|
|||
|
Penulis : AASEP SYARIFUDDIN
Rating Artikel :
Selasa, 04-Desember-2007
UNTUK menjadi pribadi yang sukses, menyenangkan, pandai bergaul dibutuhkan rasa percaya diri yang tinggi. Kadang kita terkagum-kagum melihat orang piawai berpidato di depan podium. Kata-katanya berapi-api mempengaruhi massa untuk mengikuti jalan pikirannya. Tidak semua orang pandai bergaul, pintar berkomunikasi baik di podium maupun inter personal. Jauh di ujung sana masih banyak orang yang minder untuk bertemu dengan orang banyak, kaku dalam berbicara bahkan sampai bersimbah peluh hanya ketika diajak ngobrol dengan seseorang. Jangankan untuk berargumentasi dan beradu pendapat, jangankan dengan mudah mengucapkan maksud hati. Bertahan di depan orang tersebut saja sudah untung. Ingin rasanya melarikan diri dan mencari tempat sepi. nervous... nervous.
Apakah Anda termasuk orang yang demikian? Sukurlah kalau tidak, berarti sudah terjadi lompatan kualitas mental dalam berkomunikasi. Tapi orang yang masih gugup menghadapi orang, jumlahnya masih cukup banyak. Saya sendiri ketika usia-usia SMA sampai awal-awal perkuliahan masih mengalami nervous, grogi alias deg-degan dan keringetan kalau menghadapi orang. Apalagi yang dihadapi adalah cewek atau orang yang berpengaruh. Wah rasanya ingin melarikan diri saja secepatnya. Sebenarnya apa yang terjadi saat itu?
Sukses Selalu |
|||
|
Komentar Anda
Pengirim : abduh
Apa yang dialami pak asep, sepertinya hampir sama dengan saya. Lalu begitu masuk PT, sy mulai menyadari, pendiam, tak bisa bergaul, grogian, harus segera dihilangkan. Mulailah saya mengikuti organisasi. Ikut segala kepanitiaan. Memperhatikan bagaimana para aktifis bicara, beragumentasi. Dan akhirnya sy merasakan perubahan. Kepercayaan diri mulai terengkuh. Sukses buat pak asep
Pengirim : Debbie Sianturi
Mas, satu hal yang saya sadari di Indonesia ini sedang mengalami perubahan yang signifikan. Sebagai contoh pada jaman tahun 80, jika kita sebagai anak membantah orang tua maka orang tua langsung mengatakan sebagai "Anak Durhaka". Tetapi orang tua jaman sekarang dituntut untuk mendengar pendapat anak. Jika orang tua tetap bersikukuk dengan pendapatnya, akibatnya anak-anak akan lari dari rumah, melakukan tawuran, terlibat narkoba, pelacuran, kehidupan gay/lesbian, pencurian dan hal-hal kriminalitas lainnya.
Dan dalam pergaulan, saya perhatikan, cara komunikasi yang digunakan adalah pelecehan, gurauan yang tidak berguna. Komunikasi yang baik adalah memberikan pandangan dan anjuran positif kepada orang-orang di sekitar kita.
Maka disini saya ingin sampaikan biasakan untuk mendengar pendapat anak-anak kita maupun mereka yang lebih muda dari kita. Usahakan sesuaikan cara pandang mereka dengan cara pandang kita. Ingat ada pepatah "Mari silih asah, asih dan asuh."
|
|||
|
|||
| ( View : 4193 | Refer : 2 | Print : 139 | Rate : 9.00 / 1 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Menemukan Peluang Di Tengah Tantangan (Artikel Anda) - Rabu, 05-Desember-2007 | ||
| • | Jadilah Seperti Sebatang Bambu... (Artikel Anda) - Kamis, 06-Desember-2007 | ||
| • | Saraf-saraf Sukses (Artikel Anda) - Senin, 10-Desember-2007 | ||
| • | Cerita Sebatang Pohon (Artikel Anda) - Selasa, 11-Desember-2007 | ||
| • | Kutu Loncat (Artikel Anda) - Jumat, 14-Desember-2007 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Tentang Komitmen (Artikel Anda) - Jumat, 30-November-2007 | ||
| • | Success Is Feeling Good (Artikel Anda) - Kamis, 29-November-2007 | ||
| • | Pentingnya Menebar Energi Positif (Artikel Anda) - Rabu, 28-November-2007 | ||
| • | Belajarlah, Anak Kecil (Artikel Anda) - Selasa, 27-November-2007 | ||
| • | Makna Kesempurnaan Hati (Artikel Anda) - Senin, 26-November-2007 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



