Profile
2789x352-no1

Diskon Itu Bisnis Menggiurkan

MasonP

Andrew Mason, menggagas website yang melayani penawaran kupon diskon untuk berbagai macam produk. Dengan konsep tipping point, website-nya, Groupon, sukses dan menjadi benchmark layanan diskon di dunia.

Siapa yang tak mau belanja dengan mendapat diskon? Tak peduli apakah seseorang dananya berlimpah atau terbatas, diskon akan selalu menarik. Juga tak peduli apakah belanja dengan sistem potong harga itu dilakukan di siang hari bolong atau tengah malam, program itu selalu diserbu.

Sayangnya, program ini tak gampang diikuti oleh semua orang. Penyelenggara biasanya membatasi pembelinya dengan cara memberikan kupon diskon. Bisa melalui pembagian pada calon pembeli potensial atau menyertakan kupon itu pada iklan cetaknya di majalah atau koran yang kelak digunting calon pembeli dan membawanya ke toko penjual barang yang dimaksud.

Andrew Mason, seorang pemuda kelahiran 1980 di Pittsburgg, Amerika Serikat, memiliki pandangan berbeda yang kelak menjadikannya seorang millionaire muda. Dialah pendiri Groupon, website yang menawarkan diskon pada para penggunanya dengan potongan harga 50-90%. “Kuncinya, kami membutuhkan sekelompok orang yang bersama-sama membeli satu jenis barang, setidaknya 150 orang,” ujar Mason. Dengan jumlah peserta sebanyak itu ia bisa memberikan diskon gila-gilaan yang disukai pengguna website-nya.

Ia sebenarnya mengadopsi konsep tipping point di mana penawaran satu produk ditawarkan melalui website untuk menarik para peminat (mereka lalu saling memberitahu pihak lain yang memiliki minat sama sehingga mencapai jumlah pembeli minimal yang dibutuhkan). Konsep inilah yang membuat bisnisnya kini beromset US$ 800 juta (sekitar Rp 7,2 triliun) setahun.

Konsep Sederhana

Tentu saja konsep ini tidak datang dengan tiba-tiba. Ada tahapan pembelajaran baik langsung maupun tidak langsung yang dialaminya. Mason mendapat pembelajaran itu dari bisnis dan karier profesional yang ia jalani sejak remaja. Sehingga ia memiliki penciuman bisnis yang tajam.

Pada usia 15 tahun Mason sudah mencoba berbisnis dengan menjalankan usaha delivery service yang ia namakan Bagel Express. Sambil berbisnis, ia melanjutkan sekolah hingga ke Northwestern University dan lulus tahun 2003. Setelah itu bekerja sebagai web designer di sebuah perusahaan di Chicago. Perusahaan tempatnya bekerja adalah milik Eric Lefkofsky yang antara lain melayani jasa pembuatan paket promosi secara online.

Meskipun ia menyukai pekerjaan itu, Mason harus keluar karena ingin melanjutkan sekolah di University of Chicago’s Harris School of Public Policy melalui program beasiswa. Entah bagaimana saat itu ia mendapat masalah dalam layanan telepon selulernya yang sulit ia pecahkan. Ia merasa, permasalahan seperti ini sulit diatasi mungkin karena ia menghadapinya sendirian. “Saya kira banyak orang yang mengalami hal seperti ini. Jika bersatu pasti akan memiliki kekuatan untuk menghadapi perusahaan seperti itu,” serunya.

Terinspirasi dari kejadian itu, Mason menggagas website untuk menampung mereka yang memiliki masalah atau ide untuk kemudian mengelompokkannya berdasarkan jenis masalah atau idenya yang akan mereka pecahkan atak kerjakan bersama-sama. Mungkin ini mirip forum tetapi dikelola dengan konsep bisnis.

Ternyata ide itu didengar oleh Lefkofsky. Pengusaha ini memang selalu memantau Mason. “Dia anak yang cerdas dan ide-idenya cemerlang,” katanya. Ia kemudian menghubungi Mason dan meminta penjelasan tentang prinsip website-nya itu. Karena tertarik, ia berani memodali Mason dengan investasi US$ 1 juta. “Saya ditantang untuk mengubah konsep ini menjadi business oriented,” begitu kira-kira pikiran Mason.

Lahirnya Groupon

masonP1     groupon

Ia pun bekerja keras membuat website baru yang lebih sesuai dengan tuntutan bisnis. Begitu seriusnya menggarap proyek tersebut, ia sampai gagal menyelesaikan sekolahnya. Namun kerja kerasnya tak sia-sia.  Pada bulan November 2007, The Point, website yang dimaksud, bisa diluncurkan. “Platform web ini memungkinkan orang untuk menulis kampanye mengajak orang lain (untuk melakukan sesuatu atau untuk menyumbang). Penyumbang bisa membuat janji bayar dengan surat utang atau memasukkan nomor kartu kredit mereka di web itu, namun hanya akan ditagih jika target yang telah ditetapkan tercapai,” ujarnya.

Mason mencobanya dengan mengkampanyekan pembuatan dome di Chicago yang berguna sebagai tempat perlindungan warga kota itu jika musim dingin yang menggigit melanda. “Ada beberapa orang yang menjanjikan memberi sumbangan US$ 5.000 atau US$ 10.000,” katanya, menyebutkan efektifitas website-nya. Tak dijelaskan apakah target itu tercapai atau tidak.

Setelah setahun, Lefkofsky memanggil Mason dan memintanya agar proyek itu segera mendatangkan uang. Mason lalu mengemukakan tiga caranya: menjual ruang untuk iklan, mengkoordinir pengumpulan dana, atau menjual sesuatu di dalam web-nya. “Ternyata menjual sesuatu atau barang  lebih menarik,” katanya.

Karena itu ia mencari website yang menjual aneka barang melalui internet untuk dijadikan sebagai contoh yang akan dipelajari. Namun banyak di antara mereka yang gagal. Ada website yang menjual barang-barang konsumsi, seperti televisi dan kamera dengan harga miring. Namun ternyata gagal karena tak bisa bersaing dengan website besar seperti Amazon.

Jika konsep itu diterapkan untuk website-nya, sulit berhasil. Untuk mendapatkan harga diskon bagi satu barang tertentu, pembeli harus menunggu jumlah orang sampai mencapai skala ekonomi sehingga harga diskon bisa didapat. Selain sulit mengumpulkan pembeli dalam jumlah banyak untuk satu item produk, juga memakan waktu. Padahal pembeli bisa mendapatkannya di tempat lain dengan harga murah dan tanpa menunggu begitu lama.

Namun, menurut Mason, konsep itu masih bisa digunakan, dengan syarat tidak menjual barang melainkan menawarkan jasanya saja. Dari sinilah kemudian berdiri Groupon pada bulan November 2008. Website ini melayani konsumennya berdasarkan daerah dan produk. Misalnya Groupon menawarkan tiket nonton suatu film di Music Box Theatre di Chicago untuk hari tertentu dengan harga diskon. Harga diskon akan diberikan jika jumlah peminat mencapai batas minimal yang dibutuhkan. Jika sudah tercapai, si pembeli akan dikirimi kupon diskon yang harus mereka bawa saat membeli tiket di  Music Box Theatre tempat pemutaran film.

Ternyata konsep ini berkembang dan bisa diterima pasar. Dalam waktu setengah tahun Groupon sudah harus merekrut banyak orang. Dari hanya puluhan orang di awal berdirinya, enam bulan kemudian harus mempekerjakan sekitar 350 orang. Berbagai layanan pun diberikan mulai dari layanan penjualan karcis pertunjukan hingga penjualan produk-produk pertanian. Menurut Mason, pihaknya pernah menjual 14 ribu tiket dengan harga US$ 6 dari seharusnya US$ 11 per tiket.

Kini Groupon sudah berkembang hingga beroperasi di 20-an negara, termasuk Indonesia. Sukses itu pun akhirnya melahirkan website-website sejenis yang meniru konsepnya.

Luar biasa!

 

2789x352-no2

Comments

  1. Suratmadji says:

    Pengin mendapatkan info lebih banyak tentang groupon, terimakasih

Your comment

advertise-your-business_4-500x500
luar-biasa-500x500-1
qotd_stars_500x500