Dimulai sejak SD, saat saya pertama kali tahu bahwa plastik
memakan waktu ratusan tahun untuk musnah, saya sering merenung: bungkus permen
yang hanya bertahan sepuluh detik di tangan, lalu masuk tong sampah, ditimbun
di tanah dan baru hancur setelah si pemakan permen menjadi fosil.
Sukar membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa plastik,
tanpa cat, tanpa karet, tanpa bensin. Dan sebagai konsumen dalam sistem
perdagangan modern, sejak kita lahir rantai pengetahuan tentang awal dan akhir
dari segala sesuatu yang kita konsumsi telah diputus. Kita tidak tahu dan tidak
dilatih untuk mau tahu ke mana kemasan
styrofoam
yang membungkus nasi rames kita pergi, berapa banyak pohon yang ditebang untuk
koran yang kita baca setengah jam saja, beban polutan yang diemban baju-baju
semusim yang kita beli membabi-buta.
Untuk aktivitas harian yang kita lewatkan tanpa berpikir,
yang terasa wajar-wajar saja, pernahkah kita berhitung bahwa untuk hidup 24 jam
kita bisa menghabiskan sumber daya Bumi ini berkali-kali lipat berat tubuh kita
sendiri?
Untuk menyiram 200 cc air kencing, kita memakai 3 liter air.
Untuk memproduksi satu lapis daging burger yang mengenyangkan perut setengah
hari dibutuhkan sekitar 2,400 liter air. Produksi satu set PC seberat 24 kg
yang parkir di atas meja kerja kita menghasilkan 62 kg limbah, memakai 27,594
liter air, dan mengonsumsi listrik 2,300 kwh. Bagaimana dengan
chip kecil yang bekerja di dalamnya?
Limbah yang dihasilkan untuk memproduksinya 4,500 kali lipat lebih berat daripada
berat
chip itu sendiri.
Pernahkah kita merenung, saat kita memasuki gedung FO empat
lantai, atau berjalan-jalan hari Minggu ke Gasibu di tengah lautan PKL:
tidakkah semua baju dan barang-barang itu mampu memenuhi kecukupan penduduk
satu kota? Tapi kenapa barang-barang ini tidak ada habisnya diproduksi? Setiap
hari selalu ada jubelan pakaian baru yang menggelontori pasar. Pernahkah kita
merenung, saat kita memasuki
hypermarket
dan melihat puluhan merk mie instan, puluhan merk sabun: haruskah kita memiliki
pilihan sebanyak itu? Pernahkah kita merenung, apa yang kita inginkan
sesungguhnya jauh melebihi apa yang kita butuhkan? Atas nama kecukupan, satu
manusia bisa hidup dengan lima
pasang baju dalam setahun, bahkan lebih. Atas nama
fashion, jumlah itu menjadi tidak berbatas. Atas nama kebutuhan,
satu manusia bisa hidup dengan beberapa pilihan panganan dalam sehari. Atas
nama selera dan nafsu, seisi Bumi tidak akan sanggup memenuhi keinginan satu
manusia.
Permasalahan ini memang bisa dilihat dari berbagai kaca
mata. Seorang ekonom mungkin menyalahkan sistem kapitalisme dan globalisasi.
Seorang sosialis akan mengatakan ini masalah distribusi dan pemerataan. Tapi
jika kita runut, satu demi satu, bahwa Bumi adalah kumpulan negara, negara
adalah kumpulan kelompok, dan kelompok adalah kumpulan individu, permasalahan
ini akan kembali ke pangkuan kita.
Belum pernah dalam sejarah kemanusiaan keputusan harian kita
menjadi sangat menentukan. Tidak perlu menunggu Amerika menyepakati protokol
Kyoto, atau Indonesia lengser dari peringkat pertama perusak hutan tropis
dunia, setiap langkah kita-memilih merk, kuantitas, tempat, gaya hidup-adalah
pilihan politis dan ekologis yang menentukan masa depan seisi Bumi.
Pada waktu perayaan 17 Agustus, di kompleks saya diselenggarakan
bazaar. Para warga menyewa stand untuk berjualan. Sayalah satu-satunya penjual
barang bekas di antara penjual barang baru. Karena bukan demi cari untung,
barang-barang itu saya lepas dengan harga sangat murah. Yang membeli bukan cuma
warga kompleks, tapi juga dari kampung sekitar. Hari pertama, saya kehabisan
dagangan. Terpaksa saya mengontak saudara-saudara saya. Sama dengan kebanyakan
dari kita, mereka pun punya timbunan harta karun yang entah harus diapakan.
Stand saya menjadi salah satu stand paling laris selama bazaar berlangsung. Dan
kakak saya terkaget-kaget dengan penghasilan yang ia dapat dari tumpukan barang
yang sudah dianggap sampah.
Berjualan di bazaar tentu bukan satu-satunya jalan, ada
aneka cara kreatif lain untuk memanfaatkan harta karun kita, termasuk juga
disumbangkan. Namun yang lebih sukar adalah memulai membuat komitmen pembatasan
diri. Berkomitmen dengan rak buku, dengan lemari pakaian, dengan laci dapur,
untuk tidak memenuhinya di luar kapasitas. Siapkah kita menentukan batasan dan
berjalan dalam koridor itu?
Memilih hidup yang lebih sederhana, hidup dengan tempo yang
lebih pelan, hidup dengan pengasahan kesadaran, tak hanya membantu kita lebih
eling dan terkendali, tapi juga membantu Bumi ini. Membuka diri untuk info dan
pengetahuan ekologi adalah salah satu cara pembekalan yang baik. Walaupun
sekilas tampak merepotkan dan bikin frustrasi, tapi kantong kresek yang kita
buang tadi pagi tidak akan hilang oleh sihir, dan hamburger yang kita makan
tidak dipetik dari pohon. Rantai yang menyertai barang-barang itu tidak akan
hilang hanya karena kita menolak tahu.
Selama ini kita adalah pembeli yang berlari. Dalam
kecepatan tinggi kita bertransaksi, sabet sana sabet sini, tanpa tahu lagi apa yang sesungguhnya
kita cari. Berhentilah sejenak. Marilah kita berjalan.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Dewi Lestari - Penyanyi dan Penulis buku best seller "Supernova"
|
 |
Harta Karun Untuk Semua
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Haru Lebaran
(Artikel Tetap) -
Senin, 22 Oktober 2007
|
 |
Sekolah Cinta Pertama
(Artikel Tetap) -
Selasa, 23 Oktober 2007
|
 |
Biarkan Mata Bicara
(Artikel Tetap) -
Selasa, 23 Oktober 2007
|
 |
Orang Sukses Tidak Santai, Orang Santai TIdak Sukses
(Artikel Tetap) -
Kamis, 25 Oktober 2007
|
 |
Jenderal & Bebek
(Artikel Tetap) -
Jumat, 26 Oktober 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Menciptakan Kepuasan Bagi Eksekutif
(Artikel Tetap) -
Kamis, 18 Oktober 2007
|
 |
Dunia Ini Rata
(Artikel Tetap) -
Kamis, 18 Oktober 2007
|
 |
Ide Brilian Perlu Teknik Komunikasi Untuk Menyampaikannya
(Artikel Tetap) -
Rabu, 10 Oktober 2007
|
 |
Lampor Kerinduan
(Artikel Tetap) -
Rabu, 10 Oktober 2007
|
 |
Pengaruh Buku
(Artikel Tetap) -
Selasa, 09 Oktober 2007
|
|
|