Pernahkah Anda merenungkan, bahwa pada puncak kesempurnaan, segala sesuatunya justru akan tampil dalam wujudnya yang sederhana? Para insan luarbiasa yang telah mencapai taraf kesempurnaan, mereka yang telah menjadi standar tertinggi dalam bidangnya, justru akan tampil secara sederhana. Mereka akan jauh dari segala kerumitan dan kompleksitas yang seolah dibuat-buat sekedar untuk menonjolkan kehebatannya.
Kesempurnaan di atas tentunya dalam batas manusiawi, karena sempurna adalah hak mutlak dari Tuhan. Namun sesungguhnya, Tuhan sebagai puncak dari segala kesempurnaan, juga selalu menyapa kita dengan bahasa-Nya yang sederhana. Karena itulah, bila kita ingin muncul sebagai pribadi unggulan, tentunya harus dimulai dengan menampilkan diri kita secara sederhana.
Sederhana di sini bukan berarti asal jadi ataupun memakai standar minimal. Sederhana dalam kesempurnaan adalah kesederhanaan yang cantik, yaitu sederhana namun berdampak. Kesederhanaan yang cantik adalah kesederhanaan yang mudah dipahami, namun getarannya, aura-nya, akan menerangi orang disekitarnya. Ia akan tampil sebagai solusi yang bersinar terang benderang.
Dalam kisah silat klasik, digambarkan bahwa makin tinggi tingkat ilmu seorang pendekar, maka bhesi (kuda-kudanya) saat akan mulai bertarung justru makin sederhana. Robert Kiyosaki memilah-milah rencana investasi dengan sebuah prinsip, ”Bila sebuah rencana investasi dapat dipahami dalam waktu yang singkat karena isinya yang sederhana, maka itu adalah rencana yang nyata.”
Hermawan Kertajaya mendapat pujian khusus dari Prof. Philip Kotler, guru besar marketing dunia, karena kemampuannya dalam membuat modelling. Hermawan selalu menjelaskan fenomena marketing dengan model-modelnya yang sederhana. Beliau selalu berpegang pada prinsip, ”Simplifying the complexity, not complicating the simple things.”
Mario Teguh menjadi seorang konsultan bisnis yang talkshow dan tulisan-tulisannya selalu ditunggu-tunggu karena kemampuan beliau dalam menyampaikan suatu hal secara sederhana namun lugas dan berdampak luarbiasa bagi pendengarnya. Beliau selalu berprinsip, “Hanya dia yang kualitas prosesnya prima yang akan mencapai keprimaan.” Just that simple!
Apa hikmah yang bisa kita ambil dalam kisah di atas? Bahwa ternyata, kemampuan untuk tampil sederhana hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah memahami hakikat sejati dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai manusia. Seseorang akan menjadi ”cahaya” bila ia mampu menjadi solusi bagi lingkungannya, dan bukan justru menjadi bagian dari masalah.
Sederhana adalah kerabat dekat dari solusi, sedangkan keruwetan, kompleksitas dan berlebihan adalah kerabat dekat dari masalah.
Ditulis oleh Tommy Setiawan,
Pengamat MLM, penulis buku “BLOW!” (Benefit-Leadership-Organize-Worldly).
Tommy dapat dihubungi melalui email blowbytommy@yahoo.com atau melalui 0812 80 56772.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Tommy Setiawan ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Resource Leverage, Kunci Sukses Kerajaan Mataram
|
 |
Pentingnya Menebar Energi Positif
|
 |
Memaknai Kompetisi Sebagai Sebuah Pusaran Sinergi
|
 |
Melepaskan Diri dari Jebakan Permainan Pikiran
|
 |
Saatnya Memerdekaan Dna Kesuksesan Anda
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Arti Kebahagiaan
(Artikel Anda) -
Kamis, 26 April 2007
|
 |
Mencari Uang Atau Mencari Prestasi?
(Artikel Anda) -
Senin, 30 April 2007
|
 |
Tips Of Effective Writing
(Artikel Anda) -
Kamis, 10 Mei 2007
|
 |
Sang Keledai
(Artikel Anda) -
Sabtu, 12 Mei 2007
|
 |
Kedamaian Pikiran
(Artikel Anda) -
Senin, 14 Mei 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Menjadi Bahagia?
(Artikel Anda) -
Jumat, 20 April 2007
|
 |
Dont Stop Studying
(Artikel Anda) -
Selasa, 17 April 2007
|
 |
Sebatang Bambu
(Artikel Anda) -
Senin, 16 April 2007
|
 |
Wortel, Telor Dan Kopi
(Artikel Anda) -
Minggu, 15 April 2007
|
 |
Kekuatan Dari Fokus
(Artikel Anda) -
Sabtu, 14 April 2007
|
|
|