Membangun kekayaan mental manusia Indonesia demi kehidupan yang lebih bernilai.

Kematian Pernah Terasa Begitu Dekat

Tak ada yang tahu akan seberapa panjang usia kita. Kadang dengan kesehatan yang tampak sempurna, seseorang bisa dengan tiba-tiba menemui akhir hayat dengan cara yang tak diduga. Di lain pihak, ada banyak orang yang menurut perhitungan manusiawi sudah seharusnya meninggal, namun ternyata bisa berumur panjang.

Begitulah, kematian selalu menjadi misteri tak terpecahkan yang siap menanti. Untuk itu, kesadaran akan kematian sudah sepantasnya mampu membawa kita agar selalu mawas diri. Yakni, dengan terus memperbaiki dan mengevaluasi, agar hidup lebih berarti. Seperti juga para tokoh berikut yang mengalami pembelajaran hidup, ketika kematian pernah terasa begitu dekat dengan mereka. Semoga, kisah mereka akan menginspirasi kita agar mampu menjadikan hidup lebih baik.

1. Sir Ernest Shackleton

Dikenal sebagai ahli ekspedisi Antartika, pada tahun 1914, Sir Ernest Shackleton dan timnya mengalami musibah berat. Kapal ekspedisinya karam di Antartika karena membentur bongkahan es. Meski selamat dan terdampar di daratan es, mereka harus terus berjuang melawan dinginnya cuaca kutub.

Untuk bisa bertahan hidup mereka memakan daging hewan kutub yang bisa ditemui. Selain itu, mereka sempat singgah di beberapa pulau di Kutub Selatan, namun tak juga menemukan pertolongan.

Banyak yang menduga Sir Eernest dan timnya sudah meninggal karena ganasnya cuaca Kutub Selatan. Namun pada 30 Agustus 1916, mereka berhasil ditemukan tim penyelamat dan seluruh kru Shackleton pun selamat. “Kami telah melihat kebesaranNya. Kami telah menderita, kelaparan, dan menang,” ujar Shackleton.

Sir Ernest Shackleton

Setelah kejadian itu ia sempat kembali ke Antartika pada tahun 1921, sebelum meninggal karena serangan jantung pada usia 47 tahun. Dunia mengenalnya sebagai seorang pahlawan yang sukses memimpin krunya menyelematkan diri dari bencana tanpa satupun anggota tim yang meninggal.

2. Yossi Ghinsberg

Pada tahun 1981, Yossi Ghinsberg bersama tiga orang rekannya pergi ke pedalaman Amazon di sisi negara Bolivia. Mereka ingin menjelajahi hutan itu menuju hulu sungai Tuichi. Dikabarkan, di sana ada perkampungan Indian yang kaya akan emas.

Dalam perjalanan, karena beratnya keadaan, mereka pun terpisah. Yossi bahkan terbawa arus menuju air terjun dan akhirnya terjatuh. Selama 20 hari berikutnya, Yossi yang terluka terdampar di pedalaman buas hutan Amazon. Tentu, bukan kehidupan yang nyaman. Bahkan ketika mencari tempat tinggi dan lapang untuk memberi tanda pada pesawat yang lewat, ia terjerumus pasir isap hingga “tenggelam” hampir sedada. Untungnya, ia bisa keluar.

Saat merasa tak ada lagi harapan untuk hidup, ia mendengar dengungan yang dikiranya serangga besar yang akan menggigitnya. Ternyata itu suara motor boat tim penyelamat. Akhirnya ia tertolong setelah terdampar selama tiga minggu.

Yossi Ghinsberg

Pasca kejadian itu, Yossi menghargai sisa hidupnya dengan kegiatan membantu banyak orang. Kata-katanya banyak didengar karena ia dianggap telah lulus dari ujian berat yang hampir membawanya ke kematian. Salah satu ungkapannya yang terkenal adalah, “Ketakutan dan kematian adalah teman saya. Ketakutan tak menunjukkan jalan ke mana-mana. Namun saya memilih satu jalan. Kematian duduk di pundak saya dan membisikkan ‘Besok kamu milik saya’. Namun saya hidup di hari ini!” Karena itu ia memanfaatkan saat ini dengan sebaik-baiknya.

Kisahnya telah difilmkan dengan judul Jungle, rilis November 2017 lalu, dengan bintang utama Daniel Radcliffe.

3. Tami Oldham Ashcraft

Perjalanan Tami Oldham Ashcraft, perempuan muda (saat itu 23 tahun) dari Tahiti (negara kepulauan di Pasifik) ke San Diego, AS menggunakan yacht mewah Hazana sebenarnya adalah perjalanan dinas, untuk mengantar kendaraan itu ke pemiliknya. Ia pergi bersama Richard Sharp, pelayar profesional.

Ketika mereka berangkat 17 Oktober 1983, langit di Tahiti begitu cerah. Ramalan cuaca mengungkapkan bahwa tak akan ada badai sepanjang 31 hari perjalanan mereka menuju tempat tujuan di atas samudera yang akan mereka jelajahi. Mereka pun berangkat dengan keyakinan.

Tami Oldham Ashcraft

Awalnya memang indah. Namun memasuki hari ke-21, tiba-tiba badai menghadang. Yacht terangkat ke puncak gelombang, hingga jatuh berputar dan menghantam air dengan keras. Meski rangkanya tetap utuh, yacht itu mesinnya rusak. Tiang layarnya patah, dan peralatan elektroniknya tak berfungsi. Tami sendiri pingsan dan waktu siuman ia tak menemukan Richard—yang mungkin terlempar ke laut.

Dalam kesendirian di tengah yacht yang berantakan, ia mencoba mencari Richard. Setelah tak berhasil menemukannya, ia duduk merenung. Tdak ada pilihan, ia pun berusaha memperbaiki layar yang sudah robek dan memancangkan tiangnya kembali. Lalu, ia pun berusaha sendiri menggerakkan yacht itu ke suatu tempat, berpatokan arah matahari.

Tami melakukan perjalanan itu selama 41 hari dengan hanya memakan selai kacang yang tersisa di kapal. Tidak ada pesawat dan kapal yang datang menolong. Ia sampai putus asa. Namun selalu ada suara yang muncul dari dalam lubuk hatinya yang mendorongnya agar meneruskan perjalanan. “Kadang seperti suara ibu saya, kadang seperti suara ayah saya, kadang suara saya sendiri,” tuturnya.

Akhirnya pada 16 Desember 1983 ia merapat di Pelabuhan Hilo, Hawaii, dan ditolong oleh penjaga pelabuhan yang sedang berpatroli. Saat itu badannya sudah susut sebanyak 20 kg. Tami menuliskan pengalamannya ini dalam buku Red Sky in The Mourning. Film berdasarkan kisah nyata Tami pun, Adrift, siap rilis pada Juni 2018.

4. Juliane Koepcke

Suatu ketika, Julianne Koepcke, seorang remaja putri Jerman berusia 17 tahun, ingin mengunjungi ayahnya di Peru. Ditemani ibunya, mereka menumpang pesawat LANSA bernomor penerbangan 508 menuju Peru pada 24 Desember 1971.

Ketika berada di atas hutan menjelang pendaratan, pesawat yang mereka tumpangi tersambar petir, menukik tajam ke hutan dan pecah. Juliane terpental keluar dari badan pesawat yang terbelah dalam kondisi masih terikat di kursinya, lalu jatuh ke pepohonan. Tulang selangkanya patah dan satu matanya menjadi buta.

Untuk beberapa lama, ia hanya mengerang kesakitan. Setelah itu, Juliane mendekati reruntuhan pesawat untuk mencari ibunya. Namun ternyata, hanya Juliane satu-satunya korban yang selamat dari kecelakaan naas itu.

Juliane lantas mencari pertolongan sendiri dengan menyusuri sungai, dengan keyakinan di hilirnya pasti ada perumahan penduduk yang akan memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber kehidupan. Baru pada hari ke-9, ia bertemu penduduk Peru yang kemudian memberinya pertolongan.

Koepcke saat kembali ke reruntuhan, untuk keperluan pembuatan film dokumenter.

Juliane melanjutkan sekolahnya di Jerman dan meraih gelah PhD di bidang zoologi. Seperti ayahnya, ia berhasil menjadi seorang zoologist. Tepatnya, seorang ahli mamalia di Jerman dengan nama Dr. Juliane Diller. Buku kisah yang dramatis tentang perjuangan hidupnya itu telah diterbitkan di negara asalnya.

5. Wenseslao Moguel

Revolusi Meksiko memakan banyak korban. Dan hampir saja bertambah satu lagi ketika pemerintah di bawah kekuasaan Presiden Porfino Diaz menangkap seorang pemuda bernama Wenseslao Moguel pada 18 Maret 1915. Ia dianggap melakukan pelanggaran hukum hingga harus dieksekusi hukuman mati di hadapan juru tembak.

Hari eksekusi tiba dan Wenseslao sudah siap menerima rentetan tembakan. Ia berdiri tanpa tiang pancang. Akhirnya sembilan tembakan menembus tubuhnya. Wenseslao tersungkur. Seorang algojo ternyata tak puas. Ia menghampiri pemuda tak berdaya itu dan menembak wajahnya untuk meyakinkan agar dia mati.

Kesepuluh algojo itu pun pergi. Wenseslao dibiarkan tergeletak. Ternyata pemuda itu belum mati. Ia hanya pura-pura mati sampai juru tembak itu pergi. Setelah algojo pergi, Wenseslao merangkak mencari pertolongan dan akhirnya selamat meski terluka parah.

Wenseslao (1937), ketika diwawancara untuk program radio “Ripley’s Believe It or Not”

Sungguh sebuah keajaiban bisa selamat dari rentetan tembakan sebanyak itu. Dan keberhasilannya luput dari hukuman mati itu membuatnya jadi pembicaraan pascarevolusi. Pengalamannya ditembak mati namun selamat itu menjadi pembicaraan orang. Ia pun berbagi kisah pengalaman hidup dan mendapat julukan El Fusilado/Sang Tereksekusi.

Cerita Wenseslao ini menginspirasi banyak orang. Bahwa jika belum waktunya meninggalkan dunia ini, sepuluh algojo yang menembak pun tak cukup untuk membuat seseorang mati. Yang penting dilakukan adalah mengisi kehidupan dengan baik dan berkontribusi positif bagi sekitar kita.

Spread the love

Leave a Comment