Catatan Andrie Wongso
2789x352-no1

Utamakan Profesionalisme Kerja

Profesionalisme

Alkisah di sebuah negeri, ada seorang pelukis yang sangat terkenal karena lukisannya yang halus, teliti, dan detail. Ia bisa melukis dengan indah, apapun apapun objek lukisannya. Raja sangat menyukai dan mengagumi karya-karya si pelukis. Sebagai tanda penghormatan, penghargaan, dan keinginan untuk mengabadikan karya seni seorang seniman besar yang pernah ada di negeri itu, raja bermaksud membuatkan sebuah monumen besar. Kata Raja, nantinya di atas monumen itu terpampang lukisan yang akan dikerjakan oleh si pelukis.

Raja amat berharap, seluruh rakyat negeri itu akan mengenang dan menikmati karya seni yang tinggi hingga bertahun-tahun ke depan, sampai ke generasi selanjutnya.

”Baiklah, hamba akan memenuhi harapan baginda,” janji si pelukis.

Setelah monumen selesai dibangun dan berdiri dengan megahnya di tengah kota, si pelukis mulai bekerja keras mengerjakan proyek besar ini. Ia membuat sketsa kasar, menghaluskan, dan menambahkan berbagai ornamen cantik di sana-sini. Kemudian, dia membuat campuran berbagai macam cat warna; lalu mengoleskannya di atas sketsa dengan saksama.

Kegiatan pelukis ternama ini segera menarik perhatian masyarakat sekitar. Setiap hari, mereka bergantian berkerumun di sekitarnya dan dibuat terkagum-kagum atas lukisan besar yang sedang dibuat itu.

Akhirnya, pada suatu hari, lukisan besar nan indah itu selesai dikerjakan. Namun, setiap hari si pelukis tetap datang ke tempat lukisan itu berada. Ada saja detail yang dibenahinya. Pokoknya, mahakarya itu serasa belum bisa memuaskan si pelukis.

Setelah beberapa waktu lamanya, teman si pelukis yang ikut membantu pekerjaan besar itu datang kepadanya. Ia segera menyapa dan bertanya kepadanya, ”Hai, begitu lama kamu mengerjakan proyek ini. Lihat, lukisanmu ini ada di atas bangunan yang begitu tinggi! Orang-orang yang menikmati lukisanmu memuji keindahannya.”

Sang teman berhenti sebentar, memandangi lukisan indah yang besar itu dengan teliti. Katanya lagi, “Mereka yang berkunjung, tidak melihat sedikitpun kekurangannya. Sudahlah, anggap saja proyek besar ini telah selesai dengan tuntas. Dari tempat yang begitu tinggi, jika ada kekurangan sedikit-sedikit, memangnya siapa yang akan tahu?”

”Yang tahu kekurangannya adalah aku dan Sang Mahakuasa,” jawab si pelukis serius. ”Tahukah kamu, sebenarnya melukis sama seperti menjalani kehidupan ini. Setiap perbuatan atau kesalahan yang kita lakukan, belum tentu orang lain tahu. Akan tetapi, setidaknya kita sendiri yang tahu dan pastinya Dia juga tahu. Menurutku, jika ingin hasil kerja yang terbaik, kerjakan sebaik-baiknya, semaksimal mungkin. Bukan atas dasar penilaian orang lain. Sama dengan keinginan untuk berbuat baik, lakukan saja dengan penuh ketulusan.”

pelukis

The Cup of Wisdom

Profesionalisme adalah sikap kerja yang mandiri, berdedikasi, dan menginginkan hasil yang maksimal dengan bekerja sebaik-baiknya. Sebaiknya, kita bekerja dengan profesional—bekerja keras bukan atas dasar penilaian orang lain semata, tetapi karena memang standar kualitas kita yang unggul.

Cerita di atas juga bisa dikaitkan dengan sikap kita dalam menjalani kehidupan ini. Kita pasti pernah berbuat salah. Mungkin tidak ada orang yang tahu, tetapi sekurang-kurangnya kita dan Tuhan—tempat kita mempertanggungjawabkan setiap perbuatan kita hingga akhir kehidupan ini—tahu.

Mari, jalani segala proses kehidupan ini dengan berjuang maksimal, penuh ketulusan dan rasa syukur.

(Tulisan ini juga termuat dalam Koran SINDO, 28 November 2016)

 

2789x352-no2

Your comment

advertise-your-business_4-500x500
Follow Twitter
qotd_stars_500x500