Hubungan saya denga kucing
bukan hubungan yang mudah. Hubungan masa lalu saya dengan hewan ini agak muram
nuansanya. Di masa kecil, saya melihat kakak lelaki saya marah sekali pada
kucing kami karena ia memakan anak burung merpati kesayangannya. Kucing itu ia
usir dari rumah, dan kemarahan kakak, rasanya kami setujui. Walau setelah tua
begini, saya mungkin dituntut berpikir lebih adil, setidaknya tidak memihak. Bahwa saat itu,
keluarga kami miskin sekali. Jangankan untuk memberi makan kucing, untuk menafkahi
perut kami sendiri saja sulitnya setengah mati. Maka logis jika kucing yang
lapar itu akan melahap apa saja, apalagi dasarnya ia memang binatang pemburu.
Sebagai orang miskin, tidak sulit bertetangga dengan orang
miskin karena kebetulan, tetangga kami hampir seluruhnya miskin. Dan jika saya
harus menjumpai kucing di antara kami, sama saja keadananya. Ia selalu kucing
yang dirawat oleh orang miskin yang pemandangannya khas belaka. Ia bisa berak
di mana-mana. Dan setiap hari ada saja majikan yang murka pada kucingnya
sendiri akibat gemar menyerobot apa saja yang ada di atas meja.
Aneka bentuk kemarahan itu masih jelas bisa saya gambarkan
hingga hari ini karena begitu dramatiknya. Ada ibu-ibu yang dengan tongkat sapu teracung
dan mengusir ke manapaun kucing itu berlari. Sumpah serapah makin merajalela
ketika ayunan sapu itu sama sekali tak seimbang dengan kecepatan kucing yang setara dengan
ninja. Saya sungguh bisa memahami kemarahan ini. Soal pukulan sapu yang luput
ini adalah satu hal. Soal makanan di meja yang raib itu adalah soal lain. Soal kedua itulah yang
menjadi sumber utamanya. Karena saat itu
adalah saat ketika makanan benar-benar menjadi barang langka. Untuk menunggu Ibu
menanak nasi gaplek saja, harus menunggu sekian lama karena bahkan tepung
gapleknya belum ada. Maka tempe
dan ikan asin pun pasti sudah menjadi barang mewah, dan apa jadinya jika makanan
semewah itu cuma dicuri kucing begitu saja. Di atas kemiskinan, hubungan kucing
dan majikan saat itu, benar-benar hubungan saling mendestruksi. Tak terbilang kuping saya
mendengar kucing menyalak kesakitan akibat tendangan dan pukulan sapu. Hubungan kucing dan majikan masih
terbatas sebagai hubungan saling mencuri dan melukai.
Jika ada sedikit kebaikan hubungan antara mereka, itupun sekadar
berkurangnya kadar kekerasan tetapi tidak
mengurangi kadar kejorokannya. Kucing bisa berak di mana-mana, kencing di
tempat yang ia suka, tidur di mana saja dan bulu-bulunya yang berontokan bisa menempel di mana-mana. Di hari ini, saya sama
sekali tak bermaksud menyalahkan si kucing yang jorok dan gemar mencuri itu.
Hewan ini pasti hanya sekadar menjadi sepenuhnya berwatak hewan karena kemiskinan
dan ketidak pedulian majikan yang sedang
sangat sibuk dengan penderitaan. Tetapi sungguh, warna hubungan semacam itulah
yang bersemayam dengan baik di benak saya. Kucing menjadi tidak dekat dalam
hidup saya. Jika kami terpaksa berhubungan, sama sekali miskin
chemistry.
Soul-nya tidak ketemu! Meksipun saya tidak sampai jatuh benci,
tetapi jika boleh, saya memilih menghindar
saja. Hingga saya menginjak remaja, pilihan sikap ini aman-aman saja dan lancar
saya peragakan. Kepada kucing, saya cukup besilaturahmi dari kejauhan.
Tetapi kelancaran ini tak bisa berlangsung lama. Karena
ketika saya hendak menikah, syarat pertama yang diajukan oleh pernikahan ini seluruhnya
ringan bagi saya kecuali satu: Ibu mertua
kelak, boleh membawa serta kucing-kucingnya. Sebuah syarat yang diam-diam
ternyata didukung istri saya. Sungguh sebuah
keadaan yang sangat menguji cinta. Ujian lengkap akan saya tulis di kolom
berikutnya!
Prie GS
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Jaga Kampung
|
 |
Ketika Sopir Sakit
|
 |
Ada Doni Tata Di Moto GP
|
 |
Menunda Kemarahan
|
 |
Anak-anak Nakal
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Iklim Kejujuran
(Artikel Tetap) -
Kamis, 29 Januari 2009
|
 |
How To Become A Touching Heart Leader Using Hypnosis Techniques?
(Artikel Tetap) -
Jumat, 30 Januari 2009
|
 |
Optimis
(Artikel Tetap) -
Senin, 02 Februari 2009
|
 |
Belajar Kalah
(Artikel Tetap) -
Selasa, 03Februari 2009
|
 |
Heroic Leadership II
(Artikel Tetap) -
Rabu, 04 Februari 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Moment Of Change
(Artikel Tetap) -
Jumat, 23 Januari 2009
|
 |
Heroic Leadership I
(Artikel Tetap) -
Kamis, 22 Januari 2009
|
 |
Akibat Komunikasi Koruptif
(Artikel Tetap) -
Selasa, 20 Januari 2009
|
 |
Gagasan
(Artikel Tetap) -
Senin, 19 Januari 2009
|
 |
Ramalan Yang Selalu Berhasil
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 17 Januari 2009
|
|
|