Masa kecil yang kurang bahagia tak tergambar lagi di wajah
Leonardo Del Vecchio, pengusaha Italia kelahiran Milan 22 Mei 1935. Sekarang, dunia menyebutnya sebagai penguasa industri kacamata dunia. Dari perusahaannya kini ia menggelontorkan 28 juta set kacamata untukmemenuhi permintaan dunia setiap tahunnya. Ia menguasai berbagai merek kacamata mulai dari
Luxottica, Oakley, Prada, Versace, Chanel, Bvlgari, Ray Ban, dan sebagainya. Bagaimana ia memulainya?
Seperti banyak pengusaha sukses, ia memulainya dari kepahitan hidup di masa kecil. Del Vecchio dibesarkan oleh ibunya yang menjadi orangtua tunggal. Ayahnya meninggal lima bulan sebelum ia lahir. Karena tidak mampu, ibunya menitipkan dia ke panti asuhan saat Del Vecchio berusia tujuh tahun.
Masa kecil yang seharusnya penuh dengan dunia permainan tak bisa ia jalani seutuhnya karena ia harus bekerja sejak anak-anak. Del Vecchio bekerja sebagai tukang gravir medali di Milan. Ternyata bekerja seperti itu melahirkan kegemaran baru. Ia begitu antusias mengerjakan tugasnya bahkan bisa sampai larut malam. Kegemaran ini malah menumbuhkan kebiasaan yang terus ia pegang sampai kini. Ia selalu fokus pada pekerjaan yang dihadapinya.
Ketertarikannya pada desain logam terus ia kembangkan dengan cara belajar disain di Brera Academy of Art. Untuk membiayai sekolahnya ia bekerja di sebuah toko. Pada periode ini ia tertarik mempelajari pembuatan kacamata. Lalu ia menemukan peluang membuat komponen kacamata dari plastik untuk memasok sejumlah pabrik kacamata kecil.
Pada tahun 1961, dengan modal dari dua orang pelanggannya, ia pindah ke Agordo, daerah yang terkenal dengan kerajinan perhiasannya. Selanjutnya, ia mendirikan pabrik komponen kacamata yang lebih besar. Di sini, ia membuat komponen kacamata berbahan plastik dan logam dengan jumlah komponen yang lengkap. Ia mengembangkan usahanya di bawah payung Luxottica, perusahaan miliknya.
Del Vecchio dan perusahaannya
Menariknya, Del Vecchio tak pernah lelah belajar. Ketika produksi kacamata sudah komputerisasi ia juga balajar proses produksi yang serba praktis itu dan menerapkannya dalam perusahaannya. Dengan proses ini produksinya jadi efisien sehingga harganya bersaing. Ia juga selalu memperhatikan desainnya yang fashionable. Pada tahun 1967, Del Vecchio sudah bisa meluncurkan kacamata sendiri dengan merek Luxottica. Dari sinilah ia mulai mengembangkan bisnis kacamatanya. Bahkan industri komponen kacamatanya untuk memasok perusahaan lain sudah ia hentikan pada tahun 1971 dan konsentrasi di pembuatan kacamata sendiri.
Del Vecchio juga jeli menjalankan bisnisnya. Tahun 1974, ia mengakuisisi perusahaan distribusi kacamatanya. Dengan memiliki jaringan distribusi ini ia jadi menguasai industri kacamata dari hulu sampai hilir. Apalagi seiring berjalannya waktu ia terus mendekati perusahaan-peruahaan kacamata ternama agar mau memanfaatkan jaringan distribusinya.
Industri kacamatanya terdongkrak saat dunia demam Top Gun pada pertengahan tahun 1980-an. Dalam film tersebut, Tom Cruise mengenakan kacamata Ray Ban 3025. Kacamata itu pun jadi buruan penggemar Tom Cruise dan tentu saja jaringan toko kacamata Del Vecchio ketiban untung.
Tom Cruise mengenakan kacamata Ray Ban di film Top Gun
Kini, selain memproduksi kacamata untuk kalangan kelas atas sebanyak 28 juta set setahun, Del Vecchio juga menguasai jaringannya. Di bawah kekuasaannya merek-merek kacamata seperti Luxottica, Ray Ban, Vogue, Persol, Arnette, Killer Loop, Revo, Sferoflex, dan T3 ia pasarkan ke seluruh dunia. Sedangkan dalam hal produksi, Luxottica memproduksi kacamata atas lisensi Armani, Chanel, Ferragamo, Bvlgari, Byblos, Genny, Ungaro, Tacchini, Moschino, Web, Anne Klein, dan Brooks Brothers. Produk-produk kacamata ini diedarkan ke lebih dari 100 negara di dunia.
Kini anak yang sudah yatim ketika lahir ini dianggap sebagai raja industri kacamata dunia. Kunci suksesnya adalah ketekunan, mau belajar, fokus, dan bekerja penuh pengabdian. Sampai kini ketika usianya sudah lebih dari 70 tahun dan sukses, ia masih bekerja 14 jam sehari, suatu etos kerja yang patut diteladani!
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Tim AndrieWongso.com
|
 |
Final Pertama Piala AFF - Indonesia Kalah 0-3
|
 |
Paulo Coelho, Si Penulis The Alchemist
|
 |
Belajar dari Merpati
|
 |
Sembilan Alasan untuk Bangun Lebih Pagi
|
 |
Ditemukan Suhu Terdingin di Muka Bumi
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Tania Gunadi: Mojang Bandung Jadi Artis Hollywood
(Success Story) -
Senin, 25 April 2011
|
 |
Tex Saverio: Karyanya Dipakai Lady Gaga
(Success Story) -
Kamis, 05 Mei 2011
|
 |
Joe Simpson, Menyentuh Kehampaan
(Success Story) -
Rabu, 18 Mei 2011
|
 |
Friedrich Engl - 1 Ons Action Lebih Berharga Dari 1 Ton Teori
(Success Story) -
Kamis, 26 Mei 2011
|
 |
Bisnis Itu Simple, Tapi Tidak Berarti Mudah
(Success Story) -
Senin, 30 Mei 2011
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Belajar Bijak Dari Legenda Pelatih Olahraga Dunia
(Success Story) -
Kamis, 31 Maret 2011
|
 |
Bob Williamson: Hampir Bunuh Diri Tapi Memilih Bangkit
(Success Story) -
Jumat, 25 Maret 2011
|
 |
Yoshikazu Tanaka, Mark Zuckerberg-nya Asia
(Success Story) -
Jumat, 11 Maret 2011
|
 |
Resep Sukses Brian Tracy
(Success Story) -
Selasa, 08 Maret 2011
|
 |
Catherine Elizabeth:Anak Buangan Yang Jadi Pengusaha Panutan Di AS
(Success Story) -
Selasa, 01 Maret 2011
|
|
|