|
|||
|
Penulis : Prie GS
Rating Artikel :
Rabu, 24-Desember-2008
Salah satu kegembiraan saya
adalah menemani istri menjemput anak berangkat dan pulang ke sekolah. Melepas
anak dengan gunungan tas di punggung, berlari menuju kelas dengan semangat penuh, serasa melepas energi murni yang
akan membersihkan udara di jagat raya yang mulai penuh polusi. Sekecil itu punggungnya,
tetapi sepenuh itu buku-bukunya. Bukan cuma soal bahwa buku itu pasti berat
sekali, tetapi lebih berat lagi pasti jika
harus menguasai seluruh isi buku itu.
Berat yang pertama adalah berat dalam pengertian sesungguhnya. Makin tebal buku-buku itu dari hari ke hari dan makin seenaknya buku itu bergati-ganti. Pendidikan kita seperti sengaja enggan berhemat walaupun ia sesugguhnya bisa berhemat. Inilah yang mendatangkan berat kedua: yakni beratnya anak-anak untuk menjadi pintar di seluruh pelajaran yang begitu banyaknya. Anak-anak yang sudah lelah itupun harus dijejali bermacam-macam kursus. Ada belajar cepat, berpikir, menghitung cepat, dan malah ada yang mulai diajari kaya dengan cepat. Kaki sekecil itu, dengan punggung seberat itu tetapi diminta berlari secepat itu. Aduh... ini ingin cepat, atau sekadar sedang buru-buru! Tetapi anak saya yang berlari menuju kelas itu, adalah anak-anak yang gembira sepenuhnya dan terbebas dari prasangka. Ia menatap dengan tulus alam sekitarnya. Ia pasti mengira sekolahnya seluruhnya berisi kegembiraan. Ia mengira menuntut ilmu adalah sepenuhnya berisi kemuliaan tak peduli ada jenis ilmu yang diajarkan secara keliru ruang, keliru waktu dan keliru niat, sehingga ada jenis orang yang sudah berilmu tapi tetap saja jadi penganguran. Maka setiap melepas anak saya masuk kelas, perasaan saya mengalami metamorfosis yang aneh: dari cemas atas banyaknya bahaya di sekitar hidup kita, menjadi iri pada sebuah reaksi yang begitu rileks di hadapan kekeliruan dan bahaya. Kesadaran atas bahaya menjadi begini meninggi di hadapan mental yang telah penuh spekulasi seperti saya ini. Sementara anak-anak itu, sekecil dan selemah itu, bukan cuma begitu tenang di hadapan risiko tetapi juga bahagia menatap apa saja. Tetapi apakah anak-anak itu benar-benar lemah karena kekecilan dan kelemahannya? Tidak. Mereka ternyata menjadi sangat kuat karena kelemahannya. Anak-anak yang lemah itu ternyata adalah pihak yang dikelilingi oleh manajemen resiko berlapis-lapis jutsru karena kelemahannya. Sejak janin, ia telah berada di tempat paling solid: rahim. Dan kita tahu kecanggihan rahim, semua yang dibutuhkan hidup ada di dalamnya. Supermarket paling lengkap pun kalah lengkap dibanding tempat ini. Begitu bayi lahir, ia akan langsung mendapat perlindungan sedemikian rupa dari orang tuanya. Lihatlah bayi-bayi modern itu: untuk vaksinasi saja jenisnya bertambah terus dari waktu ke waktu. Dan lihatlah perkembangan atensi atas kesehatan itu: ia tak cuma menyangkut perawatan organ-organ primer seperti jantung, ginjal dan paru-paru tetapi juga sampai ke gigi dan kuku. Lihatlah teknologi pergigian itu sekarang. Gigi maju sedikit saja ia harus tarik rantai ke belakang. Sunguh tak terbayangkan di masa kecil saya dulu, jika akan ada kelak manusia meringis dengan rantai melilit seperti itu! Dan semua jenis pelayanan yang luar biasa ini tersedia justru karena pihak yang dilayani itu adalah pribadi yang tidak tahu dan tak berdaya. Kepada yang tahu lagi berdaya, setelah itu mulai bergaya pula, jengkelah hati kita. Itulah kenapa pihak yang tak berdaya selalu menarik-narik hati kita untuk berderma. Jadi, setiap mengantar sekolah itu rasanya asyik. Apalagi saya juga berkesempatan melihat teman-teman istri yang cantik-cantik. ‘'Itu temanmu yang rambutnya menggetarkan hati,'' kata saya pada istri yang terbiasa tersenyum, entah sabar, entah sakit hati, tetapi itulah reaksi yang saya sukai. Seperti anak saya yang lemah tapi gembira di hadapan bahaya, senyum istri yang tampak menyerah itu justru memenjara saya dalam kasih sayangnya! Prie GS |
|||
|
|||
| ( View : 3315 | Refer : 4 | Print : 72 | Rate : 8.00 / 2 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Krisis? Terus Kenapa? (Artikel Tetap) - Rabu, 31-Desember-2008 | ||
| • | Harapan Dan Tantangan Di Tahun Baru 2009 (Artikel Tetap) - Kamis, 01-Januari-2009 | ||
| • | Renungan Akhir Tahun (Artikel Tetap) - Jumat, 02-Januari-2009 | ||
| • | Krisis Global Vs Krisis Pribadi (Artikel Tetap) - Senin, 05-Januari-2009 | ||
| • | Ulat Bulu (Artikel Tetap) - Selasa, 06-Januari-2009 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Do More To Achieve More (Artikel Tetap) - Senin, 22-Desember-2008 | ||
| • | Buanglah Sampah Pada Tempatnya (Artikel Tetap) - Rabu, 17-Desember-2008 | ||
| • | Perahu Dalam Botol (Artikel Tetap) - Senin, 15-Desember-2008 | ||
| • | Melompati Rintangan-rintangan Anda (Artikel Tetap) - Jumat, 12-Desember-2008 | ||
| • | Apa Yang Akan Saya Pikirkan Hari Ini (Artikel Tetap) - Kamis, 11-Desember-2008 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



