"Merdeka" merupakan sifat dasar manusia. Dengan sifat ini, setiap insan bebas untuk menjadi apapun. Karenanya, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sesungguhnya merupakan sebuah pintu gerbang emas bagi bangsa Indonesia untuk "memerdekakan" segenap potensinya.
Sayangnya, belum banyak anak bangsa yang "berhasil" memahami makna "Merdeka". Tengoklah, betapa sering kita jumpai demonstran yang menyatakan kekecewaannya karena menilai pemerintah telah "gagal" mensejahterakan mereka.
Benarkah mereka (dan kelompoknya) memang tidak memiliki pilihan hidup? Sebelum menjawabnya, tengoklah dua bangsa ini, Jerman dan Jepang, dua raksasa teknologi dan ekonomi. Pada akhir Perang Dunia II, keduanya sungguh berada di titik nadir. Tapi situasi serba sulit itu tidak mampu memadamkan potensi mereka. Bom atom tidak mampu memadamkan potensi bangsa Jepang. Kisruh politik Blok Barat-Timur pun tidak mampu memadamkan potensi bangsa Jerman. Lantas, apakah ADA alasan bagi Bangsa Indonesia untuk memadamkan potensinya? Ada sebuah bukti ilmiah yang menggambarkan makna ”Merdeka”.
Tahun 1985, di Pameran Teknologi Tsukuba, seorang ahli agronomi, Shigeo Nozawa, berhasil memamerkan sebuah pohon tomat yang memiliki 12.000 buah tomat sekaligus, TANPA rekayasa bioteknologi APAPUN. Biji tomat yang digunakannya sama persis dengan kebanyakan biji tomat di dunia. Kuncinya, Nozawa meyakini bahwa potensi tanaman justru dihalangi oleh kenyataan bahwa akarnya tumbuh di tanah.
Karena itu, dengan metode hidroponik, tomat tersebut dibudidayakan dalam air yang kaya dengan nutrisi. Hasilnya, ”Kemerdekaan” itu menghasilkan 12.000 buah sekaligus! Lantas, bagaimana dengan anggapan bahwa potensi bangsa Indonesia memang ”lemah”? Pakar genetika Kazuo Murakami, PhD, dalam bukunya yang berjudul ”The Devine Message of the DNA” menyatakan bahwa gen (DNA) setiap manusia sesungguhnya serupa.
Setiap DNA manusia mengandung 3.5 Milyar ”informasi”. Yang membedakan adalah, tiap manusia mengaktifkan ”informasi” yang berbeda-beda dari DNA nya. Itupun umumnya hanya 5-10% dari 3.5 Milyar ”informasi” yang tersedia. Artinya, ”informasi” tentang sifat ”inovatif” Bangsa Jepang sesungguhnya juga ada dalam DNA Bangsa Indonesia, hanya saja belum dinyalakan. ”Informasi” tentang ”mental baja” Bangsa Jerman juga ada dalam DNA Bangsa Indonesia, hanya saja sekali lagi, belum dinyalakan. Kazuo Murakami lebih jauh menyatakan bahwa mekanisme ”nyala/padam” dalam DNA tidak ada hubungannya dengan keturunan. Bahkan, ”nyala/padam” ini dapat terjadi di usia berapapun.
Artinya, siapapun PUNYA kesempatan yang sama untuk bangkit. Menurut Kazuo Murakami, ada 2 faktor dominan yang memicu ”nyala/padam” ini, yaitu lingkungan dan pola pikir. Faktor lingkungan dibuktikan secara ilmiah melalui bakteri E. Coli, bakteri usus, yang selama puluhan tahun dianggap hanya bisa hidup dari glukosa (zat gula). Ternyata E. Coli berhasil dibiakkan dalam laktosa murni. Artinya, DNA bakteri E. Coli sesunguhnya memang mempunyai potensi ”memakan” laktosa, hanya saja selama ini ”belum” pernah diaktifkan.
Pada akhir penelitiannya Murakami sampai pada kesimpulan, bahwa kemajuan seseorang hanya bisa dipicu oleh keinginan kuat dirinya sendiri untuk berubah. Tanpa adanya hasrat untuk ”berubah” dan tanpa adanya tekad yang kuat, informasi ”positif” dalam DNA manusia akan sulit untuk ”dinyalakan”. ”Nyala/padam” adalah pilihan bebas setiap manusia.
Perayaan 17 Agustus adalah sebuah momentum. Tiap kita merayakannya, artinya kita semua diingatkan, sudahkah kita “Merdeka” untuk menyalakan potensi kesuksesan kita. Ditulis oleh Tommy Setiawan, seorang pengamat MLM. Tommy dapat dihubungi melalui email blowbytommy@yahoo.com
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Tommy Setiawan ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Membalikkan Diagram Hirarki Maslow
|
 |
Mewujudkan Kesuksesan Tanpa Batas
|
 |
Melepaskan Diri dari Jebakan Permainan Pikiran
|
 |
Kemuliaan Sifat Berbagi Dari Para Philanthropist
|
 |
Kesuksesan Sama Dengan Ukuran Seberapa Besar Anda Menguntungkan
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Mengisi Kemerdekaan Dengan Kerja Keras
(Artikel Anda) -
Senin, 17 September 2007
|
 |
Rendah Hati, Bukan Rendah Diri Lho!
(Artikel Anda) -
Kamis, 20 September 2007
|
 |
My Spirit - Rumus S U K S E S
(Artikel Anda) -
Senin, 24 September 2007
|
 |
Percaya Diri? Arogan? Minder ?
(Artikel Anda) -
Selasa, 25 September 2007
|
 |
Goal Praying, Membangun Sukses Dari Dalam Hati
(Artikel Anda) -
Jumat, 28 September 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Lawan Adalah Kawan Kita
(Artikel Anda) -
Jumat, 07 September 2007
|
 |
Berteman Dengan Stres
(Artikel Anda) -
Selasa, 04 September 2007
|
 |
Kehidupan Adalah Soal Sikap
(Artikel Anda) -
Kamis, 23 Agustus 2007
|
 |
Pentingnya Sikap Dan Berfikir Positif
(Artikel Anda) -
Rabu, 15 Agustus 2007
|
 |
Arti Penting Sebuah Tujuan Hidup
(Artikel Anda) -
Kamis, 09 Agustus 2007
|
|
|