Selasa, 24-Juli-2007; 11:50:56 WIB
Pengalaman Orang ( 0 Komentar )
- Klik Profil Penulis
Oleh : Ardian Syam
Ayah kami adalah seorang Pemimpin Redaksi di sebuah surat kabar harian di Medan. Sehingga sejak kami kecil-kecil dulu, sekitar 25 tahun yang lalu, istilah memburu berita bukanlah hal yang baru didengar oleh kami.
Saat itu seorang kakak perempuan saya baru pulang dari pergi belanja menggunakan sepeda, karena ketika itu anak SMA belum banyak yang menggunakan sepeda motor, hanya sepeda. Ketika dia tiba di depan pagar rumah kami, dia melihat ada kumpulan orang-orang di jarak 100 meter dari rumah kami.
Dia mendengar selentingan dari orang-orang bahwa ada yang meninggal karena bunuh diri. Tapi sama sekali dia belum jelas, siapa yang bunuh diri, kapan kejadian bunuh diri itu, apa penyebab bunuh diri, bagaimana cara dia bunuh diri dan siapa yang menemukan jenazah korban. Ya semua yang berkaitan dengan 5W+H yang dipelajari dan dipahami dengan sangat ahli oleh para pencari berita.
Maka sebagai anak “pemburu berita”, dia pun memiliki naluri pemburu berita yang sangat kuat dan mengalir deras dalam darahnya yang masih remaja itu. Dia tinggalkan sepeda tergeletak di depan pagar rumah dan berlari ke arah keramaian tersebut. Semua 5W+H pun berhasil dia dapatkan di TKPd (Tempat Kejadian Pembunuhan diri).
Kakak perempuan saya pulang dengan bangga, sebagai anak “pemburu berita” telah berhasil membuktikan bahwa darah pemburu itu benar-benar mengalir dengan deras dalam urat-urat darahnya yang masih muda itu. Dia masih ingat mengambil bungkusan belanja yang dia ambil di depan pagar rumah.
Sebagai seorang “pemburu berita” maka dia langsung melapor kepada Pemimpin Redaksi, kebetulan Ayah kami ada di rumah, lengkap dengan seluruh keluarga. Semua dengan penuh nafsu mendengarkan berita yang disajikan oleh reporter muda kami itu. Bahkan, persis seperti reporter televisi di tempat kejadian yang ditanyai oleh penyiar di studio, dia berhasil menjawab dengan tangkas semua pertanyaan dari kami yang penuh rasa ingin tahu. Maklum sama-sama anak “pemburu berita”, sehingga masing-masing ingin pamer bahwa ilmu 5W+H sudah benar-benar menempel di benak dan mengalir deras di darah kami.
Satu pertanyaan nyaris saja tidak bisa dia jawab ketika Ibu kami bertanya tentang barang-barang yang dia beli. Karena sesaat dia lupa bahwa barang-barang itu diletakkan di atas meja di ruang tamu. Semakin banggalah dia bahwa selain berhasil memburu berita, dia juga berhasil menunaikan tanggung jawabnya membeli barang, membawa pulang dengan selamat dan menyerahkan utuh-utuh kepada Sang Ratu.
Ketika salah satu adiknya bertanya di mana sepeda yang dia bawa pergi belanja, karena sang adik ingin pinjam, saat itulah dia mendadak bisu. Lari ke luar, dan tidak melihat sepeda itu. Balik lagi ke dalam dan benar-benar linglung karena barang belanjaan utuh ada di atas meja ruang tamu.
“Kenapa? Tadi sepedamu diletakkan di mana?” tanya Ibu.
“Tadi aku letakkan di depan pagar.”
“Berarti sudah hilang diambil orang.” Kata salah satu adiknya.
“Tapi kenapa barang belanjaan ini tak diambil?” dia masih protes.
“Karena pencurinya perlu sepeda, tak perlu daging, sayur apalagi bawang.” Kata adik yang lain.
Ketika itulah tawa Ayah kami meledak sambil berkata “Kau hebat sebagai pencari berita, tapi kau lupakan penjagaan pada peralatan yang sedang kau gunakan. Akan lebih parah lagi kalau saat mencari berita kau lupakan penjagaan pada keselamatan nyawamu.”
Dia kemudian dihukum harus jalan kaki pergi dan pulang sekolah, yang berjarak sekitar 4 kilometer dari rumah kami. Tentu saja dia tidak kehabisan akal karena ada banyak adik atau teman yang mau menjemput dari rumah dan mengantarkan pulang dari sekolah. Sehingga hukuman itu hanya berjalan 1 bulan, diapun dibelikan sepeda lagi.
Kejadian lucu dan hanya kejadian kecil, memang. Tetapi ada satu hal yang karena itu terus saja saya ingat. Benar, bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, tetapi yang paling baik untuk mendapatkan pelajaran adalah dari pengalaman orang lain.
Benar sekali. Seringkali orang merasa sangat pasti bahwa pengalaman (sendiri) adalah guru yang paling baik. Coba Anda lihat pengalaman kakak perempuan saya itu. Kehilangan sepeda, harus menumpang saudara atau teman untuk pergi dan pulang sekolah bila tidak ingin berjalan kaki, sementara pelajaran yang dia dapat memang sangat baik: jangan pernah lupakan tanggung jawab kita, apalagi nyawa sendiri, hanya untuk mendapatkan berita. Sementara kami juga mendapatkan pelajaran yang sama, tanpa harus mengalami sendiri.
Sehingga ada seorang teman saya yang justru menyatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling buruk. Karena dia membuat kita menderita terlebih dahulu sebelum mendapatkan pelajaran. Dari dua pendapat tersebut: pengalaman adalah guru yang baik atau pengalaman adalah guru yang baik, maka saya tetap berpendapat bahwa pengalaman (orang, bukan pengalaman sendiri) adalah guru yang baik.
Mari kita lihat dari segi bisnis atau perusahaan. Untuk sebuah konsep seperti balanced scorecard pada awal diperkenalkan ada sekitar 12 perusahaan yang mencoba dari awal, tanpa tahu tantangan dan hambatan yang akan muncul, menjalankan, mengalami masalah, mengatasi cobaan dan berhasil. Begitu pula dengan konsep six sigma yang digunakan Motorola dan General Electric.
Mereka menjalani dan membukukan semua kejadian. Menginformasikan semua pengalaman dari mulai hingga berhasil. Beberapa mungkin tidak menginformasikan catatan kegagalan mereka, tidak apa, karena mereka mencatatkan dan menginformasikan langkah-langkah yang harus dihadapi untuk menghadapi tantangan agar bisa berhasil. Itu saja sudah lebih dari cukup, karena itu adalah tantangan yang mereka alami, dan petunjuk pengoperasian adalah cara untuk mengatasi masalah.
Karena ketelitian mereka dalam mencatat dan kepiawaian mereka dalam mengatasi masalah, maka telah diinformasikan banyak cara untuk mengatasi masalah yang sangat beragam. Dan itu informasi yang sangat-sangat berharga.
Ada banyak variasi, ada banyak modifikasi solusi, karena ada beragam masalah. Sehingga siapapun Anda, bagaimanapun kondisi perusahaan yang Anda pimpin dan apapun kondisi yang Anda hadapi, kemungkinan besar sudah ada dalam informasi tersebut. Anda hanya perlu mencoba yang telah mereka lakukan untuk mengatasi masalah Anda.
Benar memang, bila Anda mengatakan bahwa ada beberapa kondisi atau situasi yang tidak akan sama antara di Indonesia dengan di negara tempat konsep-konsep manajemen tersebut dilahirkan. Tetapi benarkah perbedaan itu sedemikian besarnya sehingga tidak ada cara lain untuk memodifikasi sedikit konsep tersebut agar dapat dipergunakan di Indonesia? Apakah masalah Anda justru ada pada konsentrasi Anda yang tidak terlalu fokus untuk menggali sebanyak mungkin informasi yang ada?
Ada banyak sekali penghematan yang dapat dilakukan tanpa menyengsarakan para pegawai perusahaan. Ada banyak sekali tambahan pendapatan yang berhasil mereka raih. Semua itu dalam angka milyar dollar Amerika Serikat dalam satu tahun. Bukan angka yang kecil. Bukan main-main. Itu angka yang bukan main.
Jadi, haruskah kita mencoba-coba cara lain untuk mendapatkan penghematan yang sama besar, atau meraih tambahan pendapatan yang bukan main-main? Masihkah kita ingin mengalami sendiri kesulitan mencari hingga menemukan konsep manajemen yang cocok?
Percayalah, pengalaman (orang) memang guru yang paling baik.
ardian.syam@gmail.com – Medan – Juni 2007
|