saat ini saya mengalami keterpurukan dalam berbisnis. Yang saya mau tanyakan:
1. Apakah saya harus bangkit dengan sisa modal yang ada?
2. Apakah saya harus berutang untuk memulai usaha lagi—akan tetapi saya selalu menemui jalan buntu untuk mencari pinjaman, walau dengan jaminan.
Mohon solusinya.

AW:

Pak Yoyon, saran saya, jika saat ini benar-benar dalam kondisi terpuruk, akan lebih baik jika memulai dari modal yang kecil dahulu. Pelan-pelan, kembangkan dengan kemampuan yang ada. Fokuskan benar-benar pada jenis usaha yang paling Anda kuasai dan mengerti seluk-beluknya. Dan, jangan lupa untuk selalu menjadikan pengalaman buruk di masa lalu sebagai pembelajaran agar tidak terulang hal yang sama. Karena itu,jika memungkinkan, mulai saja dengan modal yang masih ada. Sebab, jika harus meminjam, risikonya terlalu besar. 


ARIF BUDI
Senin, 8 Desember 2014

Q:

Bimbingan Wirausaha

Salam luar biasa, Pak, mohon bimbingan dan motivasinya mengenai wirausaha. Terima kasih.

AW:

Halo Arif.. Jadi pengusaha adalah sebuah proses perjuangan. Tak ada orang yang sukses di bidang usaha apa pun dengan cara yang instan. Maka, sedari awal harus disadari bahwa jadi pengusaha adalah sebuah proses panjang . Kadang berliku, naik, turun, penuh ujian dan tantangan, tapi tak jarang pula kerap diliputi kesenangan.

Maka, satu hal yang perlu diingat, saat sukses, selalu waspada karena kegagalan selalu mengiringi. Begitu pula, saat gagal, selalu optimis karena kesuksesan pun selalu berjalan mengiringi. Selain itu, usahakan fokus pada jenis usaha 


PN
Senin, 1 Desember 2014

Q:

Impian Jadi Dokter

Halo! Saya kelas 3 SMP. Di umur yang masih muda ini saya memiliki impian yang banyak, salah satunya menjadi dokter. Tetapi saya kurang percaya diri karena saya menganggap menjadi dokter harus sangat pintar. Saya sebenarnya tidak bodoh, hanya saja saya takut gagal dan mengecewakan orangtua saya. Bagaimana menurut pendapat Pak Andrie?

AW:

Kamu masih sangat muda. Jalan masa depanmu masih panjang. Cita-cita apa pun, harus dibayar dengan perjuangan keras. Sebab, tak ada yang sifatnya instan. Termasuk kepintaran. Itu adalah sesuatu yang bisa diasah dengan latihan, rajin belajar, dan kebiasaan untuk menekuni hal-hal yang mendukung bidang tersebut. Misalnya, kamu ingin jadi dokter, tekuni hal-hal yang bersifat pengetahuan alam dan hayati. Saat ini banyak bahan yang bisa kamu dapatkan dengan mudah di internet untuk menambah dan mengasah ilmu. 

Dan, perlu kamu sadari, bahwa orang gagal adalah orang yang sama sekali tak pernah mencoba. Karena itu, jika memang itu sudah kamu canangkan sebagai impian di masa depan, jangan berputus asa. Selalu ada jalan untuk mewujudkan cita-cita jadi kenyataan. Saya juga yakin, orangtuamu pasti akan selalu mendukung, apa pun hasil yang kamu raih, sepanjang kamu menekuninya dengan penuh keseriusan.

 


HENDRA
Rabu, 19 November 2014

Q:

Promosi Program Studi

Pak, saya bekerja sebagai dosen di salah satu universitas. Kebetulan, program studi yang saya pegang (D3 Pemasaran), paling sedikit peminatnya. Untuk itu, saya sudah bagikan brosur, promosi di website, sampai terjun langsung ke sekolah. Namun belum berhasil. Mohon kiat jitu dari Bapak. 

AW:

Pemasaran adalah soal bagaimana kita mengomunikasikan produk secara tepat pada sasaran yang dituju. Selain itu, kualitas sang pemasar sendiri juga acapkali menjadi penentu seseorang untuk memilih produk tertentu. Karena itu, menurut saya, Anda bisa coba makin menggencarkan promosi eksistensi diri, misalnya dengan menulis soal materi pemasaran di media massa, mengisi seminar tentang pemasaran, hingga membuat branding yang intinya, agar mampu meyakinkan orang bahwa sekolah Anda—dan Anda sebagai dosennya—memang sekolah yang tepat dan meyakinkan untuk belajar soal pemasaran.  




Kirimkan Pertanyaan Anda


Nama

Email

Subject
Pertanyaan

Terbaru