|
|||
|
Penulis : Steven Agustinus
Kamis, 27-Desember-2007
Berbicara tentang membangun hubungan berarti berbicara tentang membangun komunikasi. Dalam berkomunikasi, ada beberapa hal penting yang perlu kita perhatikan, salah satunya adalah pemilihan kata. Jika pemilihan kata yang digunakan keliru, orang yang kita ajak berkomunikasi akan enggan untuk membangun hubungan dengan kita. Ini bukan hanya berlaku dalam ruang lingkup dunia kerja, melainkan seluruh aspek hidup kita.Lalu, selain pemilihan kata, pemilihan intonasi yang tepat juga sangat penting. Meskipun kita mempergunakan kata-kata yang bagus dan menarik, intonasi yang salah akan membuat kata-kata tersebut memiliki arti yang berbeda. Etika dalam membangun hubungan Ada beberapa etika yang perlu diperhatikan dalam membina suatu hubungan. Pertama, pastikan kita mengenali dengan siapa kita sedang berhubungan, karena dengan sendirinya kata-kata dan intonasi yang kita gunakan akan diselaraskan dengan orang yang kita ajak berkomunikasi tersebut. Ketika kita bisa mengenali siapa yang kita ajak berkomunikasi, secara otomatis kemampuan kita untuk membangun hubungan akan meningkat.Etika yang kedua adalah cara kita melakukan pendekatan. Kadang kala ada orang-orang yang ingin langsung akrab ketika pertama kali berkenalan sehingga orang yang diajak bergaul merasa risih (pendekatan dirasa berlebihan).
Akibatnya, kualitas hubungan yang diharapkan tidak akan
terwujud.Yang
ketiga, ketika kita mengajukan pertanyaan atau lontaran, ajukanlah
pertanyaan atau lontaran yang sesuai dengan kualitas hubungan yang
sudah terbangun saat itu. Pertanyaan yang bersifat pribadi yang
dilontarkan kepada orang yang belum terlalu dekat dengan kita dapat
membuat orang yang bersangkutan menarik diri. Ini semua adalah
aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam membangun sebuah hubungan. Kadang kala hal ini tidak terlepas dari faktor pendidikan dan lingkungan di mana orang tersebut dibesarkan. Ada orang-orang tertentu yang celetukan-celetukannya terdengar kasar bagi orang banyak, tapi ia sendiri tidak menyadarinya. Itu sebabnya kita perlu mengembangkan wawasan dan cara berpikir kita. Jangan bergaul dengan orang lain berdasarkan point of view yang kita miliki belaka; kita juga perlu belajar membangun hubungan dengan orang lain dari point of view orang yang bersangkutan.Mungkin kita bisa mengajukan pertanyaan ini kepada diri kita sendiri: "Jika saya melontarkan pernyataan/pertanyaan ini, apakah orang lain akan merasa ‘terganggu/diserang/dilecehkan/dilukai' oleh lontaran saya itu?"
Karenanya,
pastikan kita menjadi orang yang senantiasa terbuka dan mau belajar,
sehingga kita memiliki kerelaan untuk berubah. Tanpa berusaha membangun
hubungan dengan orang lain dari point of view orang yang kita ajak
bergaul, kita tidak akan pernah memiliki kualitas hubungan yang baik
dengan siapapun, karena adakalanya point of view yang kita miliki
keliru atau dangkal. Membuka diri untuk mempelajari kultur yang dianut
oleh masyarakat luas dan banyak membaca (sehingga kosakata kita menjadi
lebih banyak) adalah hal-hal yang sangat penting, karena kedua hal ini
akan menolong kita dalam membangun hubungan. Ini kembali mengacu kepada kemampuan kita untuk bisa mengenali dengan siapa kita sedang berbicara dan berada di level hubungan manakah kita saat ini. Untuk membangun sebuah hubungan dibutuhkan waktu, dan kadang kala ada ‘investasi' tertentu yang perlu kita lakukan.Contoh: Jika kita membangun hubungan pada level formalitas (di mana pembicaraan hanya berkisar mengenai pekerjaan belaka), kita tidak akan pernah bisa menjadi lebih akrab dengan atasan kita. Tapi dengan melakukan investasi waktu atau uang (misalkan kita mengundang atasan untuk makan siang bersama), kita akan mulai dapat bercakap-cakap di luar topik pekerjaan. Perbincangan akan menjadi lebih santai dan bervariasi, sehingga menolong terciptanya sebuah hubungan yang wajar. Dengan berjalannya waktu, kedekatan antara pemimpin dan bawahan akan terbangun secara alamiah.Pada saat yang sama, kita tetap perlu memegang prinsip keprofesionalan kerja. Saya mendapati, kadang kala ketika seorang bawahan sudah mulai dekat dengan atasannya, etika antara bawahan dan atasan cenderung ‘memudar' karena si bawahan mulai menganggap atasannya ‘sepadan' dengan dirinya. Selain itu, seorang bawahan yang mulai dekat dengan atasan biasanya menjadi sulit untuk menerima koreksi atau teguran dari sang pemimpin. Akibatnya, kualitas hubungan yang sudah terbangun justru menjadi rusak karena pemimpin mulai menarik diri ketika bawahannya melanggar batasan etika yang ada.Jika sebagai bawahan kita membangun hubungan dengan pemimpin tanpa motivasi tertentu -kadang kala saya mendapati ada bawahan yang mencoba membangun hubungan dengan atasannya demi kepentingan terselubung-, kualitas hubungan yang kita miliki jauh lebih berarti daripada kualitas hubungan seorang bawahan yang hanya ingin ‘menjilat' pemimpinnya. Ketika kita membangun hubungan dengan tulus sebagai sahabat tanpa meninggalkan etika keprofesionalan kerja, saya percaya kualitas hubungan seperti ini jauh lebih berarti. Itu sebabnya, kita perlu mengenali hingga sejauh mana kita harus membangun hubungan dengan seorang pemimpin dan bagaimana kita bisa tetap menjaga keprofesionalan kerja.
Meski sudah
cukup dekat, kita tetap harus menyadari bahwa -bagaimanapun juga-
seorang pemimpin berhak untuk menegur dan mengoreksi kita ketika ia
menemukan kekurangan atau kesalahan dalam cara kerja kita.Seorang
pemimpin seringkali memiliki mindset yang berbeda dengan seorang
bawahan. Seorang pemimpin juga memiliki keprofesionalan kerja yang jauh
lebih tinggi dari seorang bawahan. Pemimpin selalu menuntut hasil
kerja, sementara bawahan seringkali tidak terlalu memperhatikan hasil
kerja melainkan hak yang bisa mereka dapatkan.
Seringkali kita menganggap apa yang kita lakukan di dalam dan di luar
kantor adalah dua hal yang berbeda. Sesungguhnya hal ini tidak boleh
terjadi, karena kita sedang bergaul dengan seorang pribadi yang sama
dan bukan hanya dengan satu jabatan tertentu. Jika kita bergaul dengan
seorang pribadi, artinya kita harus menghargai orang tersebut karena
keberadaannya, bukan karena posisinya. Demikian pula dengan pemimpin,
ia juga harus menghargai bawahannya sebagai seorang pribadi. Namun jika sifat pendiam tersebut disebabkan oleh kebiasaan, kita perlu memberikan lontaran atau pertanyaan yang menuntut penjelasan dari orang tersebut. Memang hal ini bisa membuat orang yang bersangkutan merasa kurang nyaman, karena orang pendiam biasanya memiliki kesulitan untuk memunculkan isi hatinya dalam wujud kata-kata. Jadi, kunci yang paling utama untuk membangun hubungan dengan orang pendiam adalah menjadi sahabatnya terlebih dahulu -- bisa diterima olehnya tanpa dicurigai melanggar batasan pribadi yang ia miliki. Seorang atasan bisa membangun hubungan dengan bawahannya, bahkan jika usianya lebih muda dari usia bawahannya.
Secara
pribadi, saya banyak membangun hubungan dengan orang-orang yang jauh
lebih tua dari saya. Tapi karena saya memposisikan diri sebagai
pemimpin (dan dia betul-betul melihat saya sebagai seorang pemimpin),
keprofesionalan kerja dapat terjaga dan orang yang bersangkutan tetap
bisa menghargai saya sebagai orang yang memimpin hidupnya dan layak
menerima respek darinya.
menjalin hubungan, integritas adalah hal yang sangat penting, karena
dengan integritas yang terjaga hubungan yang ada akan tetap sehat.
Ketika salah satu pihak gagal menjaga integritas, pihak lainnya akan
merasa dimanipulasi atau dimanfaatkan. Kadang kala memang ada
orang-orang tertentu yang lebih rela mempertaruhkan (bahkan membuang)
integritas demi kesetiakawanan. Satu hal yang pasti, setia kawan tidak
boleh melampaui batasan-batasan kebenaran. Jangan sampai hanya
gara-gara setia kawan, kita justru menghancurkan integritas kita
sendiri. Seorang sahabat yang baik tidak akan menjatuhkan/menjerumuskan
sahabatnya sendiri -apalagi sampai si sahabat kehilangan integritas
hidupnya- karena integritas adalah aspek yang sangat penting dalam
dunia kerja dan dunia profesional. Hidup tanpa integritas tidak ubahnya
tubuh yang cacat. Karena itu, jika Anda mendapati orang yang Anda
anggap sebagai sahabat mulai menuntut Anda untuk meninggalkan
integritas, Anda perlu mempertanyakan kualitas persahabatan Anda dengan
orang tersebut. Jawaban atas kasus ini tidak boleh diberikan kepada satu pihak saja; jawaban ini harus berbicara kepada kedua belah pihak, baik bawahan ataupun atasan. Kita perlu hidup berdasarkan prinsip, yaitu prinsip kebenaran. Sebagai pemimpin, saya mendapati bahwa saat saya menggunakan prinsip kebenaran sebagai patokan standar kerja, ada banyak keuntungan yang dapat saya nikmati. Sebagai bawahan, jika kita hidup berdasarkan prinsip kebenaran, ada banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh. Memang akan selalu ada resiko dalam setiap ucapan, tindakan dan pengambilan keputusan yang kita lakukan. Pertanyaannya, apakah resiko tersebut akan menuntun kita untuk terus naik, atau justru sebaliknya? Apakah resiko yang kita ambil akan memberikan keuntungan jangka panjang, atau hanya keuntungan sesaat? Resiko yang hanya memberi keuntungan sesaat justru akan menjadi bumerang di kemudian hari, yang meruntuhkan semua hasil kerja yang sudah bertahun-tahun dibangun dengan jerih lelah dan keringat. Karena itu, apapun posisi Anda saat ini -- baik sebagai pemimpin maupun karyawan, mari bangun hidup dan pekerjaan kita dalam prinsip kebenaran. Meski tampaknya progresifitas kita tidak sesignifikan orang-orang yang memakai cara-cara kotor, pertumbuhan yang kita alami akan langgeng adanya. Orang yang membangun hidup dan karir dengan cara-cara ‘kotor' akan mendapati -pada satu titik tertentu- semua yang mereka bangun runtuh begitu saja, tetapi kita akan terus melanjutkan perjalanan dengan sejahtera, dan hasil yang kita nikmati permanen sifatnya. Oleh sebab itu, jika pemimpin menyuruh Anda melakukan hal-hal yang melanggar hati nurani, saya menyarankan Anda berbicara kepada pemimpin dan menyampaikan apa yang ada dalam hati Anda. Jangan langgar hati nurani Anda. Resiko dimutasi atau dipecat pasti ada, tapi percayalah, ada banyak pemimpin lain (bahkan perusahaan besar) yang mencari orang yang jujur. Kalau pun kita kehilangan posisi karena kejujuran kita, yakinlah, Tuhan itu adil dan Ia tidak akan tinggal diam.
Kalau saat ini Anda sedang mengalami situasi seperti di
atas, lihatlah ini sebagai ‘masa persiapan' untuk mengalami promosi
yang lebih besar -- sama seperti pegas yang semakin ditekan akan
semakin melompat tinggi. Saya percaya itulah yang akan terjadi atas
orang yang membangun hidup di atas dasar kebenaran. Jangan pernah
mengkompromikan integritas, dan jangan pernah kompromikan kebenaran.
Semakin banyak kita
berteman, semakin banyak kita membangun hubungan dengan orang lain
(dalam kualitas yang lebih baik dari biasanya), kesempatan untuk meraih
kesuksesan juga semakin besar. Karenanya, jangan pernah membatasi diri;
bukalah hati Anda selebar-lebarnya dan milikilah sahabat sebanyak
mungkin. Pastikan Anda menjadi sahabat bagi banyak orang, karena dengan
demikian akan ada banyak orang yang menjadi sahabat bagi Anda. Sahabat
akan selalu menjadi orang pertama yang menolong kita ketika kita
membutuhkannya. |
|||
|
|||
| ( View : 6540 | Refer : 2 | Print : 1096 | Rate : 0.00 / 0 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Pengusaha Berkualitas (Artikel Anda) - Jumat, 28-Desember-2007 | ||
| • | What Are My Talents And Strengths ?By Adjie (Artikel Anda) - Minggu, 30-Desember-2007 | ||
| • | Tahun Baru, Selalu Ada Harapan Baru (Artikel Anda) - Rabu, 02-Januari-2008 | ||
| • | Memaknai Kompetisi Sebagai Sebuah Pusaran Sinergi (Artikel Anda) - Rabu, 02-Januari-2008 | ||
| • | Menemukan Surga (Artikel Anda) - Kamis, 03-Januari-2008 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Kenali "aku" - Mu (Artikel Anda) - Rabu, 26-Desember-2007 | ||
| • | LifePurpose By Adjie (Artikel Anda) - Sabtu, 22-Desember-2007 | ||
| • | Jenderal Kecil Merasa Jadi Raja (Artikel Anda) - Kamis, 20-Desember-2007 | ||
| • | Pentingnya Penghargaan Diri (Artikel Anda) - Rabu, 19-Desember-2007 | ||
| • | Perencanaan Untuk Meraih Sukses (Artikel Anda) - Selasa, 18-Desember-2007 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



