Kamis, 12-April-2007; 15:15:08 WIB
Healthy (rich) Dad, Sick (poor) Dad ( 0 Komentar )
- Klik Profil Penulis
Rating Artikel :  Oleh : Ade Rai - Health Ambassador & Fitness Motivator
Memiliki tubuh yang bugar mungkin tidak menjadi sesuatu yang menarik selama kesehatan masih kita miliki. Tetapi haruskah kita menunggu sampai kesehatan menjadi menarik?
Ayah yang sehat mengajarkan kepada kita bahwa untuk bisa menjadi kaya dan makmur, kita perlu kesehatan dan kebugaran yang optimal. Ayah sehat yang (pastinya) kaya ini juga mengajarkan tentang kebijaksanaan keuangan dalam menyikapi kesehatan. Bahwa ternyata, untuk bisa memiliki hidup yang sukses, seseorang harus memiliki asset yang paling penting, yakni KESEHATAN.
Ayah sakit yang miskin tidak pernah mengajarkan kepada kita tentang hal tersebut karena beliau tentunya tidak menyadari bagaimana kesehatan bisa menjadi faktor penentu dalam upaya melipatgandakan kekayaan. Pada dasarnya beliau tidak pernah menganggap KESEHATAN sebagai asset. Kesehatan, menurut ayah yang satu ini, adalah sesuatu yang memang sudah dimiliki dari awal tanpa harus diusahakan, sehingga tidak pernah terlintas olehnya bahwa suatu hari nanti ia juga akan mengalami bankrut kesehatan, yaitu saat kesehatan itu diambil dari dirinya.
Ayah yang sehat memberi contoh bahwa ternyata membeli sebuah jam tangan seharga 20 juta adalah pengeluaran yang jauh lebih bijaksana daripada mengeluarkan uang untuk biaya rumah sakit. Baginya, mengeluarkan uang untuk biaya rumah sakit adalah pengeluaran yang tidak pernah harus terjadi, karena hal ini hanya berarti MEMBELI kembali apa yang sebelumnya sudah dimiliki. Baginya, selama ia menjaga kesehatannya dengan baik, maka ia tidak harus dekat dengan kemiskinan dan pengeluaran yang tidak bijak tersebut. Setidaknya jam tangan seharga 20 juta adalah suatu wujud memiliki sesuatu yang sebelumnya memang tidak kita miliki (dari belum punya menjadi punya). Dengan menjaga kesehatan, kita justru bisa bekerja optimal, sehingga kesuksesan pun lebih cepat diraih karena tidak pernah harus dihentikan oleh masalah kesehatan.
Sementara ayah sakit yang miskin justru berpikir sebaliknya. Gaya hidup yang tidak sehat seperti konsumsi lemak dan gula berlebihan, dan merokok baginya adalah kenikmatan hidup walaupun hal tersebut menggerogoti kesehatannya. Baginya mengeluarkan uang untuk obat termahal dan dokter terbaik di rumah sakit terelite adalah pengeluaran yang bijaksana karena baginya obat yang paling mahal itu lebih ampuh untuk mengembalikan kondisi kesehatannya seperti semula. Tidak peduli ia harus menjual seluruh assetnya (saham, tanah, deposito, valas, emas, bonds) dan menjadi miskin, demi mendapatkan kembali apa yang sebelumnya telah ia miliki (dan seharusnya dengan mudah ia jaga). Saat sakit, ayah miskin ini baru akhirnya sadar bahwa kesehatan itu begitu menarik untuk dimiliki. Tapia pa mau dikata? Kesuksesan semakin sulit ia raih karena harus terbaring sakit sehingga karier dan investasinya tidak pernah bisa berkembang secepat yang ia harapkan.
Telah beredar buku terbaru Ade Rai: Bebas Lemak – Tanpa Lapar Tanpa Lemas di TB.Gramedia di seluruh Indonesia. Pastikan untuk selalu mengikuti Interactive LIVE Talkshow - Smart Health di SmartFM bersama RAI Institute setiap Sabtu pagi, 08.05-09.00WIB.
|