Jumat, 14-Desember-2007; 09:01:30 WIB
Kutu Loncat ( 0 Komentar )
Rating Artikel :      Oleh : Afra Mayriani
Save page as PDF
"Nothing is too high for a man to reach, but he
must climb with care and confidence."
Hans Christian Andersen"I have missed more than 9000 shots
in my career. I have lost almost 300 games. On 26 occasions I have been
entrusted to take the game winning shot . . . and missed. And I have failed
over and over and over again in my life. And that is why . . . I succeed."Michael
Jordan
"Kutu loncat" dalam urusan karir sering didefinisikan sebagai
seseorang yang sering berpindah-pindah pekerjaan. Kalau saya menyebutnya dengan
istilah "nomaden". Biasanya, kegiatan berpindah perusahaan ini dilakukan dalam
rentang waktu kerja satu sampai lima
tahun sekali. Namun, tidak jarang karyawan yang masa kerjanya belum memasuki
satu tahun, telah memutuskan untuk keluar dan pindah ke perusahaan lain. Para
"kutu loncat" ini sebenarnya bukanlah kategori karyawan yang tidak
berkompetensi. Justru kebanyakan dari mereka adalah para pelaku professional
yang memiliki kompetensi dan kualitas sangat bagus. Mungkin Anda akan
bertanya-tanya, jika memang sudah memiliki karir bagus, gaji dan benefit bagus,
lalu apa sih yang mereka cari sesungguhnya. Kenapa meresikokan perjalanan karir
mereka untuk suatu tujuan yang sebenarnya mereka sudah dapatkan disuatu
perusahaan. Jawabannya sangatlah simpel, yakni sebuah tantangan. Tantangan
untuk terus maju dan mengembangkan diri sejalan dengan lajunya aspek-aspek
dalam dunia ini. Tentu saja dibarengi dengan kompensasi lain yang sangat
menunjang dan menggiurkan, seperti benefit dan posisi yang lebih tinggi atau
menjanjikan.
Tika Bisono, misalnya, ia
menjadikan sifat berpindah perusahaan ini sebagai salah satu strateginya dalam
berkarir. "Saya selalu melihat semua
pekerjaan itu ada aspek psikologinya. Semua hal yang saya geluti selalu baru
tetapi tidak kehilangan hubungan dengan psikologi, itu merupakan syarat utama
saya. Saya merencanakan ini sebenarnya sejak lulus S1, tahun 1985. Rencana saya
adalah saat itu saya masih berusia 24 tahun, saya menghitung enam tahun, hingga
usia 30 tahun itu adalah proses belajar di perusahaan sambil berjualan
kompetensi. Dan perusahaan yang saya masuki itu harus MNC untuk mengejar relasi
di tingkat internasional juga. Usia 30-40 itu harus yang mulai naik, start
doing-doing something." (dikutip dari Human Capital no.10 th 2005).
Selain Tika, ada pula Daniel Rembeth, seorang tokoh periklanan yang
mulai menapaki karirnya dari agency ke agency lain, seperti Matari, BBDO,
AdWork, kemudian menjabat sebagai Managing Director di TCPTBWA. Kini ia meraih
kesuksesannya sebagai pemimpin perusahaan The Jakarta Post.
Dan, contoh lainnya, adalah Budi Hamidjaja. Yaitu pemilik dari bisnis
restoran siap saja California Fried Chicken (CFC). Ia memulai karirnya dengan
bekerja di Rothmans of Pall Mall Australia, kemudian oleh perusahaan yang sama
ia dikirim ke Indonesia menjadi National Sales Training Manager, sebelum
akhirnya ia meloncat ke Philip Morris Asia, Inc sebagai Sales Operation Manager
hingga menduduki jabatan Field Operation Manager di perusahaan yang sama. Tidak
sampai disitu, perjalanan karirnya diteruskan dengan bergabung di PT. Lippoland
Development, lalu PT. Putra Surya Perkasa hingga pada akhirnya ia mendirikan
PT. Pioneerindo Gourment, Tbk.
Demikian pula dengan 15 orang yang pernah saya survey,
kebanyakan dari mereka berpindah kerja dalam kurun waktu satu sampai dua tahun.
Ada pula diantaranya, Rio,
yang bekerja di perusahaan telekomunikasi. Ia telah berpindah sebanyak 11 kali
dalam rentang 10 tahun karirnya. Masa kerja terlamanya dihabiskan hanya dalam
waktu enam tahun, sisanya ia selalu berpindah-pindah setiap satu sampai dua
tahun sekali. Rio pernah bekerja di pembiayaan kendaraan
bermotor, perusahaan otomotif, juga tak ketinggalan pengalamannya di salah satu
Bank swasta. Sampai ia pernah menggeluti dunia pertelevisian di negeri ini
selama 6 tahun. Dan, merupakan rekor terlamanya dari seluruh perusahaan yang
pernah ia singgahi, yang rata-rata paling lama 3 tahun.Lalu apa sih sebenarnya
yang menjadi pemicu para karyawan sehingga menjadi "kutu loncat" selain yang
sudah saya sebutkan diatas tadi?Sesungguhnya ada banyak pemicu, yang
menyebabkan seseorang menjalani profesi pekerjaan dengan menjadi kutu loncat.
Mulai dari alasan secara umum hingga spesifik, yang dihadapi oleh setiap
individu masing-masing karyawan. Biasanya, secara umum yaitu masalah gaji, dan
hal ini sering menjadi tolok ukur utama dari para karyawan untuk berpindah
mencari pekerjaan di perusahaan lain. Dengan berpindah perusahaan, diharapkan
dapat meningkatkan gaji mereka. Tetapi, yang menarik disini, adalah persoalan
kenaikan gaji ini, tidak melulu dibarengi dengan kenaikan posisi dari
perusahaan yang lama. Seperti pengalaman Rio misalnya,
ia telah berpindah perusahaan belasan kali, namun itu juga tidak membawanya
menduduki posisi yang lumayan tinggi saat ini. Namun, dilain pihak, bila
dilihat kembali dari goal awal yang ia tetapkan pada dirinya sendiri
sejak memulai karirnya, bahwa posisi tidak begitu penting, "yang penting bagi
saya adalah penghasilan dan benefit yang bagus terutama karena saya telah
berkeluarga," jelasnya pada saya suatu ketika.Mungkin ada diantara Anda, para
profesional, yang memiliki tujuan sama dengan Rio. Adapula yang tidak. Karena,
banyak juga para profesional mentargetkan diri mereka sendiri dalam waktu 5
tahun kedepan telah mencapai posisi manajerial yang mapan disebuah perusahaan
besar dan maju. Rudy misalnya, dalam usianya yang tergolong masih muda, yakni
35 tahun, ia telah mencapai puncak karirnya sebagai seorang General Manajer di
perusahaan multinasional terkemuka di Jakarta. Lalu apa yang membedakan Rio
dengan Rudy atau dengan para profesional lainnya yang memiliki keunikan sama
yakni sebagai kutu loncat? Ya, masing-masing memiliki goal (tujuan) yang
dijadikan target utama. Terlepas apakah itu permasalahan gaji saja, atau posisi
di sebuah perusahaan, atau justru tidak menutup kemungkinan kedua-duanya.Kutu
loncat yang handal biasanya sudah memiliki rencana yang matang akan jalur
kehidupan karirnya. Hal itu adalah memposisikan target. Dimana, membuat target
untuk diri kita sendiri mungkin akan lebih baik dilakukan sejak darimula.
Karena semakin kita matang saat merumuskan urusan goal tadi, maka kita
akan semakin fokus dalam usaha meraihnya.Apakah kunci menjadi kutu loncat yang
sukses hanya sebatas perumusan tujuan saja? Tentu saja tidak, karena selain hal
tersebut, yang tidak kalah pentingnya adalah mengetahui dengan pasti apa yang
menjadi keunggulan diri kita sendiri. Apa keunggulan Anda? Karena setiap orang
memiliki keunggulannya masing-masing. Dan, hal itu dapat dijadikan salah satu
bentuk nilai fight Anda sendiri dalam dunia karir.Jika Anda hanya
memiliki goal saja, namun masih bingung terhadap keunggulan yang Anda
miliki, pada akhirnya yang dirugikan ya Anda sendiri. Pekerjaan Anda menjadi
tidak terarah, dan menjadi kurang maksimal mengerahkan segala kemampuan Anda
tersebut. Sayang bukan? Bagaimana menurut Anda?Saya sendiri contohnya. Dari
sejak mula saya telah jatuh cinta dengan dunia periklanan dan desain. Sayapun
bercita-cita menjadi seorang profesional dibidang yang sangat saya "gilai" ini.
Menjadi inovatif dan produktif adalah impian saya.Sayapun akhirnya memulai
karir saya di bidang periklanan. Tapi, sayangnya ditengah jalan, karena
terdesak berbagai hal, akhirnya saya membelokkan sedikit bidang pekerjaan saya.
Sayapun pindah ke perusahaan yang bergerak di media luar ruang. Tidak sampai
disitu, saya kini justru kecemplung di dunia pertelevisian berbayar, yang untuk
pertama kali merupakan bidang yang betul-betul baru, baik itu dari segi latar belakang
pendidikan ataupun pengalaman kerja.Namun, semuanya saya jalani tanpa
kekurangan rasa antusias saya untuk terus maju dan berkembang. Bisa menemukan
hal baru yang dapat membangun kemampuan diri saya, sangatlah luar biasa. Bagi
saya, ada yang masih kurang, yaitu urusan "target" tadi. Hanya saja, kata-kata
bijak yang sering saya dengar dari suami saya sendiri, yaitu "tidak ada kata
terlambat untuk memulai segala sesuatu". Seperti Sir David Ogilvy, salah satu
pendiri perusahaan periklanan terbesar dunia Ogilvy, yang pertama kali terjun
ke dunia periklanan disaat umurnya telah memasuki usia 50 tahun. Dan, terbukti
dari adanya perumusan target yang benar, antusiasme yang menyala-nyala serta
kerja keras menhantarkannya pada kesuksesan besar.Demikian pula dengan Rio dan
Rudy, yang masing-masing memiliki target, semangat, antusiasme dan kerja keras
yang sama untuk sama-sama mencapai sukses sesuai porsinya masing-masing.
Menaklukkan belantara dunia karir yang kompetitif dengan memilih menjadi kutu
loncat.Untuk menentukan strategi karir Anda dengan menjadi kutu loncat,
diperlukan sifat pantang menyerah dan terus belajar memperbaharui diri Anda,
baik secara implisit maupun eksplisit. Mengembangkan terus "skill" dan
kemampuan Anda diatas rata-rata termasuk etos kerja yang tinggi, sehingga Anda
memiliki nilai tambah yang dapat ditawarkan kepada setiap perusahaan yang
menarik Anda.Yang terpenting adalah jangan pernah takut gagal. Mungkin bagi
kebanyakan orang, gagal merupakan aib utama seseorang yang seharusnya dihindari.
Atau bahkan justru membuat orang tersebut berhenti berusaha dan bangkit
kembali. Karena, dari setiap kegagalan yang Anda alami, artinya, satu-persatu
pintu keberhasilan telah terbuka untuk Anda.Nah, sudah siapkah Anda untuk
gagal?
Profile Penulis:
Nama: Afra Mayriani
Pekerjaan: Karyawan di salah satu perusahaan televisi berlangganan di Jakarta.
Saat ini sedang menapaki minat barunya di dunia kepenulisan. Beberapa
artikelnya pernah dimuat di pembelajar.com. Alumi dari Sekolah Penulis
Pembelajar (SPP) yang salah satunya digawangi oleh Bung Andrias Harefa &
Edy Zaqeus, tengah menyelesaikan naskah buku pertamanya yang bertema tentang
karir. Ia bisa dihubungi di email: aframayriani@yahoo.com
|