Krisis ekonomi global, secara tidak langsung sudah kita bawa menjadi krisis
pribadi. Betapa tidak. Membaca koran tentang krisis global di Amerika
mengingatkan kita tentang krisis bangsa Indonesia di tahun 1998, dimana banyak
bank tutup, PHK di mana-mana, terjadi banyak pengangguran, keadaan politik yang
tidak stabil, kerusuhan. Kejadian di tahun 1998 menjadi trauma bagi kita dan
kejadian di Amerika saat ini seakan membawa trauma itu kembali dalam hidup
kita.
Kita sudah membayangkan kesulitan demi kesulitan yang sama yang akan
terjadi padahal sesungguhnya belum kita alami. Hanya dalam pikiran kita, belum
terjadi secara kenyataan. Tapi secara psikis, kita sudah merasakan apa yang seakan
pasti terjadi; sepinya dagangan - uang yang semakin ketat - PHK - kredit macet,
belum lagi ditambah pemilu di tahun yang sama, tahun 2009 mendatang. Ada rasa
waswas kita akan menjadi bagian dari orang-orang yang di-PHK, rasa waswas akan
terulang kembali kejadian yang sama dengan tahun 1998. Perasaan yang tadinya semangat
dan optimis dalam bekerja kini berubah menjadi pesimis dan waswas penuh curiga,
jangan-jangan kita yang di-PHK. Jangan-jangan bonus berkurang, jangan-jangan
tahun depan tidak ada kenaikan gaji, jangan-jangan ...... seribu satu pikiran
‘jangan-jangan' dan berbagai prediksi yang berakhir pada kecemasan. Mereka yang
buka usaha sendiri mulai merasa cemas karena tahun 2009 ‘kelihatan' akan sepi
dagangan, banyak yang di-PHK, uang menjadi ketat, dan seterusnya.
Tanpa sadar, secara psikis kita menjadikan apa yang belum terjadi menjadi
kenyataan, paling tidak kita sudah merasakan perasaan waswas dan pesimis itu secara
nyata padahal kejadian-kejadian tersebut belum terjadi. Hal ini akan
berpengaruh langsung pada produktifitas kerja sehari-hari. Kesibukan di akhir
tahun berubah menjadi kesibukan super extra untuk menghadapi kesulitan di tahun
2009 nanti. Business plan yang disusun bukan lagi tentang bagaimana
mengembangkan profit dan mencapai target, tapi lebih pada bagaimana untuk
bertahan. Masing-masing personal kembali ke rumah dengan membawa serta perasaan
waswas tadi, sambil bersiap diri menghadapi tahun 2009 yang penuh tantangan.
Kumpul keluarga yang biasanya ceria mulai berkurang ketika kepala keluarga mulai
membawakan misi bersiap diri tadi. Makan malam dimembahas tentang ‘rencana'
krisis yang bakal terjadi di tahun mendatang. Perlu berhati-hati memakai uang, banyak
usaha yang bakal tutup, bakal terjadi PHK, bakal
banyak pengangguran, keamanan yang mulai bergoyah, dan seterusnya, dan
seterusnya. Suatu ajakan untuk berhati-hati diakhiri dengan rasa cemas dan
pesimis menghadapi pergantian tahun. Istri yang selama ini mengurusi keuangan
rumah ikut merasa was-was dalam berbelanja. Anak-anak mulai merasakan cemas
karena uang jajan akan berkurang, rasa tidak aman di jalan, dan pesimistis dari
kedua orangtuanya.
Krisis global-pun kini beralih menjadi krisis keluarga.
Seorang ayah yang tadinya banyak bercanda sekarang mulai banyak
mengkerutkan dahi. Ibu yang tadinya banyak senyum sekarang mulai berkeluh
kesah. Supir dan pembantu jadi kena sasaran, akhirnya ikut-ikutan mengumpat
sana sini. Anak-anak apalagi.
Perasaan berpengaruh besar terhadap pikiran seseorang. Ketika rasa cemas
mulai menjalar, yang ada hanyalah ‘how to survive', bagaimana bertahan agar tetap
aman, tidak cemas. Orang itu akan sibuk berpikir bagaimana agar bisa lolos dari
perasaan tidak nyaman tersebut, berdasarkan perasaan tidak nyaman pula. Ibarat
mencari jalan keluar dari rimba kecemasan dengan kacamata cemas, tentu yang dilihat
adalah cemas selalu; orang-orang yang cemas, urusan yang mencemaskan,
kesempatan yang mencemaskan. Akibatnya menutup diri terhadap berbagai
kesempatan di luar lingkaran itu, banyak peluang yang terlewatkan hanya karena
ketidakmampuan untuk melihat secercah sinar terang melalui kacamata yang sudah
keburu ditutupi kecemasan tadi.
Umumnya bila satu orang merasa cemas (termasuk waswas dan pesimis),
orang-orang di sampingnya akan siap membantu, entah saat orang tersebut minta
bantuan ataupun ketika orang di sampingnya melihat kebutuhan dibantu tadi.
Tapi, ketika kecemasan yang tadinya hanya dimiliki oleh beberapa orang mulai
menjadi collective anxiety, siapa yang bantu siapa? Jangan jangan satu sama
lain malah saling mencemaskan ...
Hahhh ... saya membayangkan bagaimana kita akan menutup tahun 2009 nanti.
Pada bulan Desember 2009, ketika kita melihat kembali apa yang telah dilakukan
sepanjang tahun 2009 ... apa yang akan kita katakan? Kemenangan? Atau
keberhasilan? Berhasil? Berhasil bertahan? Berhasil memenangkan? Atau
jangan-jangan, berhasil ikut-ikutan ....
Terus terang, tulisan inipun saya buat karena cemas dan waswas .. waswas
karena banyak rekan yang sudah mulai pesimis, banyak rekan yang sudah mulai
waswas menghadapi tahun 2009 nanti. Saya cemas atas kecemasan mereka.
Dalam setiap kesempitan selalu ada kesempatan. Di balik tantangan selalu
ada peluang. Tinggalkanlah kacamata kecemasan tadi, rubah dengan semangat
membangun bersama. Paling tidak, semangat untuk tetap optimis.
Semoga, optimisme ini menular secepat rasa cemas itu menulari satu sama
lain.
Paling tidak, ingatlah akan satu hal. Bahwa krisis global bukanlah krisis
pribadi. Jangan sampai itu terjadi.
Jakarta, medio Desember 2008
Mariani Ng
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Mariani Ng ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Visualisasi Atau Melamun
|
 |
Klik, Hidup Anda Telah On
|
 |
Krisis Global Vs Krisis Pribadi
|
 |
Have You Ever Ordered Chaos?
|
 |
Cinta, Harta Dan Sehat
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Ulat Bulu
(Artikel Tetap) -
Selasa, 06 Januari 2009
|
 |
Live With Hope And It Is Your Time To Shine In 2009
(Artikel Tetap) -
Kamis, 08 Januari 2009
|
 |
AGAR MIMPI MENJADI NYATA
(Artikel Tetap) -
Jumat, 09 Januari 2009
|
 |
2009 : The Year Of Opportunity
(Artikel Tetap) -
Senin, 12 Januari 2009
|
 |
How To Start A Business
(Artikel Tetap) -
Selasa, 13 Januari 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Renungan Akhir Tahun
(Artikel Tetap) -
Jumat, 02 Januari 2009
|
 |
Harapan Dan Tantangan Di Tahun Baru 2009
(Artikel Tetap) -
Kamis, 01 Januari 2009
|
 |
Krisis? Terus Kenapa?
(Artikel Tetap) -
Rabu, 31 Desember 2008
|
 |
Teman Istriku Cantik Sekali
(Artikel Tetap) -
Rabu, 24 Desember 2008
|
 |
Do More To Achieve More
(Artikel Tetap) -
Senin, 22 Desember 2008
|
|
|