| Misi : Membangun Kekayaan Mental Manusia Indonesia Demi Kehidupan Yang Lebih Bernilai | ||
| Slogan : Bosan kita menderita ! Saatnya Bersama ! Bangun Indonesia ! | ||
| Kalender November 2008 | ||||||
| S | M | T | W | T | F | S |
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
| • Prie GS |
| Jumat, 28-Desember-2007 |
| 09:20:15 WIB |
| Siapa Takut Jatuh Cinta |
| • Prie GS |
| Senin, 24-September-2007 |
| 16:24:41 WIB |
| Berkah Seorang Penipu |
| • Prie GS |
| Selasa, 27-Mei-2008 |
| 10:11:49 WIB |
| Ketika Aku Di Rumah Sendiri |
| • Prie GS |
| Selasa, 11-September-2007 |
| 15:39:59 WIB |
| Dua Jam Sebelum Keberangkatan |
| Agenda Motivasi |
| Cover Semi Kulit |
| Foto Andrie Wongso beserta tulisan Success Is My Right |
View Shopping Product |
|
Keramaian Di Kampungku ( 0 Komentar ) Rating Artikel : Oleh : Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA Di kampungku dahulu, setiap keramaian adalah berkah. Jika ia berupa hajat khitanan atau pernikahan, biasanya ditandai dengan pemasangan pengeras suara berbentuk corong yang dipasang tinggi-tinggi. Begitu tingginya sehingga tak jarang corong itu harus dipacak di pohon kelapa yang gaungnya bisa menjangkau hingga ke tujuh desa. Maka perhelatan di desa yang sana, kegembiraannya terasa hingga di sini. Cuma karena corong itu, banyak desa-desa tetangga ikut terhibur karenanya. Sehari semalam corong itu akan berbunyi menandai perhelatan. Siang hari, corong ini akan didominasi oleh tembang dan gamelan yang lembut iramanya. Maka siang di kampungku dulu, ada siang yang panas berhiaskan gamelan sayup-sayup di kejauhan yang mendatangkan efek artistik yang sulit aku lupakan. Di malam hari corong ini akan menutupnya dengan menyetel kaset wayang semalam suntuk. Wayang adalah hiburan keramat di kampungku. Bahkan cuma dengan mendengarkan kasetnya dari kejauhan, telah menjadi sumber kegembiraan. Kini tradisi perhelatan di kampungku itu sejatinya masih serupa. Ada orang mengkhitankan anaknya, ada orang-orang datang untuk menyumbang sekadarnya. Ada orang mengakhiri masa lajang, lalu orang-orang berdatangan mengucapkan suka cita. Yang berbeda barangkali adalah kerapatannya. Jarak antara khitanan satu dengan yang lain, jarak orang kawin satu dengan yang lain, rasanya longgar sekali. Maklum, saat itu, bahkan Rhoma Irama pun belum menyanyikan lagu 135 juta Penduduk Indonesia. Program transmigrasi juga belum dicanangkan. Jadi negeri yang disebut Soekarno terdiri dari 10 ribu pulau ini, pasti sedang kekurangan penduduk. Kini, jumlah penduduk Indonesia telah berkembang tiga kali lipatnya. Maka wajar jika jarak khitanan satu dengan yang lain, perkawinan satu dengan yang lain, rasanya sedemikian dekatnya. Hari ini ada undangan, besok undangan. Hari ini khitanan, besok kawinan. Tak jarang dua-tiga undangan malah datang secara berbarengan. Seorang pegawai kecil, malah terpaksa menyambut aneka undangan ini dengan omelan. "Ia bisa menghabiskan gajiku sebulan," katanya. Entah bercanda, entah betul-betul menderita. Itupun yang pegawai, meskipun rendahan. Lalu bagaimana kalau undangan ini dialamatkan pada seorang pengangguran? Karena jangankan yang diundang, bahkan tak jarang, si pengnudang sendiri, yang sedang kawin itu, tak jarang adalah juga seorang pengangguran. Di negaraku, penganggur yang nekat kawin banyak sekali. Baik karena kawin terpaksa maupun sekadar karena musim kawin telah tiba. Maka bisa dibayangkan jika yang kawin adalah seorang penganggur, yang menyumbang juga seorang penganggur pasti dramatik situasinya. Tak jelas bagaimana mekanismenya, yang pasti di perhelatan itu, semua kelihatan gembira, perlente dandannanya dan semuanya seperti punya uang dan serba riang gembira. Perbedaan yang kedua adalah soal loudspeaker dan musik apa yang disetelnya. Kini sudah tak ada lagi corong yang dipancang di pohon-pohon kelapa. Gantinya adalah kotak-kotak salon raksasa yang dipasang bertumpukan. Kalau ia terletak di pinggir jalan bisa menimbulkan kemacetan dan gempuran suaranya serasa hendak menerbangkan kendaraan dan melubangi jalan. Yang distel pun bukan lagi tembang-tembang gamelan melainkan sudah berganti menjadi dangdut koplo. Di sebut koplo karena musik jenis ini konon enak untuk dipakai menggoyangkan kepala sedemikian rupa sehingga seluruh otak seperti berhamburan rasanya. Kepala tanpa otak itulah yang kemudian terasa ringan dan membuat manusia sampai pada takaran bebas otak alias koplo! Maka bisa dibayangkan, jika di sebuah siang yang terik, terdengar dangdut koplo yang kerasnya bisa menerbangkan kendaraan, disetel oleh seorang pengantin pengangguran dan didengar oleh penyumbang yang juga seorang pengangguran. Di negaraku, pemandangan semacam itu semakin mudah ditemukan!
|
|||||
![]() | |||||
| Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA Komentar Artikel : | |||||
| Belum Ada Komentar Untuk Artikel Diatas. Posting komentar Anda | |||||
|
|||||
|
( View : 2907 | Refer : 0 | Print : 99 | Rate :
7.00 / 5 Votes )
| |||||
| Artikel Selanjutnya | |||||
| Anjing Yang Setia - Senin, 09-Juli-2007; 08:30:07 | |||||
| Forgiveness - Kamis, 12-Juli-2007; 08:43:07 | |||||
| Borobudur, Jati Diri Bangsaku - Jumat, 13-Juli-2007; 11:08:51 | |||||
| 36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-21 - Jumat, 13-Juli-2007; 16:01:16 | |||||
| Saat Aku Terima Sms-mu - Senin, 16-Juli-2007; 11:08:57 | |||||
| Artikel Sebelumnya | |||||
| 36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke - 20 - Kamis, 05-Juli-2007; 16:58:23 | |||||
| Bahu Membahu Membela Yang Keliru - Selasa, 03-Juli-2007; 09:44:52 | |||||
| Kesan Pada Sekuntum Bunga - Selasa, 03-Juli-2007; 09:43:53 | |||||
| Semut dan Lalat - Senin, 02-Juli-2007; 13:53:39 | |||||
| Komunikasi Berdasarkan Ekspresi - Pengungkap (expresser) - Senin, 02-Juli-2007; 13:49:53 | |||||
| Pengunjung Kemarin | 3706 |
| Pengunjung Hari Ini | 1214 |
| Online | 51 |