Hari-hari ketika aku menulis
kolom ini, adalah hari yang mulai banyak mendatangkan rasa sakit di kepalaku.
Penyebab pertama yang mudah kuduga adalah merambatnya usia. Aku pernah ketemu
penyair Sutarji Coulzum Bachri bertahun lalu. Ketika kutanyakan apa kabar
kepadanya, jawabannya mengesankan hatiku. ‘'Ya jika sudah seumur aku, penyakit
mulai datang dari berbagai penjuru,'' katanya saat itu.
Umur Tarji saat itu, bisa jadi adalah umurku kini. Maka apa
yang dia alami saat itu, layak aku alami di hari ini. Menjadi tua adalah juga
kesiapan menjadi sakit. Walau rasanya
aku terlalu mendramatisir umur. Karena sebetulnya aku masih muda, dalam pengertian,
masih layak menjadi sehat sebetulnya. Karena banyak orang yang lebih tua, bisa lebih
sehat dariku. Apalagi kalau aku melihat film-film kungfu. Semakin putih rambut
mereka, malah semakin bertambah saja kesaktiannya. Jadi menjadi tua dan sehat,
bukanlah soal yang luar biasa.
Maka dugaanku kemudian jatuh pada pola makanku. Sangat sulit untuk tidak memakan
makanan kesukaan. Padahal dari seluruh
apa yang kusukai sedikit sekali yang
diakui sehat oleh pakar gizi. Misalnya saja aku sangat menyukai krupuk. Makan
tanpa krupuk bagiku adalah musibah. Padahal aku ngerti cara bikinnya, cara
njemurnya, cara nggorengnya sekaligus mutu minyaknya. Jika ukurannya akal
sehat, makanan ini hampir tak ada gunanya. Tetapi begitulah krupuk. Ketika dimakan
akal sehatku berhenti bekerja. Ia mendatangkan sensasi karena di mulut ramai sekali.
Tapi inilah delima makan: yang baik di lidah itu malah suka
buruk di perut. Padahal krupuk ini tidak sendiri. Aku juga menyukai sambal dan
ikan asin. Kalapun seluruh lauk di dunia ini tak ada, asal ketiganya tersedia, hidupku
masih mudah bahagia. Seluruh gaya
makanku hingga seusia ini, begitu kucari rujukannya di buku-buku kesehatan,
semua hanya berarti bunuh diri. Apalagi jika aku ikuti gaya diet ala Anthony Robbins. Seluruh
kebiasaan makan rakyat di negaraku telah
serupa kejahatan pada diri sendiri. Maka ia harus dibatalkan. Tapi ini
jelas tidak mungin karena ia setara dengan menggugurkan tradisi. Jadi denga
kualiats makan seperti ini, sulit mengharapakan kesehatan yang baik. Maka
pusing di kepalaku yang kerap datang itu, leher yang mengeras seperti kemasukan
batang kayu itu, adalah soal yang menjadi upah bagi kesalahanku.
Walau ketika aku mengingat nenekku, keraguan mulai
mengggoda hatiku. Jika makanku hari ini sudah berkategori buruk maka gaya makan nenekku saat
itu pasti sudah amat buruk. Setahuku,
nenak makan cuma sekenanya karena yang dimakan sering tidak ada. Nasi dari tepung
gaplek itu biasa. Makanan seburuk itupun ia makan setelah menunggu kenyang semua cucunya. Aku tidak tahu, kenapa dengan
pola makan seperti itu, Nenek jarang sekali sakit. Ketika hari kematiannya tiba, ia sakit cuma
sewajarnya. Cepat dan mudah. Waktu itu tokoh seperti Ade Rai jelas belum
menjadi ahli otot dan pakar diet seperti sekarang ini. Tetapi nenek seperti telah
berhasil menemukan manajemen kesehatan dengan sistem yang sungguh layak diselidiki.
Dugaan sementaraku, walau buruk makanan, tetetapi jika baik kelakuan, bisa jadi
akan mendatangkan kesehatan. Aku tidak tahu, apakah teori ini layak dibenarkan.
Soalnya, seluruh sifat nenekku memang mengesankan hatiku. Selama
jadi cucunya, tak pernah sekalipun aku mendengar satu saja kata kasar lepas
dari mulutnya. Saat itu, aku suka sekali menelusup di ketiak jika ingin
dimanja. Bayangkan, tanpa deodoran saya betah di ketiaknya berlama-lama.
Jangan-jangan kebaikan hati seseorang juga akan mentralkan bau ketiaknya. Kalau
ini benar maka sakit kepalaku itu pasti gabungan dari bermacam-macam
kemungkinan: usiaku, buruknya pola makan, sekaligus buruknya kelakuan. Padahal
ini belum semuanya karena ada satu lagi penyebab yang tak boleh diabaikan
yakni: pola pekerjaan. Hidup yang melulu tersita untuk bekerja, sampai
melupakan pola istirahat dan olah raga.
Tegasnya aku memiliki seluruh faktor strategis pengundang
sakit. Tapi tentu rumit sekali jika harus meneliti seluruhnya. Maka aku ingin
menyederhanakan menjadi satu dugaan saja: jangan-jangan sakit di kepalaku ini
karena sekadar kurang istirahat dan terlalu lelah bekerja. Lalu apa hubungannya
dengan hujan-hujanan yang telah aku jadikan judul tulisan? Akan aku ceritakan
pekan depan!
Prie GS
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Guruku Cantik Sekali
|
 |
Jika Seharian Saya Tidak Melucu
|
 |
Kendi Pecah Di Siang Hari
|
 |
Dua Jam Sebelum Keberangkatan
|
 |
Perginya Imam Kami
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Antara Anugrah Dan Bencana
(Artikel Tetap) -
Kamis, 12 Februari 2009
|
 |
Hope Will Keep Us Alive (01)
(Artikel Tetap) -
Kamis, 12 Februari 2009
|
 |
Cermin
(Artikel Tetap) -
Jumat, 13 Februari 2009
|
 |
Catatan Kecil Di Hari Valentine
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 14 Februari 2009
|
 |
Kayu Basah
(Artikel Tetap) -
Senin, 16 Februari 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Macgyver
(Artikel Tetap) -
Selasa, 10Februari 2009
|
 |
How To Handle The Conflicts
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 07 Februari 2009
|
 |
Talenta Dan Karakter Pribadi
(Artikel Tetap) -
Kamis, 05 Februari 2009
|
 |
Pasar Sifat (area : Ucapan)
(Artikel Tetap) -
Rabu, 04 Februari 2009
|
 |
Heroic Leadership II
(Artikel Tetap) -
Rabu, 04 Februari 2009
|
|
|