|
|||
|
Penulis : adjie
Minggu, 30-Desember-2007
Apa sesungguhnya anugerah, bakat-bakat dan kekuatan kita ?Pernah memikirkan pertanyaan di atas ? Syukurlah kalau sudah. Kalaupun belum pernah, maka paling tidak saat membaca coretan ini, maka Anda sedang diingatkankembali untuk memikirkan pertanyaan di atas. Tentu tak saja, pertanyaan di atas diangkat tak semata untuk jadi bahan pemikiran, lalu berhenti di dalam pikiran. Ada harapan lebih jauh agar pertanyaan di atasbisa tak hanya membuat Anda diam sejenak. Harapan lebih jauhnya adalah membuatAnda terusik, menjadi tak nyaman, seperti merasakan tak nyamannya selilit di sela gigi usai makan malam Anda. Usaimembuat Anda tak nyaman, maka semoga pertanyaan di atas juga menggerakkan Anda untuk melakukan sesuatu, apapun itu. Ketika ini bisa terwujud, maka pesan penting pertanyaan di atas sungguh sudah sampai.Jenis pertanyaan yang menggerakkan inilah yang saya suka. Saya sering menyebutnya sebagai empowering questions atau resilient question ! Tapi memang tak penting sekedar memberi sebutanatas jenis pertanyaan di atas. Jauh lebih penting adalah sungguh mendapatkan manfaat darinya. Ia baru sungguh menjadi pertanyaan yang memberdayakan kalau jelas dengannya kita sungguh bergerak untuk makin memberdaya diri. Jenis tanya di atas akan sungguh menjadi pertanyaan yang membangkitkan kalau Anda sungguh bangkit dari diam Anda dan bergerak melakukan sesuatu. Sayangnya, itu memang tak mudah dilakukan. Walau tampak sederhana, saat membacanya kembali saya sempat terdiam dan malu sendiri. Saya terdiam, karena tiba-tiba saja berlintasan banyak hal seputar pertanyaan itu.Saya juga tertawa sendiri, karena tiba-tiba ingatan saya melayang pada sejumlah gambar saat saya memfasilitasi banyak pelatihan. Tentu saya tertawa kecut. Betapa tidak, pada banyak kesempatan menjadi fasilitator pelatihan maka sudah tak terhitung saya berulang kali mengingatkan banyak kawan-kawan peserta pelatihan untuk menggali dan mengenali kekuatan dan kelebihan kita. Juga dalam posisi sebagai praktisi bidang rekrutmen, saya sering bertanya pada banyak kandidat tentang bagaimana mereka melihat kelebihan dan kekuatan mereka. Terutamapada peserta pelatihan, saya mengingatkan arti penting pemahaman diri yang lebih komprehensif itu. Dengan mengenali kekuatan dan kelemahan diri, maka kita akan makin mudah mengarahkan sumber daya yang ada, menjadikannya alat untuk mengejar apa yang kita mau. Mengenali kelebihan diri akan membantu kita untuk memikirkan cara terbaik memanfaatkan kelebihan yang ada untuk menggapai cita-cita. Mengenali kekurangan tentu juga ada manfaatnya. Paling tidak kita jadi tersadar apa saja pekerjaan rumah yang harus segera digarap agar kita berkembang makin optimal. Mengetahui kekurangan tak harus menjebak kita menjadi lupa pada apa yang jadi kelebihan. Justru dengan menyeimbangkan pemahaman tentang kelebihan dan kekurangan yang ada, maka kita menjadi lebih adil dalam melihat dan menilai diri sendiri. Anda bisa percaya diri sekaligus mengembangkan sikap rendah hati. Anda percaya diri dengan segala kekuatan dan kelebihan. Namun tetap rendah hati demi menyadari bahwa pada akhirnya toh kita masih punya sisi gelap yang jadi kekurangan Wacana akhir-akhir ini memang banyak mengulas isu di atas, terutama terkait denganke arah mana fokus perhatian hendak di arahkan. Yangutama tentu munculnya pandangan ahli yang coba mengedepankan gagasan tentang berfokus pada kelebihan. Inigagasan luar biasa, sebagaimana dikembangkan dengan pendekatan appreciative inquiry.Namun saya memang tak hendak membuat dikotomi mendukung satu pandangan tertentu. Yang hendak saya angkat lebih pada kepentingan praktis tentang bagaimana kita menjawab tanya di atas, yang lalu dengannya kita memiliki landasan yang kuat untuk terus bergerak mengejar yang kita mau. Terhadap pertanyaan di atas, sedikit banyak dari kita tentu sudah tahu jawabannya. Sayapun merasa sudah tahu kelebihan dan kekurangan saya, walau tak sedikit kawan-kawan yang sering bingung ketika ditanya dengan tanya di atas. Persoalannya adalah apakah saya SUNGGUH tahu apa kelebihan dan kekuatan yang ada ? Repot, kalau saya hanya merasa sudah tahu, namun tak sungguh tahu. Walau pada saat yang sama kita juga bisa mempertanyakan apakah kita sungguh sudah tahu terhadap apa-apayang kita sudah tahu itu. Mengkritisi pandangan dan pemahaman kita adalah salah satu cara agar kita sungguh sadar akan apa yang kita pahami dan yakini. Mungkin karena selama ini saya hanya merasatahu, maka kemudian saya belum berhasil menggerakkan segalayang ada untuk kepentingan pengembangan diri saya. Mungkin karena saya lebih sering sudah merasa tahu, maka saya belum bertumbuh menjadi sebagaimana saya bisa bertumbuh. Pendek kata, pemahaman yang minim membuat saya belum berkembang optimal. Karenanya, membaca kembali pertanyaan di atas membuat saya tersadar, dan menyediakan diri untuk membuat catatan refleksi macam ini. Kepentingannya menjadi jelas, bahwa saya ingin tahu lebih banyak. Saya ingin menggali lebih dalam apa yang sesungguhnya saya punya. Dengan begitu, jelas pula bahwa coretan ini memang lebih banyak untuk kepentingan saya pribadi. Coretan ini adalah karya SUBYEKTIF untuk EGOISME diri.Dengan begitu saya tak hendak melambungkan harapan bahwa orang lain akan belajar banyak dari sini. Mungkin itu memang tak terlalu penting, karena yang utama buat saya adalah merubah diri saya. Toh memang atas diri sendirilah saya punya kendali. Saya tentu tak bisa mengendalikan orang di luar saya.Andalah yang punya kontrol atas ke mana Anda akan bergerak. Lihat betapa dunia kita adalah dunia masing-masing. Dalam sendirilah Anda mengendalikan kehidupan Anda masing-masing. Masuk ke soal untuk sungguh menjawab pertanyaan di atas, nyatanya memang tak mudah bagi saya melakukannya. Ternyata itu bukan pertanyaan kelas teri yang bisa sembarang dijawab sambil lalu, terutama kalau Anda memang sungguh ingin mendapat manfaat. Lain jika Anda memang hanya iseng. Kesulitan dalam menjawab tanya di atasantara lain memang berhubungan dengan tradisi sebagian dari kita yang tak terbiasa berpikir mendalam, melakukan refleksi dan introspeksi. Akhirnya ya seperti sekarang, kita tak banyak tahu kekayaan kita. Karena tak banyak tahu, maka sering kali kita terkejut ketika orang lain yang justru banyak sibukmemanfaatkan apa yang kita punya. Itu palingtidak yang terjadi di tingkatmakro. Karenanya jangan sampai ini menimpa pada soal-soal mikro personal kita.
Kesulitan
lain juga berakar pada soal di mana kita mencampur adukan antara apa
yang sungguh kita punya dengan apa yang ingin kita punya. Kita
mencampur adukkan antara keinginan menjadi sosok tertentu dengan
realita tentang siapa kita sesungguhnya hari ini.Saya juga terjebak dalam kerangkeng macam ini.Saat
memikirkan apa kekuatan saya, mudah sekali saya tergoda untuk justru
membuat daftar tentang hal-hal yang saya ingin saya menjadi seperti
itu.
Ketika
melihat detil, tampaknya yang saya tulis di atas lebih menggambarkan
sosok ideal yang ingin saya kejar. Kenyataan hari ini,hal di atas belum menjadi kekuatan saya. Kekuatan adalah sesuatu yang ada pada diri kita sekarang.
Menyadari kendala seperti di atas, maka sesungguhnya ini menegaskan bahwa kita membutuhkanalat
bantu dan bantuan orang lain untuk memberi informasi lebih mendalam.
Keterlibatan orang lain dibutuhkan, agar kita bisa memperoleh umpan
balik yang seimbang. Masukan orang lainkadang terasa menyakitkan, namun itu tetap diperlukan agar kita punya wawasan lebih kaya. Informasibahwa kita memiliki kekurangan memangtak enak didengar, namun itu penting sebagai bekal kita melangkah kelak. Cimanggis - December 2007 |
|||
|
|||
| ( View : 2179 | Refer : 1 | Print : 196 | Rate : 0.00 / 0 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Tahun Baru, Selalu Ada Harapan Baru (Artikel Anda) - Rabu, 02-Januari-2008 | ||
| • | Memaknai Kompetisi Sebagai Sebuah Pusaran Sinergi (Artikel Anda) - Rabu, 02-Januari-2008 | ||
| • | Menemukan Surga (Artikel Anda) - Kamis, 03-Januari-2008 | ||
| • | Menghadapi Persaingan Di Tempat Kerja (Artikel Anda) - Jumat, 04-Januari-2008 | ||
| • | Jadilah Diri Anda Seutuhnya (Artikel Anda) - Sabtu, 05-Januari-2008 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Pengusaha Berkualitas (Artikel Anda) - Jumat, 28-Desember-2007 | ||
| • | Seni Membangun Hubungan (Artikel Anda) - Kamis, 27-Desember-2007 | ||
| • | Kenali "aku" - Mu (Artikel Anda) - Rabu, 26-Desember-2007 | ||
| • | LifePurpose By Adjie (Artikel Anda) - Sabtu, 22-Desember-2007 | ||
| • | Jenderal Kecil Merasa Jadi Raja (Artikel Anda) - Kamis, 20-Desember-2007 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



