Home
Profile AW
Interaksi AW
Artikel AW
AW 4U
FREE Corner
AW Shop
Contact AW
 
Dengarkan talk show “Andrie Wongso - Success Wisdom & Motivation” di jaringan radio Sonora, setiap hari Selasa. pukul 07.05 WIB-08.00 WIB (Live Interaktif Motivation). Jaringan radio Sonora: Jakarta - FM 92.0, Surabaya - FM 98.0, Yogyakarta - FM 97.4, Palembang - FM 102.6, Pontianak - FM 96.7, Bangka - FM 101.1, Semarang - 98.9 FM, Ria Solo - FM 98.8, Serambi Aceh – FM 90.6, Raka Bandung - FM 98.8,Eltira Yogyakarta – FM 102,1, bPost Banjarmasin – FM 97.2. Program ini juga dapat didengarkan melalui live streaming di Indovision Channel 506, kompas.com, dan andriewongso.com/radio.
Artikel Anda
Penulis : AASEP SYARIFUDDIN
Rating Artikel :
Selasa, 04-Desember-2007
UNTUK menjadi pribadi yang sukses, menyenangkan, pandai bergaul dibutuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Kadang kita terkagum-kagum melihat orang piawai berpidato di depan podium. Kata-katanya berapi-api mempengaruhi massa untuk mengikuti jalan pikirannya. Tidak semua orang pandai bergaul, pintar berkomunikasi baik di podium maupun inter personal. Jauh di ujung sana masih banyak orang yang minder untuk bertemu dengan orang banyak, kaku dalam berbicara bahkan sampai bersimbah peluh hanya ketika diajak ngobrol dengan seseorang. Jangankan untuk berargumentasi dan beradu pendapat, jangankan dengan mudah mengucapkan maksud hati. Bertahan di depan orang tersebut saja sudah untung. Ingin rasanya melarikan diri dan mencari tempat sepi. nervous... nervous.

Apakah Anda termasuk orang yang demikian? Sukurlah kalau tidak, berarti sudah terjadi lompatan kualitas mental dalam berkomunikasi. Tapi orang yang masih gugup menghadapi orang, jumlahnya masih cukup banyak. Saya sendiri ketika usia-usia SMA sampai awal-awal perkuliahan masih mengalami nervous, grogi alias deg-degan dan keringetan kalau menghadapi orang. Apalagi yang dihadapi adalah cewek atau orang yang berpengaruh. Wah rasanya ingin melarikan diri saja secepatnya. Sebenarnya apa yang terjadi saat itu?


Dilihat dari pola pergaulan, saya termasuk orang introvet. Istilah anak muda sekarang gak gaul lah.... Aktifitas sehari-hari sudah ada dalam program yang jelas mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dan dalam jadwal tersebut tidak mencantumkan bermain dengan teman-teman. Semuanya belajar dan bekerja. Rasanya ketika duduk di belakang meja dan baca buku, saat-saat itulah waktu yang paling membahagiakan. Secara prestasi akademis memang diakui berada di atas rata-rata teman-teman yang lain. Teman-teman selalu meminta contekan kalau sedang ulangan atau ujian semesteran. Di balik nervous dalam bergaul tersebut saya sedikit "Pede" di dalam kelas.
Tetapi ketika ke luar kelas, lagi-lagi penyakit minder tersebut menemani hari-hariku. Hanya self talk (berbicara kepada diri sendiri) yang kurang pas saat itu yang keluar ketika melihat betapa asiknya teman-teman ngobrol dengan orang-orang baru. Saya bergumam, "Biarlah mereka pandai bergaul, tapi kalau ujian kan nyontek juga ke saya."


Salah satu upaya untuk membuat percaya diri saya sering ngobrol di depan cermin sambil melihat ekspresi ketika berbicara. "Lumayan juga nih gue bisa ngomong agak bener," tuturku dalam hati. Waktu itu ayah saya setiap minggu punya jadwal ceramah di majelis taklim. Karena berbagai kesibukan akhirnya saya yang harus menggantikan. Untung yang hadir saat itu adalah ibu-ibu yang memiliki pengetahuan pas-pasan. Kalau salah-salah dikit tidak mungkin protes. Kegiatan tersebut berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, sampai sekitar 3 tahun. Dari situ percaya diri saya naik sekitar 50%. Kok 50% mengapa? Benar, hanya 50%, karena ketika harus komunikasi inter personal lagi-lagi saya tidak bisa berkutik. Kembali nervous itu muncul. Dalam pikiran saya orang lain terlihat jauh lebih hebat ketimbang saya. Wah... capek deh...


Setelah dilihat secara seksama, persoalannya terletak pada beberapa hal yang keliru. Misalnya saja, saya tidak terlalu menghargai diri saya sendiri. Artinya, saya menilai diri tidak secara utuh. Benar setiap orang ada plus dan minusnya, tapi yang terlihat saat itu adalah segala yang minus tentang diri saya (kecuali prestasi akademis). Citra diri masih belum utuh, apalagi harga diri. Akhirnya tidak memunculkan rasa percaya diri. Ada pengalaman lucu kalau dipikir sekarang. Saat itu mau berangkat sekolah (SMA) memakai angkutan umum. Karena saya ingin belajar ngobrol, maka saya meniatkan diri untuk bertanya kepada orang yang berada di samping. Ketika dilihat ternyata dia anak SMA juga dan cewek. Niat untuk bertanya dihentikan, jangan-jangan dia tidak akan menjawab pertanyaan saya. Tapi muncul kembali keinginan untuk menyapa sebagai latihan ngobrol. Demikian terus menerus keinginan untuk ngobrol dan rasa tidak pede muncul secara bergantian. Sampai mobil tersebut berhenti dan saya turun tidak satu kata pun keluar dari mulut saya. Ada kelegaan yang terasa ketika turun, persis seperti selesai menghadapi debt collector yang sangat seram.


Waktu demi waktu persoalan self confidence masih tetap mengganggu. Sampai suatu ketika saya belajar tentang buku-buku sukses. Di dalamnya mengkaji tentang percaya diri. Percaya diri tidak muncul begitu saja, bukan karena mempunyai sesuatu seperti mengenakan pakaian yang bagus, dandanan yang oke dll. Percaya diri ada pada penghargaan yang sama baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Dalam al Quran sendiri orang yang paling mulia adalah yang paling takwa. Selain itu hormatilah sesama, hormatilah diri sendiri, hormatilah alam, hormatilah siapa saja yang harus kita hormati. Tapi di samping itu memang latihan terus menerus dengan cara bertemu dengan orang yang berbeda setiap hari menjadi titik kunci yang paling penting. Yang harus diingat dalam mengubah watak, apabila ada sesuatu yang kita 'takuti', maka yang ditakuti tersebut harus didekati. Kalau takut kepada orang untuk berkomunikasi, maka mulailah untuk berkomunikasi dari sekarang. Tidak peduli apakah keringetan, gemeteran, nervous. Memang kalau ketemu orang harus disiapin juga mau bicara apa dengan orang tersebut supaya langsung bisa nyambung. Tapi dengan latihan secara terus menerus maka hal itu bisa dilampaui.


Dulu saya yang grogi, nervous dll, sekarang paling suka ngomong di forum, paling senang ngerjain orang, paling pede kalau humor dengan teman-teman. Ketika membayangkan dulu saat-saat kegrogian masih menjadi teman sehari-hari rasanya tidak percaya kalau sekarang bisa se-pede ini. Bagi yang belum menemukan self confidence, jangan khawatir. Banyak orang yang mengalami hal tersebut tapi kemudian bisa lolos dari kubangan nervous. Asalkan mau belajar dan memulai untuk berkomunikasi. (*)


Hidup Penuh Makna, Bahagia,
Damai dan Sejahtera

Sukses Selalu
Pekalongan, 20 November 2007

A. ASEP SYARIFUDDIN
http://hidupbermakna.wordpress.com
http://groups.yahoo.com/group/hidup-bermakna/join

Komentar Anda
Pengirim : abduh
Apa yang dialami pak asep, sepertinya hampir sama dengan saya. Lalu begitu masuk PT, sy mulai menyadari, pendiam, tak bisa bergaul, grogian, harus segera dihilangkan. Mulailah saya mengikuti organisasi. Ikut segala kepanitiaan. Memperhatikan bagaimana para aktifis bicara, beragumentasi. Dan akhirnya sy merasakan perubahan. Kepercayaan diri mulai terengkuh. Sukses buat pak asep
Pengirim : Debbie Sianturi
Mas, satu hal yang saya sadari di Indonesia ini sedang mengalami perubahan yang signifikan. Sebagai contoh pada jaman tahun 80, jika kita sebagai anak membantah orang tua maka orang tua langsung mengatakan sebagai "Anak Durhaka". Tetapi orang tua jaman sekarang dituntut untuk mendengar pendapat anak. Jika orang tua tetap bersikukuk dengan pendapatnya, akibatnya anak-anak akan lari dari rumah, melakukan tawuran, terlibat narkoba, pelacuran, kehidupan gay/lesbian, pencurian dan hal-hal kriminalitas lainnya. Dan dalam pergaulan, saya perhatikan, cara komunikasi yang digunakan adalah pelecehan, gurauan yang tidak berguna. Komunikasi yang baik adalah memberikan pandangan dan anjuran positif kepada orang-orang di sekitar kita. Maka disini saya ingin sampaikan biasakan untuk mendengar pendapat anak-anak kita maupun mereka yang lebih muda dari kita. Usahakan sesuaikan cara pandang mereka dengan cara pandang kita. Ingat ada pepatah "Mari silih asah, asih dan asuh."
     1     
( View : 4193 | Refer : 2 | Print : 139 | Rate : 9.00 / 1 Votes )
Artikel Selanjutnya :
Menemukan Peluang Di Tengah Tantangan (Artikel Anda) - Rabu, 05-Desember-2007
Jadilah Seperti Sebatang Bambu... (Artikel Anda) - Kamis, 06-Desember-2007
Saraf-saraf Sukses (Artikel Anda) - Senin, 10-Desember-2007
Cerita Sebatang Pohon (Artikel Anda) - Selasa, 11-Desember-2007
Kutu Loncat (Artikel Anda) - Jumat, 14-Desember-2007
Artikel Sebelumnya :
Tentang Komitmen (Artikel Anda) - Jumat, 30-November-2007
Success Is Feeling Good (Artikel Anda) - Kamis, 29-November-2007
Pentingnya Menebar Energi Positif (Artikel Anda) - Rabu, 28-November-2007
Belajarlah, Anak Kecil (Artikel Anda) - Selasa, 27-November-2007
Makna Kesempurnaan Hati (Artikel Anda) - Senin, 26-November-2007
Menu Artikel
»   Kumpulan Catatan Andrie Wongso
»   Kumpulan AW Artikel
»   Kumpulan Artikel Tetap
»   Kumpulan Artikel Anda
»   Kumpulan Ada Ada Saja
»   Kumpulan AW Corner
»   Kumpulan AW Inspirational Video
»   Kumpulan AW Jokes
»   Kumpulan Campus Corner
»   Kumpulan English Corner
»   Kumpulan Entrepreneur Corner
»   Kumpulan Family Corner
»   Kumpulan Health Corner
»   Kumpulan Peristiwa Luar Biasa
»   Kumpulan Serba Serbi
»   Kumpulan Sports Corner
»   Kumpulan Success Story
»   Kumpulan Tahukah Anda
Mau Berbagi ?
Sahabat-sahabat yang LUAR BIASA... Cerita, Motivasi, Semangat ada tidak hanya untuk diri sendiri, tapi alangkah baiknya kita berbagi bersama.
Untuk itu mari kita bersama-sama saling berbagi cerita-cerita motivasi dengan menekan MAU BERBAGI? dipojok kanan atas atau klik Kirim Artikel
Produk Motivasi

Dompet Passport Motivasi

...
Rp 120.000,00
Powered by:
Site Map - Copyright © 2006-2010 Andriewongso.com Action & Wisdom Motivation Training. All Rights Reserved
Bijaksana Kata Motivasi Motivasi Kata-kata Motivasi Kata Mutiara Kata Bijak Persahabatan Motivation Motivate Motivational Semangat