|
|||
|
Penulis : Prie GS
Rating Artikel :
Senin, 15-Desember-2008
Perahu dalam botol itu adalah
mainan yang dibeli putriku saat piknik sekolah. Harganya murah saja tetapi
terasa mahal di hatiku. Benda ini kupajang di ruang kerjaku untuk setiap kali
kupandangi dengan rasa haru. Kenapa? Karena mainan itu tepat ia beli saat hatinya
sedang sedih. Teman-teman baiknya sedang
bersepakat untuk mengucilkannya. Berhari-hari ia murung dan setiap kali memandangi sekolahnya, yang terasa
cuma sikap diam teman-temannya. Piknik itu menjadi puncak dari kesepiannya. Ketika
seluruh anak-anak bersuka ria di alam bebas, anakku yang sendiri, membeli perahu dalam botol itu sebagai
temannya. Maka setiap memandangi mainan itu,
aku selalu teringat kesedihan anakku. Tepatnya, kesedihanku sendiri di masa
kanak-kanak dahulu. Lebih tepatnya lagi kesedihan siapa saja yang merasa dirinya
sedang merasa tak berharga.
Mudah sekali perasaan tak berharga itu berkembang menjadi wabah tak cuma kepada anak-anak, tetapi siapa saja. Setelah diteliti, para bintang film pemenang Oscar lebih panjang umurnya katimbang para bintang film yang kalah. Saya sungguh mengerti perasaan orang yang kalah karena aku sendiri sering mengalaminya. Masih jelas tergambar ketika aku kalah dalam sebuah lomba sementara sang pemenang itu adalah sahabat dekatku. Remuk redam. Aku pulang dengan mata kabur dan langkah gontai. Setiap wajah sahabat itu bekelebat kulihat sebagai hantu. Ia mendatangkan campuran rasa takut, luka, marah dan iri. Saking inginnya berpresatsi lomba apa saja pernah aku ikuti. Saking seringnya aku kalah, saking seringnya aku sakit hati, dalam hati aku berjanji. Tak sekalipun aku akan menjadi peserta lomba lagi. Di semua lomba yang menyakitkan hati itu, aku berjanji akan menjadi juri. Keinginan itu terkabul. Di seluruh lomba yang pernah aku ikuti sebagai pecundang itu, aku pernah ganti menjadi juri di kelak kemudian hari. Betapa jauh nian bedanya. Dari meja penjurian, aku memandang dengan mata yang pasti menggentarkan para peserta. Jika aku pura-pura menulis, peserta di depanku itu pasti sedang menduga-duga, ada apa! Jika aku menggeleng-gelengkan kepala sambil bermuka masam, peserta di depanku itu pasti sudah kecut nyali. Sebaliknya jika aku mengangguk-anggukan kepala melihat penampilannya, ia pasti berbunga-bunga. Padahal sering, anggukan dan gelengan itu, adalah akting belaka. Aku cuma ingin membuktikan betapa berkuasa pihak yang menilai itu dan betapa tak berdaya pihak yang dinilai. Hanya berbeda awalan saja, yang satu me yang lainnya di, telah membuat perbedaan hidup begitu lebarnya. Lihat pula pengalaman Joe Gerard, penjual mobil legendaris itu. Ketika pertama kali mendapat penghargaan sebagai pejual nomor satu, seluruh ruangan gemuruh oleh tepuk tangan. Tetapi ketika setiap tahun, selama delapan tahun ia selalu berada di urutan pertama, tepuk tangan itu berganti menjadi kedengkian. Kenapa? Karena pihak yang harus bertepuk tangan itu adalah pata penjual mobil seperti dirinya. Selama delapan tahun harus pertepuk tangan untuk kemenangan pesaing, pasti bukan cuma soal yang membosankan, tetapi juga soal yang membuat mereka marah dan kecewa. Maka setiap memandang botol berisi perahu itu aku tak cuma ingin memandang wajah anakku, tetapi juga memandang siapa saja yang sedang murung oleh perasaan sendirian, sial dan tak berharga. Perasaan itu sungguh bisa menyerang siapa saja. Ia bisa menyerang orang-orang tua yang kesepian karena anak-anaknya telah membesar dan menjadi sangat sibuk. Menyerang karyawan yang tidak disukai atasan dan atasan yang tertekan oleh atasannya lagi atau atasan tertinggi yang gelisah karena masih ada pihak yang lebih tingi lagi. Sungguh, mereka adalah orang-orang yang ingin kutemani, karena kesedihan mereka, pernah aku alami. Prie GS |
|||
|
Komentar Anda
Pengirim : andik
perahu dlm botol..., hari-hari yg sedang aku jalani dan berusaha aku nikmati tp aku jg ingin lepas dr botol unt berlayar lagi menuju laut lepas yg tak bertepi dan menantang ombak...
|
|||
|
|||
| ( View : 1787 | Refer : 5 | Print : 77 | Rate : 9.00 / 1 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Buanglah Sampah Pada Tempatnya (Artikel Tetap) - Rabu, 17-Desember-2008 | ||
| • | Do More To Achieve More (Artikel Tetap) - Senin, 22-Desember-2008 | ||
| • | Teman Istriku Cantik Sekali (Artikel Tetap) - Rabu, 24-Desember-2008 | ||
| • | Krisis? Terus Kenapa? (Artikel Tetap) - Rabu, 31-Desember-2008 | ||
| • | Harapan Dan Tantangan Di Tahun Baru 2009 (Artikel Tetap) - Kamis, 01-Januari-2009 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Melompati Rintangan-rintangan Anda (Artikel Tetap) - Jumat, 12-Desember-2008 | ||
| • | Apa Yang Akan Saya Pikirkan Hari Ini (Artikel Tetap) - Kamis, 11-Desember-2008 | ||
| • | Brrrrrr... (Artikel Tetap) - Selasa, 09-Desember-2008 | ||
| • | Kampung Suka Vs Kampung Duka (Artikel Tetap) - Senin, 08-Desember-2008 | ||
| • | Stress Management (Artikel Tetap) - Sabtu, 06-Desember-2008 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



