Senin, 11-Juni-2007; 09:23:42 WIB
Beban "Ibu" Sungguhlah Berat ( 0 Komentar )
Rating Artikel :   Oleh : Agus Putranto, S.Kom, MT, MSc - Biro Kemahasiswaan Bina Nusantara
Sekitar bulan Juli – Agustus, penerimaan mahasiswa baru akan berlangsung. Yang terngiang di bayangan kita adalah pengojlokan mahasiswa baru oleh mahasiswa senior. Bulan Februari sampai dengan Juni adalah saat persiapan penerimaan mahasiswa baru oleh Perguruan Tinggi
Dalam penerimaan mahasiswa baru, saya akan ilustrasikan bagaimana ayah yang akan menerima seorang anggota baru di rumahnya.
Ada seorang keluarga, yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang anak, sebut saja Kakak. Ibu sudah cukup tua, tetapi Ayah ingin mempunyai 2 orang anak. Oleh sebab itu Ayah mengambil meminta kepada Ibu untuk mendapatkan seorang anak. Setelah lama, tidak mendapat jawaban, akhirnya sang Ayah berkeinginan mengangkat seorang Adik yang diambil dari panti asuhan. Oleh sebab itu Ayah bernegosiasi dengan si Ibu. Saat pertama Ibu tidak menyetujui pemikiran Ayah, tetapi karena Ayah bersikukuh maka akhirnya Ibu menyetujuinya.
Saat yang ditunggu tiba, pada sore hari, sepulang bekerja, Ayah membawa pulang seorang Adik. Ibu sudah menunggu di meja makan seperti biasa mereka makan malam bersama dengan Kakak. Kakak yang sudah mengetahui Adik baru yang akan datang, mulai cemas. Kakak takut si Adik tidak menghormati Kakak, si Adik tidak bisa mengikuti kebiasaan keluarga ini, si Adik tidak bisa berdisiplin diri seperti yang sudah menjadi tradisi keluarga, dan tidak bisa, tidak bisa yang lainnya. Akhirnya merekapun makan bersama. Mereka semua berkenalan dan Ayah berkata kepada Kakak, tolong dijaga Adik barumu ini, Ayah ingin kamu memberi tahu hal-hal yang tidak diketahui Adik.
Ayah merasa bahwa hal ini adalah tugas yang mudah. Tetapi berbeda dengan Kakak yang menginginkan sesuatu yang perfect. Ibu merasakan hal ini, Ibu yang mendekati Kakak untuk memberikan penjelasan. Ibu yang akan mendukung dan melindungi keinginan Ayah, walaupun Ibu belum sepenuhnya setuju dengan keinginan Ayah..
Akhirnya sang Kakak, dengan mengunakan kekuasaannya, bahwa dia yang senior, dia yang lebih lama, dia yang lebih tahu. Sang Kakak memaksakan kehendaknya, sehingga sang Adik merasa tertekan. Adik tidak akan menceritakan kesedihan dan ketertekannya ke Ibu, dan Ayah, karena takuk Kakak akan marah. Ibu tidak akan tinggal diam, Ibu akan meredakan kehendak Kakak, karena Ibu berpikir jika Kakak tidak dirangkul maka Kakak akan berontak. Begitu pula Ibu, jika memberi tahu Ayah, maka Ayah merasa Ibu membangkang/membantah kemauan Ayah. Ibu yang harus bisa memberikan nasehat ke Ayah, untuk membuat aturan dan lain sebagainya. Tetapi kadang Ayah merasa bahwa aturan itu tidak perlu dibuat, karena hal-hal yang sangat sepele misalnya tidak boleh memukul, dan merasa Kakak tidak akan bertindak keras.
Begitu pula Perguruan Tinggi, Ayah adalah Pimpinan Perguruan Tinggi, Kakak adalah senior atau mahasiswa yang sudah lama, Adik adalah mahasiswa baru. Memang dalam penerimaan mahasiswa baru adalah tanggung jawab pimpinan perguruan tinggi. Tetapi mahasiswa lama yang sering di sebut senior tidak akan tinggal diam dalam penerimaan mahasiswa baru. Kadang-kadang sulit diterima oleh senior dalam penerimaan mahasiswa baru, karena mahasiswa baru tidak disiplin, tidak menghormati senior dll. Dan di Perguruan Tinggi harus ada satu bagian atau departemen yang menjadi ”Ibu”, hanya Perguruan Tinggi yang bersangkutan yang tahu siapa ”Ibu”. Janganlah ”Ibu” ini dibuang atau diganti fungsinya. Hargailah dan hormatilah ”Ibu” kita.
|