Suatu malam saat keponakan saya yang berumur 3 tahun, bernama Ricky sedang bermain dirumah ditemani baby sitternya tiba-tiba menangis dan berlari kearah saya. Setelah agak tenang saya tanya baby sitternya kenapa Ricky menangis.
"Saya juga tidak tahu kenapa, dia minta nonton TV setelah saya nyalakan TV dan saya ajak duduk untuk nonton dia tiba-tiba menangis" jawabnya dengan ekspresi yang memang tidak mengerti (bingung mungkin...).
Saya ajak Ricky bermain sejenak dengan mobil kesayangannya setelah dia bisa tertawa dan rileks saya mulai bertanya "Kenapa tadi Ricky menangis?"
Dia berhenti sejenak melihat saya kemudian melanjutkan lagi bermainnya sambil menjawab dengan logatnya yang masih cadel "Ricky takut".
"Takut? Takut apa?" tanya saya lagi sambil tetap bermain dengannya.
"Takut setan" katanya singkat.
Saya tetap pada sikap bersimpati dan tidak meremehkan imajinasinya "Ooooo...ada setan ya? Kok Ricky saja yang bisa lihat, memang setannya dimana?"
Dia berdiri dan sambil membawa mobil mobilannya dan berjalan kearah garasi yang terletak tepat dibelakang kursi sofa tempat dia tadi di dudukkan oleh babysitternya. Antara garasi dan ruang tengah ada pintu kacayang cukup besar dan letaknya dekat dengan sofa dimana dia di dudukkan tadi dan kebetulan malam itu, lampu garasi sedang mati, jadi dari ruang tengah yang terlihat hanya kegelapan. Ricky berdiri tegak sambil mengarahkan telunjuknya ke arah garasi yang gelap itu "Disana" katanya.
Saya langsung mengerti bahwa yang dimaksud setan adalah kegelapan, saya tersenyum dan tertawa "Wah mami (itu cara Ricky memanggil saya) jadi pengen tahu setannya seperti apa, Ricky mau temen'in mami lihat kesana?"
Langsung dia jawab "Nda mau, takut"
"Ooooh takut ya...Mami juga takut, tapi kalau ada Ricky yang temani mungkin mami jadi berani" saya terus bicara sambil pelan2 saya gendong dia dan saya berjalan memutar kearah garasi. Saat hampir mendekati garasi dan saya buka pintu garasi yang gelap, dapat saya rasakan badan Ricky mulai tegang dan kaku (ekspresi dari rasa takutnya).
"Tenang saja...kan ada mami yang gendong Ricky, kita masuk yuuuk, mami mau nyalakan lampunya..Waah..mobilnya juga ada, jadi sempit nih jalannya, Ricky bantu lihat dong jalannya mana ya?" Saya mencoba mengalihkan fokusnya agar dia teralih dari rasa takut menjadi rasa dibutuhkan untuk membantu.
"Lewat sini mami..ini jalannya.." dan saya juga merasakan badannya mulai rileks, mungkin matanya juga sudah mulai terbiasa melihat dalam kegelapan. Dengan tetap berbicara dan mengalihkan fokusnya saya berjalan kearah saklar lampu. Ketika lampu dinyalakan dan garasi menjadi terang saya mulai memasukkan program baru pada Ricky.
"Nah, sekarang kita sudah bisa melihat jelas karena lampunya sudah nyala, tadi lampunya mati karena itu jadi gelap, coba Ricky lihat baik2 ya...mobilnya warna apa ya?"
"Biru" katanya cepat
"Ini mobil siapa sayang?"
"Mobil Papi" katanya cepat pula..
"Pintar sekali Ricky, Mami punya permainan kita main yuuk...sekarang Ricky turun dulu ya..pegang baik2 mobilnya ya..." saya turunkan dia dan saya gandeng ke arah mobil untuk memegang body mobilnya.
"ok, disini ya...pegang ya...mami pegang tangan Ricky yang satunya kita saling tarik dan tangan Ricky tetap di mobil tidak boleh lepas" saya berbicara sambil meraih saklar lampu dan saya matikan lampunya.
"Nah, sekarang lampunya mati...apa mobilnya masih ada?"
Dia terdiam sebentar..."ada...masih ada.."
"oh ya, Ricky bisa lihat" pancing saya
"bisa tapi sedikit" katanya (mungkin maksudnya tidak terlihat jelas karena samar)
"ok, sekarang kita lihat lagi apa mobilnya benar ada " sambil saya menyalakan lampu
"ada..ada mami"
Saya matikan lagi lampunya " masih ada?"
"ada.."
Saya nyalakan lagi lampunya "sekarang Ricky lihat yang lainnya ada apa lagi?"
"ada mobilnya mami.."
"mana mobilnya mami?"
"itu!" katanya sambil menunjuk mobil di belakang mobil suami saya
"coba Ricky kesana, mami pegang mobil papi ..Ricky pegang mobil mami..kita main lagi"
Dia berlari kecil menuju mobil saya dan dengan terseyum dia memegangi mobil saya.
"ok..siap ya..."saya matikan lampu "mobilnya masih ada Rick?"
"masiiiih !! " katanya mantap.
"mobil papi juga masih ada juga ada lho..." lampu saya nyalakan lagi..
Beberapa kali saya mainkan walaupun hal tersebut terlihatnya sepele, namun Ricky mulai terbiasa dengan gelap bahkan sudah bisa tertawa dalam kegelapan.
Setelah beberapa kali saya ajak dia menghadap ke ruang tamu, lewat balik kaca pintu saya menjelaskan " Itu Ruang tengah, itu televisinya..ini kursi yang tadi Ricky mau duduk....dari sini juga bisa kelihatan ya, nah itu mbak...coba panggil"
"Mbaaaakkk" teriaknya
Dari balik kaca babysitternya melambaikan tangan dan tersenyum, Ricky menanggapinya dengan tertawa, kemudian saya gandeng dia masuk ruang tengah menyalakan televisi dan menemani Ricky duduk membelakangi Garasi yang tetap saya buat gelap. Dan kali ini Ricky bisa menikmati tontonannya dengan tenang dan sejak saat itu dia tidak pernah takut gelap lagi.
Seringkali karena kesibukan kita menggunakan jasa babysitter dan tanpa kita perhatikan ajaran-ajaran dan perkataan babysitter sangat mempengaruhi anak, contoh Ricky diatas adalah akibat dari babysitter yang mungkin saat dia lagi capek dan malas untuk mencegah Ricky yang cenderung aktifkeluar masuk kamar dengan gampangnya dia bilang "Jangan masuk kesana! Gelap! Ada Setannya..iiihhh..mba takut sini aja" anak kecil yang tidak mengerti apa itu setan mulai bisa mengkaitkan gelap dengan takut, dan kalau terlalu sering akan menjadi sebuah program di otaknya bahwa kalau gelap sudah seharusnya dia takut.
Sebenarnya bukan cuma babysitter mungkin kita juga sering melakukannya kalau sudah kehabisan akal maka kita menggunakan cara-cara tersebut untuk "membohongi" anak, dan hati-hati program tersebut kalau terbawa sampai seumur hidupnya, maka Andalah yang membuat program itu.
Semoga berguna dan Salam sukses!
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Ely Susanti
|
 |
Dari Siapa Anak Kita Belajar?
|
 |
Emosi
|
 |
Arti Sebuah Pesta Pernikahan
|
 |
Ulang Tahun Yang Berkesan
|
 |
Setiap Kejadian Adalah Netral-respon Kita Yang Menjadikannya Suatu Makna
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Rantai Gajah
(Artikel Anda) -
Senin, 22 Januari 2007
|
 |
Dilahirkan Untuk Menang
(Artikel Anda) -
Senin, 29 Januari 2007
|
 |
Yang Terpenting Adalah Prosesnya Bukan Hasil Akhirnya
(Artikel Anda) -
Kamis, 08 Februari 2007
|
 |
Waspadai Prinsip Masa Kini Dan Prinsip Material
(Artikel Anda) -
Sabtu, 10 Februari 2007
|
 |
Kisah Dua Kerajaan
(Artikel Anda) -
Senin, 12 Februari 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Keyakinan Dan Persepsi Positif
(Artikel Anda) -
Rabu, 17 Januari 2007
|
 |
Belajar Dari Kekalahan Dan Kegagalan
(Artikel Anda) -
Sabtu, 13 Januari 2007
|
 |
Rahasia Doa Yang Terkabul...
(Artikel Anda) -
Jumat, 12 Januari 2007
|
 |
Fokus Pada Target Maka Akan Sukses
(Artikel Anda) -
Kamis, 11 Januari 2007
|
 |
Membangun Value, Mari Berkaca Pada Kaisar Hirohito
(Artikel Anda) -
Selasa, 09 Januari 2007
|
|
|