Indonesia kehilangan salah satu tokoh terbaiknya dari dunia bulu tangkis:
Tahir Djide.
Pak Tahir (70 tahun) meninggal dunia akibat sakit kanker hati. Ia menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, Jawa Barat, pada Jumat (4/9). Beliau meninggalkan seorang istri dan dua orang anak.
Pada hari yang sama, jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung.
**
Tahir Djide menangani pelatnas bulu tangkis sejak 1971, sebagai pelatih teknik dan fisik. Dari tangan dingin pria kelahiran Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, itu lahirlah pemain-pemain besar seperti Rudy Hartono, Tjuntjun/Johan Wahyudi, Christian/Ade Chandra, Icuk Sugiarto, Liem Swie King hingga Ardy Bernadus Wiranata, Susi Susanti, Ivana Lie, Ricky Subagja, dan Taufik Hidayat.
Di mata mereka, Pak Tahir adalah pelatih hebat yang ketat dalam menerapkan disiplin.
"Program latihan yang beliau susun itu berat, tetapi kami semua menjalaninya dengan senang. Jarang ada pelatih bisa seperti itu," kenang Icuk, juara dunia 1986 yang ditempa oleh Tahir selama sepuluh tahun.
Gemblengan fisik yang berat juga diakui oleh Liem Swie King. Atlet bulu tangkis ini dikenal dengan smes keras disertai lompatan yang tinggi. "Kalau fisik tidak bagus, mana mungkin bisa seperti itu," ujar King.
"Pak Tahir memberi andil besar, membentuk saya sebagai juara," tutur King. "Sifat tak mau kalah yang ada pada diri saya ditanamkan oleh beliau, selain memang saya memiliki sifat itu. Pak Tahir menanamkan kedisiplinan, komitmen dan tanggung jawab. Kalau sudah menyatakan 'ya', artinya harus dilaksanakan! Pak Tahir juga memberi contoh. Ia selalu datang pagi-pagi dan mempersiapkan alat-alat. Beliau marah jika kami tidak bersemangat. Pak Tahir adalah potret pelatih yang baik."
Sementara itu, di mata anak-anaknya, Tahir adalah sosok ayah yang pekerja keras dan sangat besar pengabdiannya untuk negara.
**
Tahir Djide, yang bergelar profesor dan guru besar di bidang keolahragaan IKIP Bandung (sekarang Universitas Pendidikan Indonesia), mundur dari pelatnas pada 1 Maret 2008. Namun, ia tetap melanjutkan kecintaannya pada dunia bulu tangkis dengan mengelola sekolah bulu tangkis untuk anak-anak. Sekolah bernama Bulu Moto (BM) 77 itu, terletak di daerah Padasuka, Bandung.
Selamat jalan, "profesor bulu tangkis Indonesia"! Terima kasih atas kerja keras dan pengabdian Bapak. Semoga amal dan ibadahnya diterima di sisi Yang Maha Kuasa. Bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga selalu mendapat ketabahan, kekuatan, dan kesabaran.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Team Andriewongso.com
|
 |
Mesin Jahit
|
 |
Efektif Kerja Hanya Pada Sebelum Waktu Makan Siang
|
 |
Sepakbola Awali Laga Olimpiade Beijing 2008
|
 |
Sepuluh Password yang Paling Mudah Ditebak
|
 |
Pemanah, Rina Dewi Kandas Di 32 Besar
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Oudin Yang Fenomenal
(Sports Corner) -
Rabu, 09 September 2009
|
 |
Jordan Masuk Basketball Hall Of Fame
(Sports Corner) -
Minggu, 13 September 2009
|
 |
Jepang Terbuka Super Series – Kejutan Dari Atlet Indonesia
(Sports Corner) -
Kamis, 24 September 2009
|
 |
Jepang Terbuka Super Series - Simon Terus Melangkah
(Sports Corner) -
Sabtu, 26 September 2009
|
 |
Jepang Terbuka Super Series – All Indonesian Final Di Ganda Putra
(Sports Corner) -
Sabtu, 26 September 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Rekor Xue Bai
(Sports Corner) -
Rabu, 26 Agustus 2009
|
 |
Bolt, Manusia Tercepat Di Dunia
(Sports Corner) -
Rabu, 19 Agustus 2009
|
 |
Sejarah Super Dan
(Sports Corner) -
Minggu, 16 Agustus 2009
|
 |
Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis – Nova Dan Liliyana Ke Final
(Sports Corner) -
Sabtu, 15 Agustus 2009
|
 |
Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis - Sony Menang
(Sports Corner) -
Jumat, 14 Agustus 2009
|
|
|