Film KING telah beredar di bioskop-bioskop. Inilah film yang mengambil inspirasi dari perjalanan kesuksesan Liem Swie King (53 tahun), pebulu tangkis legendaris asal Indonesia. King dikenal sebagai juara tiga kali All England (1978, 1979, 1981) dan tiga kali Thomas Cup (1976, 1979, 1984).
Ceritanya, ada seorang anak bernama Guntur. Ia bercita-cita menjadi seorang juara bulu tangkis sejati, seperti idolanya, Liem Swie King. Guntur mengidolakan King karena ayahnya. Ayahnya itu, seorang komentator pertandingan bulu tangkis antarkampung, yang juga bekerja sebagai pengumpul bulu angsa (bahan untuk membuat kok/shuttlecock).
Ayah Guntur sangat mencintai olahraga bulu tangkis; dan dia menularkan semangat dan rasa cintanya akan cabang olahraga tepok bulu itu pada anaknya. Mendengar cerita-cerita sang ayah tentang King, Guntur bertekad menjadi juara dunia.
Kemudian, Guntur berusaha mendapatkan beasiswa bulu tangkis. Dengan semangat tinggi, ia berusaha mengatasi segala keterbatasan dan kendala yang ada di hadapannya. Ia mau berlelah-lelah dan melakukan berbagai pengorbanan berat.
***
Film KING dibuat di bawah bendera rumah produksi Alenia. Ia sarat dengan pesan mengenai hubungan antarkeluarga, semangat patriotisme, serta perjuangan. Ari Sihasale (Ale), dan Nia Zulkarnaen, pemilik rumah produksi ini, berharap filmnya dapat memberikan hal positif kepada masyarakat Indonesia. Juga, dapat memberikan motivasi kepada anak-anak muda Indonesia untuk menjadi seorang atlet bulu tangkis.
Mengapa sosok Liem Swie King yang terpilih? Menurut Ale, "Karena kisah hidup King memiliki sisi dramatis yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Tidak banyak orang yang tahu, kisah perjuangan Liem Swie King memiliki lika-liku yang menarik. Selain itu, King sendiri merupakan sosok yang bersahaja dan inspiratif."
Bagaimana kabar King sendiri, pada saat ini? Katanya, ia telah gantung raket sekitar 20 tahun silam. Kini, ia menjadi pengusaha dan menikmati hidup bersama istri dan ketiga anak mereka di daerah Jakarta Selatan.
King menilai, motivasi pemain muda bulu tangkis saat ini berbeda dengan motivasi pemain muda pada masanya. Pada era 1970-an hingga 1980-an, fasilitas sangat kurang dan hadiah untuk juara turnamen tidak seberapa banyaknya. Namun, semangat dan disiplin para pemain tetap tinggi. Ia berharap, anak-anak muda Indonesia saat ini mau peduli dengan cabang olahraga bulu tangkis.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Team Andriewongso.com
|
 |
Dua Rekor Dunia dalam Dua Hari
|
 |
SH 73 - Bersatu adalah Kekuatan
|
 |
Leanna Archer, Wiraswasta Muda
|
 |
Angklung Warisan Budaya
|
 |
Tv Super Tipis
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Selamat Jalan, MJ!
(AW Corner) -
Kamis, 09 Juli 2009
|
 |
Uang Kertas Baru Pecahan Rp2.000
(AW Corner) -
Jumat, 10 Juli 2009
|
 |
Six Thinking Hats
(AW Corner) -
Jumat, 24 Juli 2009
|
 |
Kaizen, Prinsip Kerja Ala Jepang
(AW Corner) -
Selasa, 11 Agustus 2009
|
 |
Batik Tulis Diakui Dunia
(AW Corner) -
Jumat, 21 Agustus 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Robot Indonesia Menang Di AS
(AW Corner) -
Minggu, 21 Juni 2009
|
 |
Indonesia, Negara Yang Paling Murah Senyum
(AW Corner) -
Selasa, 16 Juni 2009
|
 |
Jembatan Suramadu, Menghubungkan Surabaya-Madura
(AW Corner) -
Selasa, 09 Juni 2009
|
 |
Hemat Energi Dalam Penggunaan Komputer
(AW Corner) -
Jumat, 05 Juni 2009
|
 |
Robot Yang Luwes
(AW Corner) -
Selasa, 26 Mei 2009
|
|
|