Chinese Wisdom
2789x352-no1

Kasus Unik untuk Hakim Bijaksana

hand-dropping-coins

Alkisah pada zaman dulu di Tiongkok kuno, dikenal seorang hakim sebuah daerah kecil di pinggir kerajaan yang sangat adil dan bijaksana. Dalam memutuskan sebuah perkara, hampir bisa dipastikan, tak ada satu orang pun yang tak puas oleh ketokan palunya. Bahkan, untuk kasus-kasus yang terkenal rumit, ia bisa memutus tanpa mengurangi hak orang yang tertimpa kasus, baik yang menang ataupun yang dihukum.

Mendengar kebijaksanaan dan ketegasan sang hakim, raja di pusat kerajaan pun penasaran. Ia ingin menguji apakah berita tersebut benar adanya. Maka, tanpa diketahui banyak orang, ia menyuruh dua orang kepercayaannya untuk mendatangi sang hakim, guna mengadukan sebuah masalah.

Di sebuah sidang, salah satu orang kepercayaan raja tersebut mengadu bahwa orang satunya telah mencuri sesuatu darinya. “Wahai hakim, orang ini sudah mencuri dari hamba. Ia harus dihukum,” adunya.

“Apa benda yang dicuri darimu?” tanya hakim.
“Ia sudah ikut menikmati lezatnya makanan hamba,” serunya.

Orang satunya pun mengelak. “Tidak Paduka hakim. Saya tidak mencuri. Saya hanya ikut menikmati bau wangi dari asap bakaran hewan buruan yang ia bakar. Memang, baunya sangat wangi sehingga saya tak tahan untuk tidak menikmati bau tersebut.”

“Nah, terbukti kan? Ia sudah mencuri apa yang tidak dimilikinya. Ia harus dihukum Paduka.”

Sang hakim tampak tersenyum mendengar kasus unik itu. Ia pun lantas berpikir sejenak. Namun, tak lama kemudian, sang hakim seperti sudah menemukan titik terang. Ia pun bertanya. “Wahai orang yang merasa tercuri kelezatan makanan, orang ini memang bersalah. Apa yang kau tuntut darinya?”

“Saya ingin ia didenda. Ia harus membayar untuk pencurian yang dilakukannya!”

“Baiklah,” seru sang hakim. “Karena itu, aku putuskan kamu yang mencuri bau wangi kelezatan makanan orang lain tanpa seizin pemiliknya harus didenda.”

“Tapi Paduka! Saya hanya menikmati baunya saja. Saya tidak mencuri apa pun. Lagipula asap itu juga pasti nantinya terbuang sia-sia ke langit,” bela orang yang jadi terdakwa.

Sang hakim tampak tersenyum. “Kamu memang bersalah karena ikut menikmati kelezatan makanan, meski hanya dari asap yang tercium. Karena itu, aku akan menghukum kamu dengan sejumlah denda. Sekarang, keluarkan uang receh yang kamu miliki untuk membayar kerugian dirinya.”

Meski tampak kesal, karena masih merasa tak bersalah, di depan hakim, orang itu pun terpaksa mengeluarkan sejumlah uang receh yang dimilikinya. Sang hakim lantas bertanya. “Wahai orang yang merasa tercuri kelezatan makanan, apakah uang sejumlah yang dikeluarkan orang tersebut cukup untuk membayar kerugianmu?”

“Cukup paduka,” jawab orang itu senang.
“Nah, kalau cukup, sekarang tolong ambilkan mangkuk. Lantas, wahai orang yang mencuri, jatuhkanlah uang receh itu ke dalam mangkuk.”

“Cring… cring… cring…,” suara uang receh koin perak itu pun terdengar nyaring di ruang pengadilan.
“Apakah kamu mendengar uang receh itu terjatuh di mangkuk?” tanya hakim pada orang yang meminta ganti rugi.

“Iya Paduka,” akunya.
“Nah, karena kamu tadi menjawab uang tersebut cukup untuk membayar kerugianmu, berarti suara gemerincing uang koin tadi sudah sah untuk membayar kerugianmu. Sebab, sesungguhnya, si orang tadi tak hendak mencuri darimu. Bahkan, kamu sendiri sebenarnya pasti juga tak merasa tercuri karena tak ada barang yang hilang darimu kecuali apa yang kamu sebut kelezatan dari asap yang ditimbulkan. Karena itu, demi keadilan, aku pun menjatuhkan denda kepada orang ini untuk memperdengarkan gemerincing uang yang sepadan dengan asap yang juga kamu buang,” terang sang hakim.

Mendengar itu semua, sebuah tepukan tangan muncul dari dalam ruangan sidang. Seorang yang dari tadi memperhatikan pengadilan itu—yang ternyata adalah raja yang menyamar—menyadari betapa memang sang hakim sangat mengerti nilai keadilan yang sesungguhnya. Sang Raja pun membuka penyamarannya dan menyapa sang hakim. “Wahai hakim yang sangat bijak, dari mana nilai kebijaksanaan yang kamu miliki? Sungguh beruntung negeri ini jika semua hakim bisa sepertimu.”

Sang hakim yang tak mengira semua itu hanyalah sebuah ujian itu pun menjawab. “Ampun Baginda. Saya belajar itu semua dari keluarga hamba. Sedari kecil, hamba dididik untuk tak membeda-bedakan siapa pun. Nilai kejujuran dan keadilan selalu di atas segalanya. Dan, setelah berkeluarga pun, hingga saat ini saya selalu dan akan tetap menjadikan keluarga sebagai bagian dari tugas ini. Hamba tak ingin memberi nafkah keluarga dari hal yang tak benar. Karena itu, sebisa mungkin, hamba akan mencari titik paling benar, adil, dan memuaskan semua pihak dalam setiap perkara. Apa pun yang saya lakukan di meja pengadilan ini, harus memikirkan bagaimana saya sebagai orangtua bisa menjadi teladan yang baik untuk kehidupan.”

Dear Readers,

Ibarat sebuah pancaran energi, aura positif yang berasal dari keluarga akan memberikan pencerahan—dalam berbagai profesi, bukan hanya hakim—sehingga setiap yang dilakukan dapat membawa kebaikan.

Mari, jaga hubungan baik dalam keluarga. Jadikan keluarga sebagai “tempat kembali” yang paling nyaman, menyenangkan, dan membahagiakan. Sehingga, apa pun profesi yang kita jalankan, selalu memiliki nilai keindahan yang membawa kesejahteraan dan keberkahan.

2789x352-no2

Your comment

advertise-your-business_4-500x500
luar-biasa-500x500-1
qotd_stars_500x500