Disebuah cafe dijantung kota Surabaya Iwan dan Andi nampak serius
sekali berdiskusi tentang persaingan Fernando Alonso dan Lewis Hamilton
dalam balapan formula satu, walaupun dalam satu team namun sangat
terasa sekali nuansa persaingannya...
Seharusnya Alonso tidak dihukum karena waktu Qualifikasi balapan hal
itu terjadi tanpa disengaja sengit Iwan, tak kalah ngototnya si Andi
menjawab bahwa Hamilton punya gaya nyetir yang sanggup memanipulasi
beban mobil sehingga waktu memasuki tikungan daya cengkram ban akan
sangat kuat dan menemukan kecepatan maximal saat keluar tikungan, halus
sekali gaya membalapnya, gerakan tangannya itu waktu membelokkan setir
hampir sempurna dan hal itu membuat Alonso frustasi sebagai teman satu
team dan terciptalah kecurangan itu dan bla…bla…bla pembicaraan masih
berlangsung sengit walaupun terus terang saja mereka berdua belum
pernah merasakan duduk di kokpit mobil balap formula satu….
Hal seperti ini banyak kita jumpai di mana-mana baik itu
membicarakan sepak bola, Tinju, Tenis, penonton akan dengan sangat
antusias membahas mulai dari masalah tekhis sampai non tekhnis, kadang
tercipta kesimpulan wasit yang curang, seharusnya pemain ini tidak
perlu di mainkan, seharusnya bambang pamungkas saat itu lebih banyak
mengoperkan bola jangan hanya membawa bola sendirian, seharusnya kan
sudah kelihatan gerakan kaki penendang penalty mengapa si Oliver Kahn
bergerak ke kanan kebobolan dech…, seharusnya…….
Apakah ini hanya terjadi di dunia olah raga?? Tidak. Sering di
kantor kita mendengar diskusi sesama karyawan yang mengatakan
seharusnya bos kita tidak gegabah mengambil keputusan itu kan lebih
bagus kalo begini..begini..begini.... Atau juga sering kita dengar
seorang karyawan yang dengan bangga mengulas hasil kerja temannya di
depan manajer sambil dia terus mencari kesalahan seperti layaknya
penonton pertandingan olah raga yang kebanyakan ujung-ujungnya ribut.
Fenomena apa ini??? Apakah ini produktif atau kontra produktif??
Seorang master olah raga pasti akan di kalahkan oleh komentar dari
penonton yang kadang tidak menguasai sedikitpun olah raga tersebut.
Kalau kita mengkajinya lebih dalam fenomena ini ibaratkan pisau bermata
dua, bisa negatif bisa positif.
Apabila seorang manager adalah pemain sepak bola, penontonnya adalah
atasan dia, sesama manager divisi lain dan anak buah manager itu
sendiri. Tentunya sebagai penonton akan berlaku fenomena seperti di
atas, yang kurang begini kek, harusnya begitu lah yang kadang tidak
terpikir sedikitpun oleh si pemain.
Seorang pemain yang baik pasti tidak semua saran diterima atau ditolak
dia akan menyaringnya untuk perbaikan permainan ke depan, demikian juga
seorang manager, penonton yang ada di lingkarannya sangatlah perlu di
ajak berdikusi, di minta masukannya karena cara pandang dari kaca mata
penonton tidak ada batasnya, tidak memikirkan resiko, sangat berani
kadang penuh sensasi dan sangat liar, hal ini akan memperkaya wawasan,
ide, improvisasi.
Dalam berdisikusi dengan penonton kadang kita mnedapatkan seorang
penonton yang baik dia akan mendengarkan ide kita, memberi masukan,
mempertimbangkan untung-ruginya, memberi solusi dan mendukung ide kita
bila memang ide kita berguna bagi perusahaan, dari tipikal penonton
seperti ini kita sudah mendapat tambahan untuk mambangun dan
melaksanakan ide kita.
Bagaimana kalau mendapatkan penonton yang semau gue, suka menang
sendiri, tidak mau menerima ide, suka merasa paling pintar, diktator,
one man show??? Tidak masalah!!! Ajaklah berdiskusi tentang ide kita
pasti akan muncul seribu satu macam kata, sebaiknya begini, seharusnya
begitu, itu tidak tepat, kok kamu sok pintar sich??, kan disini saya
lebih lama kerja, kamu baru berapa tahun kerja di perusahaan ini???...
paling ujung-ujung jawabannya adalah tidak bisa. Apakah berati kita
gagal?? TIDAK, sebenarnya kita telah mendapatkan seribu satu macam
masukan dari sisi penonton atau dari sisi kaca matanya yang dapat kita
jadikan sebagai pembanding dengan ide kita, kalau belum dapat juga sisi
positifnya ya anggaplah kita lagi ditengah lapangan sepak bola dan
mengetahui pasti akan ada keributan dan bentrokan antar penonton jadi
kita bisa siap-siap menghindar.
Demikian juga dengan atasan, rekan kerja serta bawahan kita sebagai
penonton, buka gudang pikiran kita untuk saran mereka, kita kumpulkan
saran dan masukan sebanyak-banyaknya dari yang paling logis sampai yang
paling mustahil sekalipun, dari ide yang biasa-biasa aja sampai yang
paling gila, kita nanti tinggal memilihnya, dengan sendirinya kita
menjadi orang yang kaya ide, kaya gagasan dan kaya teman.
Kalau kita jadi pemain jadilah pemain yang baik dengan tidak
melupakan masukan dari penonton, dan kalau kita jadi penonton jadilah
penonton yang baik jangan bikin keributan karena sudah banyak keributan
akibat ulah ”penonton” di negeri kita ini. Apakah kita sudah menjadi
pemain dan penonton yang baik???
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Rahmad Yulianto
|
 |
Mendaki Komitmen
|
 |
Senjata
|
 |
Penonton
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Indahnya Memaafkan Di Hari Yang Fitri
(Artikel Anda) -
Sabtu, 13 Oktober 2007
|
 |
Nyanyian Sapi Bikin Kangen
(Artikel Anda) -
Jumat, 19 Oktober 2007
|
 |
Unconditional Love - Apakah Itu?
(Artikel Anda) -
Selasa, 23 Oktober 2007
|
 |
Arti Dari Sebuah Pengorbanan
(Artikel Anda) -
Selasa, 23 Oktober 2007
|
 |
Kharisma, Sebuah Konsekuensi Perbuatan
(Artikel Anda) -
Rabu, 24 Oktober 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Kemauan Vs Kemampuan
(Artikel Anda) -
Senin, 01 Oktober 2007
|
 |
Goal Praying, Membangun Sukses Dari Dalam Hati
(Artikel Anda) -
Jumat, 28 September 2007
|
 |
Percaya Diri? Arogan? Minder ?
(Artikel Anda) -
Selasa, 25 September 2007
|
 |
My Spirit - Rumus S U K S E S
(Artikel Anda) -
Senin, 24 September 2007
|
 |
Rendah Hati, Bukan Rendah Diri Lho!
(Artikel Anda) -
Kamis, 20 September 2007
|
|
|