Zaman mahasiswa dulu aku pernah tinggal di sebuah kos dengan pagar temboknya yang berlubang. Sedemikian
strategis lubang ini sehingga tanpa mengintip pun mata akan langsung bisa
melihat aktivitas tetangga yang bersebelahan. Sebetulnya tak ada apa-apa dengan
tetangga ini. Tak ada pemandangan yang harus diintip secara sembunyi-sembnyi.
Dilihat terus terang pun sebetulnya tak mengapa, untuk apa diintip-intip segala.
Rumah sebelah itu adalah rumah keluarga biasa. Tidak ada
yang perlu diintip. Tak ada perempuan seksi yang setiap kali pergi ke kamar
mandi. Tanpa harus mengintip, aku juga megerti siapa keluarga ini karena kami bertetangga. Ada anak-anak kecil. Ada seorang nenek, ada ibu rumah tangga sederhana, dan
mereka keluarga baik-baik saja. Kami tidak dekat, tetapi juga tidak jauh. Kami tidak akrap, tetapi juga tidak
asing.
Tetapi jika cuma hendak menjadi akrap, rasanya mudah saja. Mereka
adalah keluarga yang terbuka. Jika ketemu menyapa. Jika kami bertamu, mereka
gembira. Jika kami perlu bantuan, mereka siaga. Dugaanku, bahkan jika mau, mudah
saja menjadi bagian dari keluraga ini. Jadi untuk melihat mereka dari dekat,
untuk melihat seluruh kamarnya, melihat seluruh
rahasianya, rasanya mudah saja, karena rumah keluarga ini juga sederhana, kecil
saja. Jadi tak mungkin rumah itu memuat banyak rahasia.
Tetapi inilah anehnya, setiap aku hendak melintasi
lubang di tembok ini, sulit sekali untuk tidak tergoda. Mata ini maunya
mengintip-intip saja. Melihat dari sebuah lubang sempit, sendirian, mengakses sebuah
pemandangan dengan cuma aku sendiri sebagai penontonnya, adalah sebuah pesona. Oo, inilah
rahasia kenapa orang amat gemar mengintip. Sebuah pemandangan yang sama, jika dilihat
dari suasana yang berbeda, memang akan terasa sangat berbeda. Akan mendatangkan
sensasi sedemikian rupa. Itu yang pertama. Padahal masih ada soal kedua, dan
inilah soal yang menurutku adalah jawaban sebenarnya. Yakni: sesungguhnya, kita amat
bergairah mengintip apa saja dari tetangga, termasuk aibnya.
Itulah kenapa bergunjing adalah soal yang menyita hidup
manusia. Itulah kenapa gosip artis adalah acara yang berating tinggi di
televisi. Itulah kenapa menggunjing teman sendiri, atau siapapun yang tengah
kita benci, mengandung keasyikan tingkat tinggi. Itulah kenapa setiap agama
besar, perlu mengingatkan secara ekstra para pemeluknya tentang bahaya
bergunjing ini. Islam malah memilki metafora yang amat tajam: menggunjing sesama, setara dengan memakan bangkai saudaranya.
Sungguh, naluri melongok-longok aib sesama adalah kegairahan yang ditangkap baik
baik oleh industri gosip. Kebakaran besar
di California misalnya, memang mengundang banyak sekali wartawan
dan paparazzi. Untuk mengabarkan kebakaran? Tidak. Lebih untuk meliput Britney
Spears yang panik, karena kebetulan tinggal di kompleks yang sama.
Maka setiap aku melintas di lubang tembok rumah kosku dulu
itu, butuh usaha keras untuk meredam gairah mataku. Bahkan ketika di sebelah tak ada
pemandangan istimewa, betapa tetap tergodanya untuk melongok-longoknya. Tak
terbayangkan jika di sebelah itu seluruh
isinya adalah perempuan cantik yang kesehariannya cuma memakai bikini. Apa
jadinya jika di sebelah itu adalah orang-orang suskes yang kita cemburui.
Bahkan tembok yang rapat pun, pasti harus kita lubangi.
Kini tembok
berlubang itu rasanya masih terus menguntit hidupku. Di mana-mana tembok itu menggoda
untuk dilubangi. Ruang-ruang orang lain, adalah medan gairah unutk dimasuki. Aib-aib orang lain mendatangkan
kelaparan gunjingan tanpa henti. Kepadamu aku ingin jujur saja; tak setiap kali
aku berhasil mengendalikan mataku dari lubang tembok itu. Tetapi juga tak
setiap kali aku gagal. Ketika aku sedang berhasil, aku biasa bertepuk tangan
untuk diriku sendiri. Tujuannya jelas, aku sedang menyemangati diri, agar tidak mudah terintimidasi oleh
rahasia orang lain, yang cuma bikin
penasaran, tetapi pasti rendah kegunaan itu
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|
 |
Saat Aku Terima Sms-mu
|
 |
Nonton Konser Bee Gees
|
 |
Pulang Hanya Untuk Pergi, Pergi Hanya Untuk Kembali
|
 |
Hukum Newton Ketiga
|
 |
Ada Langit Di Rumahku
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Rekening Bank Kehidupan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 11 Desember 2007
|
 |
Md (bagian Ke-2 Dari 3 Tulisan Ml, Md, Ms)
(Artikel Tetap) -
Rabu, 12 Desember 2007
|
 |
Sepatu
(Artikel Tetap) -
Kamis, 13 Desember 2007
|
 |
Mari Mencari Kambing Hitam
(Artikel Tetap) -
Jumat, 14 Desember 2007
|
 |
Wisata Di Akhir Tahun
(Artikel Tetap) -
Jumat, 14 Desember 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Menikmati Putaran Roda Kehidupan
(Artikel Tetap) -
Kamis, 06 Desember 2007
|
 |
Jadilah Orang Yang Keras Kepala!
(Artikel Tetap) -
Rabu, 05 Desember 2007
|
 |
Stop Debating Over Principles
(Artikel Tetap) -
Selasa, 04 Desember 2007
|
 |
Becoming Hero Or Loser
(Artikel Tetap) -
Senin, 03 Desember 2007
|
 |
Bunga-bunga Di Rumahku
(Artikel Tetap) -
Senin, 03 Desember 2007
|
|
|