Dalam perjalanan turun dari pendakian puncak pegunungan Hyang Argopuro (3080 mdpl) Jawa Timur tahun 1998 ada suatu kejadian yang sangat menarik yang sampai sekarangpun tidak akan pernah terlupakan.
Saat itu saya, Koko, Nyak, Brudin, Bottom dan Cengel, kami berlomba turun dari puncak menuju sebuah desa kecil bernama Bremi yang harus di tempuh dalam waktu 10 jam. Saya, Koko, Nyak dan Brudin bersusah payah mengimbangi stamina Bottom dan Cengel yang masih sangat fit karena mereka yang termuda, Memasuki desa Bremi sekitar jam 21.00 kami sangat kaget karena Bottom dan Cengel belum sampai padahal mereka di depan kami, kami panik terutama saya yang menjadi leader. Saya memutuskan setelah istirahat sejenak untuk kembali menyusuri jalan ke puncak bersama Koko dan Brudin.
2 jam perjalanan disebelah kanan kami dari kejauhan terlihat sorotan lampu yang digerak-gerakkan sambil terdengar teriakan yuhu…., kamipun berbalas teriak sambil menanyakan keadaan karena di antara kami ada jurang yang sangat dalam. Saya mengambil keputusan untuk turun lagi meminta bantuan warga desa. Perjalanan turun hanya kami tempuh dalam waktu 25 menit karena panik, kami berjanji bila warga desa bisa membawa turun, masing –masing akan kami beri uang 50.000,-.
Setelah istirahat kami naik lagi bersama pak Budi, pak No dan pak Yan sambil mereka menceritakan bahwa tempat teman kami tersesat itu namnya gunung Gendeng dan sering para pendaki tersesat di tempat tersebut karena ada simpang di atas yang membingungkan. Di luar dugaan warga kampung ini langsung belok kanan turun jurang yang ternyata memang ada jalan setapak, tidak sampai satu jam Bottom dan Cengel kami temukan dalam keadaan sehat wal afiat.
Dalam perjalan menuju Bremi saya menanyakan ke Koko dan Brudin apa tidak kebanyakan kalo kita kasih warga desa masing-masing 50.000??? (nah mulai) apa tidak lebih baik kita kasih 50.000 saja untuk tiga orang ini??? Karena apa yang mereka kerjakan sangatlah gampang tidak sama dengan bayangan kami yang sangat ketakutan. Koko setuju, Brudin diam saja mungkin sedang berpikir...
Sesampai di base camp Bremi saya ceritakan dilema ini ke Nyak selaku bendahara team yan terkenal pelit, penuh perhitungan dan tidak gampang luluh hatinya. Diluar dugaan sambil berdiri Nyak mengatakan ”bayar 150.000,- untuk warga desa, kalian apa-apaan, buat janji sendiri, di beri kemudahan e malah mau ingkar janji nggak komit, dosa lho..!!!.”.
Nah begitulah ceritanya yang sampai saat ini banyak sekali kejadian dan janji-janji yang dikeluarkan hanya karena keterpaksaan belaka baik di politik, pemerintahan, lingkungan keluarga, kantor atau kepada diri sendiri.
Sebagai seorang atasan banyak sekali janji yang akan diberikan bila anak buah mencapai goalnya namun sering di langgar karena melihat sang anak buah dengan mudahnya mencapai goal tersebut. Atau kita sendiri berjanji ke keluarga kita, istri kita, suami kita, anak kita sudahkah ditepati???
Bahkan yang paling menyedihkan adalah hubungan dengan Tuhan, di saat masih jadi bawahan100% ibadah dengan tekun dilakukan memohon naik jabatan, sambil merayu Tuhan ”aku tidak akan melupakan MU, aku akan bertambah tekun beribadah kepada MU” . Namun setelah naik jabatan di posisi strategis hubungan dengan Tuhan jadi hanya 10% bahkan sangat tragis menjadi 0% sambil dengan sombong mengatakan ”ini kan telentaku, ini kemampuanku, ini perjuanganku, ini kan karena aku mati-matian mendekati bagian personalia, ini karena aku sangat cemerlang, ini karena otakku encer...” dan ini ini yang lain..
Dari sini marilah kita belajar memegang teguh setiap komitmen kita, kita mulai dari diri sendiri dulu, setiap malam sebelum tidur cobalah merenung sebentar tidak lebih dari 3 menit jawablah pertanyaan ”apakah hari ini semua komitmen sudah ku lakukan???” kalau jawabanya ”sudah beres” niscaya tidur anda akan lebih nyenyak, bila jawabannya ”belum”ambillah kertas dan pena bikin catatan besok akan dilaksanakan, niscaya tidur anda juga akan lebih nyenyak, selamat mendaki komitmen. Ayo dong komit !!! siapkah kita??
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Rahmad Yulianto
|
 |
Mendaki Komitmen
|
 |
Senjata
|
 |
Penonton
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Gajah Sirkus
(Artikel Anda) -
Kamis, 28 Juni 2007
|
 |
Antara Cinta Dan Nafsu
(Artikel Anda) -
Jumat, 29 Juni 2007
|
 |
Sukses Memulai Karir Bagi Pemula
(Artikel Anda) -
Senin, 02 Juli 2007
|
 |
Breakthrough Vs Conquest
(Artikel Anda) -
Senin, 09 Juli 2007
|
 |
Harga Dari Sebuah Target Kehidupan
(Artikel Anda) -
Selasa, 10 Juli 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Belajar Dari Sikap Progresif Lion Air
(Artikel Anda) -
Jumat, 22 Juni 2007
|
 |
Arti Sebuah Pesta Pernikahan
(Artikel Anda) -
Selasa, 19 Juni 2007
|
 |
Apa Adanya
(Artikel Anda) -
Jumat, 15 Juni 2007
|
 |
Juara Dunia Sejati
(Artikel Anda) -
Kamis, 14 Juni 2007
|
 |
5 Menit Dapat Mengubah Hidup Anda
(Artikel Anda) -
Selasa, 12 Juni 2007
|
|
|