Tahun 1999 merupakan titik perubahan pada pola pikirnya, pria kelahiran tahun tikus 1972 di bawah pengaruh Sagitarius dimatangkan dengan serangkaian kejadian pahit yang datang secara beruntun, dimulai dengan keruntuhan bisnis keluarga, yang memaksa kedua orang tuanya untuk meninggalkan kota Medan dan menjual semua aset-aset yang ada, lalu diikuti dengan hilangnya sepeda motor yang menjadi satu-satunya harta yang tersisa hanya dalam selang beberapa bulan (ia sering menghibur dirinya dengan mengatakan bahwa ada orang yang pinjam sepeda motornya tapi lupa dikembalikan), drama kehidupan itu kemudian dilanjutkan dengan meninggalnya Ibunda tercinta setelah diserang oleh kanker otak beberapa tahun kemudian.
Kekuatan yang didapat pada saat itu, dikumpulkan secara perlahan melalui kombinasi pendidikan keras dari ayahnya dan kelembutan ibunya, serta pendidikan spiritual yang didapatnya dari vihara.
Setelah tamat dari SMA Sutomo 1 Medan tahun 1991, ia melanjutkan kuliah di teknik sipil. Ia juga sempat menjadi guru Matematika dan Fisika selama sepuluh tahun sejak tahun 1993 di SLTP Sutomo 2, dan bekerja di Konsultant bangunan selama 4 tahun lebih, sampai akhirnya ia memilih untuk menjadi seorang Financial Consultant pada sebuah perusahaan asuransi.
Pria yang gemar melukis ini, telah menunjukkan bakat nulisnya sejak di bangku SMP, tulisannya berupa puisi, cerpen dan artikel sering menghiasi surat kabar lokal dan beberapa majalah buddhis. Kegiatan tulis menulisnya sempat terhenti beberapa waktu, sampai ia dapatkan momentnya kembali ketika menemukan ruang artikel Anda di "website Andrie Wongso", dan cita-citanya untuk menyelesaikan sebuah buku kembali menyala.
Saat ini, ia termasuk salah satu aktivis Buddhis yang mengisi kolom Mimbar Agama Buddha di harian Global, dan menjadi penceramah pada beberapa vihara di kota Medan. Saat ini, ia juga menjabat Regional Manager pada PT. Arthamas Konsulindo Medan (Group Sinarmas) yang bergerak di bidang asuransi dan keuangan.
Salah satu pengalaman hidupnya yang menarik untuk diceritakan adalah pada saat ia kehabisan uang untuk membeli makan siangnya di tahun 1999, paginya ia membeli lontong sayur, setelah ia memakan habis lontongnya saja, sayurnya ia bungkus kembali, siangnya ia jadikan lauk untuk nasi putih yang dimasaknya sendiri.
Pengalaman "Makan Lontong" menjadikannya lebih mensyukuri hidup ini, dan memotivasi yang lain untuk dapat bertahan menghadapi cobaan hidup, karena badai pasti berlalu dan hidup ini adalah pilihan, ia memilih untuk SUKSES dan BAHAGIA.
Ia selalu mengatakan "Segala sesuatu bukan bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau""Jika kita mau, semuanya pasti bisa" lanjutnya. Salam Sukses Selalu
|