Catatan Andrie Wongso
2789x352-no1

Sekurangnya, Tidak Membenci

Tidak-Membenci

Sepotong kisah antara Cambodia dan Jakarta.

[5 - 9 Juli, Cambodia]

Rombongan kami ditemani oleh seorang guide lokal yang bisa berbahasa Indonesia. Saat ditanya, "Belajar dari mana?" Jawabnya, "YouTube" (Wow)!

Kami ikut terpuruk mendengar langsung penuturan kisah sejarah perang saudara bangsa Khmer di Cambodia, yang telah menorehkan luka amat dalam bagi setiap anak bangsa, baik yang ikut memanggul senjata atau pun rakyat jelata, hingga turunannya sekarang ini.

Si guide berkisah, ibundanya melahirkan dia di dalam suasana peperangan. Lahir dengan kondisi lemah, berkepala besar (karena kurang gizi) dan tidak menangis, si bayi dikira meninggal dan ditinggalkan begitu saja. Keadaan mendesak rupanya memaksa ibunda harus ikut berpindah tempat bersama warga desanya, karena perintah penguasa. Beruntung, setelah itu ada yang melihat tanda kehidupan dan menolong si kecil, yang akhirnya bisa diselamatkan. Di usia 5 tahun, ibundanya baru tahu bahwa putra yang dilahirkan waktu itu ternyata masih hidup.

Kisah berlanjut. Walaupun peperangan telah usai, sungguh menyedihkan yang tertinggal setelah itu. Seakan tidak ada jiwa yang beranjak bebas, hanya raga yang mulai disibukkan mengais sisa demi hidup dan kehidupan itu sendiri.

"Saya mulai sekolah umur 17 tahun," ujarnya dengan senyum tipis. "Yah, lumayanlah bisa membaca dan menulis. Walaupun tidak bisa sekolah dengan normal tapi saya terus belajar sampai sekarang dengan bantuan teknologi".

Perjalanan kami bertepatan dg hari raya Idul Fitri, dan ternyata guide kami beragama Islam. Kami pun memberi selamat. Sambil mengucap terima kasih, si guide berkisah, "Tadi ibu saya menelpon, ibu ingin bertemu, katanya rindu. Sebenarnya saya pun rindu, sudah 4 tahun kami tidak bertemu. Bapak saya pemuka agama, orgnya keras. Dia marah, caci maki dan usir saya karena saya tidak mengikuti kemauannya utk menjadi ustadz seperti anaknya yang lain. Saya tidak cocok dengan bapak, saya tidak ingin ketemu dengan bapak, tapi saya sebetulnya rindu dengan ibu saya," ucapnya dengan raut wajah sendu dan mata berkaca-kaca.

"Azis. Inilah saat yg paling tepat untuk saling bermaafan. Setidaknya sebagai anak, kamu harus mengalah, memaafkan, datang dan membawa misi berdamai. Terserah apa reaksi bapak kamu, tidak perlu membenci," nasihat saya.

"Belum tentu lho.. masih ada tahun depan. Kan kita tidak pernah tahu sisa waktu uang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Yang lebih penting, sekarang kamu masih ada kesempatan di hari yang suci ini untuk bertemu dengan ibu yang telah melahirkanmu," nasihat saya.

[Hari terakhir di Cambodia]

Bus melaju ke airport untuk mengantar rombongan kami kembali ke Tanah Air. Setelah mengucap terima kasih dan selamat jalan, kami terpaku saat Azis berucap dengan bibir bergetar, "Setelah mengantar bapak ibu, dari sini saya akan langsung ke kampung untuk bertemu dengan ibu saya, bapak dan keluarga. Terima kasih Pak Andrie, sudah memberi pencerahan kepada saya. Sepanjang saya menjadi guide, baru kali ini saya merasa diterima dengan baik dan dinasihati untuk menjadi anak yang baik. Sungguh kata-kata yang sangat bagus: Kalau belum bisa mencintai, sekurangnya jangan membenci. Mungkin sekarang saya memang blm mampu mencintai, tetapi saya harus mulai belajar untuk tidak membenci demi kebaikan saya sendiri. Terima kasih sekali lagi, Pak Andrie," ucapnya dengan tercekat.

Tiba-tiba tepuk tangan riuh menyertai keharuan yang menyesakkan. Kami semua merasakan kelegaan karena telah meninggalkan sepotong hati di Cambodia yamg hendak belajar mencinta, dan sekurangnya belajar untuk tidak membenci.

Semoga oleh-oleh kisah ini menginspirasi.
Salam hangat luar biasa!

2789x352-no2

Comments

  1. Ariesca says:

    Betul Pak, karena Tuhan sudah lebih dahulu mengasihi dan mencintai kita

  2. Atep Dian says:

    Mencintai menjadikan kita jadi orang yang bertanggung jawab dalam bersikap dan selalu berpikir positif dalam mengahadapi persoalan

    Tidak membenci menjadikan hidup kita lebih tenang karena tidak ada pertentangan batin ataupun ancaman emosi yang akan menguasai…

  3. Rudy says:

    Dahsyat Luar Biasa kisah perjalanan pak Andrie.. Itulah hakikat kehidupan dengan sesama manusia..
    Jika belum bisa mencintai sekyrang kurangnya jangan membenci..

Your comment

advertise-your-business_4-500x500
Follow Twitter
qotd_stars_500x500