Profile
2789x352-no1

Daniel Fahrenheit: Ilmuwan Ternama yang Awalnya Pedagang

Daniel Fahrenheit

Jika kecintaan pada sesuatu hal harus dikesampingkan karena keterpaksaan, maka maksimalkan kesempatan penggantinya. Pelan tapi pasti, ”cinta lama” akan kembali dalam bentuk yang barangkali berbeda. Hal ini persis seperti yang dialami oleh ilmuwan kenamaan Eropa, Daniel Gabriel Fahrenheit, pada masa remajanya.

Fahrenheit meski lahir di Polandia pada 24 Mei 1686, namun ia dibesarkan di beberapa negara Eropa. Darah yang mengalir dalam dirinya sebenarnya adalah darah Jerman dari ayah dan darah Polandia dari ibu. Kedua orangtuanya merupakan keluarga pedagang. Kakek Fahrenheit dari ayah datang ke Danzig (Jerman) pada tahun 1650. Anaknya (Daniel Fahrenheit, ayah Daniel Gabriel Fahrenheit) menikahi Concordia Schumann, putri pedagang kenamaan asal Polandia yang telah lama tinggal di Danzig sehingga keluarga ini benar-benar keluarga pedagang.

Namun Fahrenheit punya minat berbeda. Sejak kecil ia sangat tertarik pada bidang ilmu alam. Akan tetapi sejak orangtuanya meninggal karena keracunan jamur pada 14 Agustus 1701, ia harus belajar berdagang. Saat itu usianya menginjak 15 tahun. Meski begitu, ia masih punya waktu untuk belajar dan melakukan eksperimen-eksperimen mengenai banyak hal.

Pada tahun 1717, ia pergi ke Jerman mengarungi kota Berlin, Halle, Leipzig, dan Dresden, hingga ke Copenhagen (Denmark). Pada periode ini ia bertemu sejumlah ilmuwan seperti Ole Rømer, Christian Wolff, dan Gottfried Leibniz. Pertemuan-pertemuan itu menguatkan kecintaannya pada ilmu alam yang terus berkembang selama ia berdagang.

Fahrenheit lalu tinggal di The Hague (Belanda) dan menjalani profesinya sebagai pembuat tabung kaca untuk barometer, altimeter, dan termometer. Setahun kemudian ia melanjutkan sekolah di bidang kimia di Amsterdam.

Pada tahun 1720, setelah melakukan berbagai penelitian, Fahrenheit menemukan bahwa penggunaan air raksa dalam pembuatan alat pengukuran suhu akan menjamin keakuratan. Dari sinilah ia membuat termometer dengan skala yang ia ciptakan. Derajat suhu yang digunakan dalam termometer tersebut kemudian diberi nama Fahrenheit, sesuai namanya.

Ada banyak versi bagaimana Fahrenheit menentukan skala temperaturnya. Salah satunya adalah, dia membagi skala termometernya menjadi 12 divisi, dan kemudian masing-masing 12 divisi itu ia bagi lagi menjadi 8 sub-divisi. Pembagian ini menghasilkan skala 96 derajat. Angka 96 derajat itu mengacu pada suhu normal tubuh manusia. Namun sekarang suhu manusia ditentukan sebesar 98,6 derajat Fahrenheit. Sedangkan titik beku air berdasarkan skalanya ditentukan sebesar 32 derajat Fahrenheit dan titik didihnya 212 derajat, atau berbeda 180 derajat.

Skala Fahrenheit merupakan salah satu ukuran suhu yang paling banyak digunakan di dunia. Eropa dan Amerika lebih banyak menggunakan skala ini, sedangkan di kawasan lain, seperti di Indonesia, lebih banyak menggunakan skala Celcius.

Untuk mengonversi skala Fahrenheit ke Celcius tinggal gunakan rumus  F = (F-32)/1,8. Misalnya titik didih air 212 derajat Fahrenheit = (212 – 32) : 1,8 = 100 derajat Celcius. Karena itu meskipun beberapa negara menggunakan standar skala temperatur berbeda selalu bisa dikonversi dengan standar yang umum digunakan di negara setempat.

Sekarang dunia mengenal Fahrenheit sebagai salah satu ilmuwan kenamaan di bidang ilmu alam. Fondasi keilmuannya tertanam setidaknya dalam penggunaan skala pengukuran suhu itu. Ternyata meski minatnya pada ilmu alam terhenti karena keadaan sehingga ia nyasar menjadi pedagang, dengan semangatnya yang tinggi, pelan-pelan ia bisa menekuni hobinya itu sampai menjadi salah seorang penemu yang diakui dunia.

Luar biasa!

 

2789x352-no2

Your comment

advertise-your-business_4-500x500
luar-biasa-500x500-1
qotd_stars_500x500