Kamis, 10-Januari-2008; 11:16:16 WIB
Permennya Lupa Dimakan ( 0 Komentar )
Rating Artikel :      Oleh : nathalia sunaidi
Alkisah
ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah
permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang
beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama.
Uniknya,
di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang
berwarni-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti
berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk
mengambil dan menikmati kelezatan mereka.
Bob
sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil.
Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat
jalannya supaya bisa mengambil permen lolipop lainnya yang terlihat
sangat banyak didepannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop
yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan
permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak
pernah habis maka ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua
permen yang dilihatnya.
Tanpa
terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat
gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen
lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar.
Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah
permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang
rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai
rasa mangga? Itu juga sangat lezat." Bob terdiam mendengar pertanyaan
lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah
berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang
terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya
merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki itu, "Permennya
saya lupa makan!"
Tak
berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.
"Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi
kamu sudah sangat jauh di depan saya." "Kenapa kamu memanggil saya?"
tanya Bob. "Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur
bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah,
indah sekali!" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob. "Lalu tadi ada
seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya
beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan
dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama." Bib
menambahkan.
Mendengar
cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari
lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan
permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya
waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan
semua permen itu ke dalam tas karungnya.
Di
akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal
dan ia bergumam kepada dirinya sendiri, "Perjalanan ini bukan tentang
berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan. Tapi tentang bagaimana
saya menikmatinya dengan berbagi dan berbahagia." Ia pun berkata dalam
hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali." Perjalanan di lembah lolipop
sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.
Dalam
kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita
lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita
menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen
tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.
Pernahkan
Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya
tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka
menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah
menikah... nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada saat
suami saya lebih mencintai saya... nanti pada saat saya telah meraih
semua impian saya... nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "
Pemikiran
‘nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat ‘sekarang'.
Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang
masa ‘nanti' bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut,
ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini
untuk masa ‘nanti' bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat
tapi rasanya tidak pernah sampai di masa ‘nanti' bahagia itu. Ritme
hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai,
yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu... tetap
semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.
Uniknya,
pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk
menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita
mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama
keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan
beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; terasa hidup menjadi
lebih indah.
Jika
saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran;
memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari
setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah
anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas maka kita akan
menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa
disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang
ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa
kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati
perjalanannya di lembah permen lolipop.
|