Ada jenis pelajaran yang aku selalu gagal lulus dari
ujiannya. Pelajaran itu benama buruk sangka.
Di usia kanak-kanakku dulu, aku pernah amat terhina ketika disapa dengan
cara yang menurutku tidak semestinya. Aku punya panggilan kesayangan yang
membuat aku ketagihan. Penyebutan di luar sebutan itu, apalagi langsung
main sebut nama asliku, akan terasa asing dan tidak ramah di hatiku.
Aku akan menafsirkan pemanggil itu sebagai orang yang tidak sayang kepadaku.
Dan aku bisa menjadi pemberontak di hadapannya.
Begitu juga dengan orang tua satu ini. Ia saudara jauhku,
pertama kali bertemu dan kasar memaggilku.
Aku marah sekali dan kujawab ia dengan
tak kalah kasarnya sebagai bukti perlawananku.
Orang tua itu terpana. Ia kaget sekali atas reaksiku. Bertahun kemudian baru
kusadari betapa reaksiku itu cuma bikin malu. Ia adalah saudara yang amat baik
kepadaku. Ia tidak kasar, cuma serba menggelagar. Hingga saat ini, sikap itu
adalah jenis kebodohan yang amat aku sesali.
Ketika masuk umur remaja, aku mulai jatuh cinta. Jatuh cinta
kepada seseorang yang menurutku jelek sekali. Ya wajahnya, ya kelakuannya. Jika
di sekolah kami ketemu, dengan suka cita aku menyingkirinya. Jika kebetulan aku
melihat dia sedang bercanda, kuanggap hanya teknik menarik perhatianku saja.
Bertambah tambah belaka kejengkelanku padanya.
Lama aku membenci gadis ini sampai kemudian aku mengerti reputasinya.
Ternyata ia selalu ranking satu, tulisannya rapi, bintang organisasi dan yang
naksir banyak sekali. Melihat bahwa ia bukan sembarang perempuan, tiba-tiba semuanya berubah.
Tertawanya berubah menjadi merdu, senyumnya mengharu-biru dan wajahnya jadi cantik
sekali. Pelan tapi pasti, aku jatuh cinta kepadanya. Dan ketika cintaku sudah sedemikian rupa, ia ganti menolakku! Eh,
tepatnya bukan menolak, karena bahkan ia tak pernah menggubrisku!
Ketika aku sudah mulai bekerja, aku merasa jagoan dalam
profesiku. Maka ketika ada orang yang menurutku bodoh tapi sok tahu, seluruh
kebencianku tertumpah kepadanya. Aku masuk dalam geng gosip yang menggunjingnya dan menyebut-nyebut bentuk kepalanya sebagai
kepala
duren! Ya buah durian itulah yang kami sebut mirip
kepalanya, bukan benar-benar karena bentuknya, melainkan pasti karena kebencian
kami saja.
Tetapi astaga, orang yang aku benci inilah orang yang kemudian
menolong kami ketika sedang dalam kesulitan masuk gedung pertunjukkan. Ia
adalah orang yang dengan jelas menunjukkan kualitas budinya, ketika kami sedang
dalam kesusahan. Kini aku selalu
mengingat orang ini dengan rasa hormat yang mendalam. Bertahun-tahun aku
meratapi kesalahan ini dan berjanji tak akan memandang rendah orang lagi.
Tapi janji memang cuma janji. Bayangkan, jika aktor sekelas
Roy Marten saja bisa kejebak kesalahan dua
ka kali, apalagi diriku yang pasti bukan Roy. Maka kesalahan yang sama pun terulang lagi. Kali ini menyangkut orang tua yang mengetuk-etuk
pintu rumah dengan kerasnya. Ia orang asing dengan dandanan sederhana dan tak
kukenal pula. Maka satu saja tafsirku: ini pasti pencari sumbangan yang memang gemar
lalu-lalang di kampungku. Gayanya khas, keramahannya palsu, terbukti jika
ditolak ia berlalu sambil menggerutu. Ia juga bisa main gebrak pintu tanpa
kenal waktu. Maka melihat orang tua ini yang terus mengetuk-ngetuk pintu itu sudah
cukup membuat kesal hatiku. Kutemui dia cuma untuk segara menghardiknya. Tapi alamak, ia ternyata
adalah pemilik urusan yang telah lama
aku rindu. Ada sebuah urusan yang jika orang ini tak ada, akan menjadi
gelap akhirnya. Aku sudah pusing mencari siapa orang ini dan di mana alamatnya,
tahu-tahu malah nongol sendiri di rumahku.
Tetapi sunguh, aku lupa bergembira karena telah sibuk didera
rasa malu. Ketika ia pamit, aku menatap orang tua itu dengan perasaan remuk redam dan rasa bersalah yang gagal aku ungkapkan. Aku khawatir, buruk
sangka adalah jenis ujian yang aku tak kunjung sanggup menamatkan
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|
 |
Keramaian Di Kampungku
|
 |
Kucing Yang Bertamu
|
 |
Kita Adalah Orang-orang Yang Menunggu
|
 |
Selimut Dalam Tidurku
|
 |
Hukum Newton Ketiga
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Memaknai Kerja
(Artikel Tetap) -
Selasa, 20 November 2007
|
 |
Bukan Apa, Tapi Bagaimana Yang Penting
(Artikel Tetap) -
Selasa, 20 November 2007
|
 |
Hari Penuh Apriori
(Artikel Tetap) -
Rabu, 21 November 2007
|
 |
Jadilah Yang Paling Baik
(Artikel Tetap) -
Kamis, 22 November 2007
|
 |
Kalau Tidak Tahu
(Artikel Tetap) -
Jumat, 23 November 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Dicari: Pemalas
(Artikel Tetap) -
Senin, 19 November 2007
|
 |
The Secret,Law Of Attraction
(Artikel Tetap) -
Senin, 19 November 2007
|
 |
Instant Money
(Artikel Tetap) -
Jumat, 16 November 2007
|
 |
Loyalty Programs That Matters (part 2)
(Artikel Tetap) -
Kamis, 15 November 2007
|
 |
Pujian
(Artikel Tetap) -
Rabu, 14 November 2007
|
|
|