| Misi : Membangun Kekayaan Mental Manusia Indonesia Demi Kehidupan Yang Lebih Bernilai | ||
| Slogan : Bosan kita menderita ! Saatnya Bersama ! Bangun Indonesia ! | ||
| Kalender November 2008 | ||||||
| S | M | T | W | T | F | S |
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
| • Lenny Wongso |
| Rabu, 13-Juni-2007 |
| 16:40:43 WIB |
| Toloooong |
| • Lenny Wongso |
| Selasa, 14-Agustus-2007 |
| 16:54:33 WIB |
| Selingkuh? Amit-amit, No Way Lah |
| • Lenny Wongso |
| Sabtu, 22-Maret-2008 |
| 10:30:18 WIB |
| Nilai Usia |
| • Lenny Wongso |
| Kamis, 19-Oktober-2006 |
| 17:46:10 WIB |
| Remaja Pemberontak |
| CD Audio Motivasi #1 |
| Terdiri dari 1 CD |
| 10 cerita motivasi yang akan mengubah hidup Anda. |
View Shopping Product |
|
Dosen Juga Manusia ( 2 Komentar ) Rating Artikel : Oleh : Lenny Wongso Suatu hari saya mendengar keluhan dari seorang teman yang berprofesi sebagai dosen di sebuah universitas ternama di Jakarta. "Saya sekarang merasa gamang untuk mengajar. Sedari masih jadi asisten sampai jadi dosen, saya berusaha mengajar sebaik-baiknya. Saya ingin sarjana lulusan sini adalah yang berkualitas, bukan sekedar lulus. Tapi tanggapan mahasiswa sangat negatif dan mengecewakan. Saya dianggap dosen killer, profesor tega, bahkan dikata-katai dan dibenci oleh mahasiswa saya sendiri. Saya sempat marah dan sakit hati. Biarpun dosen kan juga manusia, ya kan bu" ucap si dosen muda sambil tersenyum. "Saya masih ingat, dulu saya punya dosen yang juga killer, ampun deh, masak skripsi disuruh ganti judul. Aduh rasanya kheqi banget. Bayangin bu, ganti judul kan artinya memulai dari awal lagi, nol. Tapi setelah dengan terpaksa saya ikuti kemauan si dosen, sekarang saya bersyukur banget! Proses pembuatan skripsi yang serba sulit itu ternyata mampu merubah mindset saya. 6 bulan terakhir di bangku kuliah itu adalah pelajaran yang paling berharga dibandingkan seluruh pelajaran yang saya dapatkan sepanjang kuliah saya. Berkat dosen killer itu, saya menjadi lulusan terbaik! Dan... sekarang rasanya aneh, seolah-olah kejadian berulang sama persis seperti waktu saya kuliah dulu", lanjutnya dibayangi kesedihan. " Saya ingin berhenti ngajar aja, capek rasanya. Ngajar buat kebaikan siswa, eh malah disebelin dan dibenci mereka" ucapnya sendu. Sambil becanda saya menanggapi, "Pak Dosen yang baik. Sebenarnya jawabannya udah ada tuh" "Maksud ibu?" "Saat kita jadi siswa atau mahasiswa sekalipun, guru killer pasti dimusuhi tanpa pernah berpikir panjang bahwa ‘perintah dan kekileran' tersebut adalah untuk kebaikan si mahasiswa itu sendiri. Setelah lulus dan merasa bersyukur karena ternyata kekileran si dosen yang membuat kita hari ini ‘jadi orang', kita lupa mengucapkan terimakasih. Gitu kan? Menurut saya, jangan merespon kesebalan dan emosi mahasiswa dengan menghancurkan prinsip kita sendiri yang jelas2 benar dan baik. Inget lho, mahasiswa juga manusia, saat merasa dirugikan atau dipersulit, pastilah yang muncul respon negative! Siapa tau, mereka juga berterimakasih kepada kita karena berkat kekileran kita, mereka berhasil lulus sebagai sarjana yang bermutu. Yang penting tujuan dan niat baik kita mengajar harus dilandasi dengan pengertian benar. Kesadaran akan kebaikan dan kebenaran memang butuh waktu dan pendewasaan. Dosen baik dan bermutu nggak banyak lho, jangan mundur ngajar karena alasan yang keliru, ntar nyesel lagi". Netter yang berbahagia, Memang tidak mudah berjalan diatas prinsip yang baik dan benar tetapi dibayang-bayangi dengan kebencian orang lain, yang kemungkinan justru orang yang kita sayangi dan berusaha kita bantu. Yang baik belum tentu benar. Tetapi yang benar harus bermakna kebaikan. Salam sukses luar biasa! Lenny Wongso
|
|||||
![]() | |||||
| Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA Komentar Artikel : | |||||
| • | Tanggal Komentar: Rabu, 12-Maret-2008; 08:58:25 | ||||
| Nama Pengirim Komentar : sari ( nesamuni@yahoo.com ) | |||||
| "terkadang, dulu ketika jadi mahasiswa, betapa enaknya jadi dosen. tinggal suruh2 tanpa harus bingung menjawab dan mencari bahan yang dicarinya. bahkan terkesan, yang namanya dosen, waktunya lebih fleksi banget. tapi sekarang, setelah jadi dosen, perasaan kok enak banget yah jadi mahasiswa; tinggal jawab soal tanpa harus pusing memikirkan soal yang harus dibuat dan bagaimana menilai serta mengevalusinya. namun setelah dipikir2, kok rasanya jadi suka irian dengan apa yang dirasakan orang lain. so, sekarang, saya mencoba menikmati profesi sebagai dosen dengan sebaik-baiknya dengan harapan mampu menciptakan generasi yang lebih baik dari saya. selama di kelas, saya tetap pengarah dengan segala konsekuensinya; namun di luar kelas, saya adalah teman tempat berbagi. So... Semangat wat semua!!!" | |||||
| • | Tanggal Komentar: Senin, 25-Pebruari-2008; 18:00:41 | ||||
| Nama Pengirim Komentar : Edy Chandra ( echan5@yahoo.com ) | |||||
| "saya ingin menanggapi artikel ini yang dikarenakan saya memounyai profesi yang sama, yaitu sebagai dosen staff pengajar. Saya pun sudah mengajar kurang lebih 7 tahun sejak tahun 2001. Mengalami hal di benci oleh mahaisiswa sudah pasti, akan tetati walaupun kita tidak jadi dosen killer pun alias dosen yang serba bebas, akibatnyapun hampir sama dengan dosen killer, yaitu akan menghadapi dilema yang sama. Dilema tersebut seperti ini gambarannya. Jika kita jadi dosen killer maka ujung-ujungnya kita akan dijadikan sebagai sebuah sosok yang di jauhhi bahkan dimusuhi oleh para mahasiswanya, tetapi menjadi dosen serba bebaspun akan terkena dilema pula yaitu ujung-ujungnya harga diri kita akan dipermainkan oleh para mahasiswanya yang dikarenakan kita tidak tegas dan selalu fleksibel maka kelemahan ini yang akan dijadikan sebagai peluang bagi para mahasiswa untuk mempermainkan dosennya.Mau dimanakah posisi kita? Saya mempunyai prinsip, bahwa kita hidup harus memilih, mau menjadi baik atau buruk nasib kita kemudian apakah kita mau tegas atau kompromi?, nah kia tinggal pilih yang mana? Masing-masing ada kelebihan dan kekurangan. Hal terpenting dalam mengajar adalah bagaimana gaya kita menyampaikan pesan ke para mahsiswa. Pesan yang menarik dan efektif akan menyelimuti maksud yang tegas dan keras sekalipun. kesetiaan pada yang benar akan menghasilkan buah yang baik.Yang benar akan selalu abadi adanya. Salam Sukses " | |||||
Komentar Lainnya | |||||
|
|||||
|
( View : 5176 | Refer : 5 | Print : 212 | Rate :
8.67 / 3 Votes )
| |||||
| Artikel Selanjutnya | |||||
| Nilai Usia - Sabtu, 22-Maret-2008; 10:30:18 | |||||
| Era Keterbukaan Ortu Dengan Anak - Selasa, 10-Juni-2008; 17:22:10 | |||||
| Biar Tua Tetap Belajar - Jumat, 27-Juni-2008; 16:29:06 | |||||
| Artikel Sebelumnya | |||||
| Maaf Dan Lupakan!!! - Rabu, 10-Oktober-2007; 00:02:42 | |||||
| Selingkuh? Amit-amit, No Way Lah - Selasa, 14-Agustus-2007; 16:54:33 | |||||
| Toloooong - Rabu, 13-Juni-2007; 16:40:43 | |||||
| Skul Ke Luar Negeri? Gengsi Boo! - Kamis, 22-Pebruari-2007; 13:02:29 | |||||
| Rumah Tangga Berantem? - Rabu, 24-Januari-2007; 13:02:14 | |||||
| Pengunjung Kemarin | 3706 |
| Pengunjung Hari Ini | 1800 |
| Online | 62 |