Belajar dari kesuksesan pembentukan single market ala European Economic Community, 10 negara yang tergabung dalam ASEAN (Association South East Asian Nation) dalam summit meeting ke-12 di Cebu (Pilipina) bulan Agustus 2006 memutuskan untuk mempercepat pembentukan ASEAN Economic Community (AEC) yang semula dijadwalkan tahun 2020 menjadi tahun 2015. Pembentukan AEC akan tertumpu pada tiga pilar yaitu Security Community, Economic Community dan Socio-Culture Community dengan tujuan terciptanya perdamaian, stabilitas dan kemakmuran bersama di kawasan.
Dengan populasi penduduk 530 juta dan Gross National Product (GNP) sebesar US$737 milyar dollar, AEC merupakan bentuk integrasi ekonomi yang sangat potensial di kawasan maupun dunia. Barang, jasa, modal dan investasi akan bergerak bebas di kawasan ini. Integrasi ekonomi regional memang suatu kecenderungan dan keharusan di era global saat ini. Hal ini menyiratkan aspek persaingan yang menyodorkan peluang sekaligus tantangan bagi semua negara.
Skema AEC 2015 tentang ketenagakerjaan, misalnya, memberlakukan liberalisasi tenaga kerja profesional papan atas, seperti dokter, insinyur, akuntan dsb. Celakanya tenaga kerja kasar yang merupakan “kekuatan” Indonesia tidak termasuk dalam program liberalisasi ini. Justru tenaga kerja informal yang selama ini merupakan sumber devisa non-migas yang cukup potensional bagi Indonesia, cenderung dibatasi pergerakannya di era AEC 2015.
Ada tiga indikator untuk meraba posisi Indonesia dalam AEC 2015.
Pertama, pangsa ekspor Indonesia ke negara-negara utama ASEAN (Malaysia, Singapura, Thailand, Pilipina) cukup besar yaitu 13.9% (2005) dari total ekspor. Dua indikator lainnya bisa menjadi penghambat yaitu - menurut penilaian beberapa institusi keuangan internasional - daya saing ekonomi Indonesia jauh lebih rendah ketimbang Singapura, Malaysia dan Thailand; Percepatan investasi di Indonesia tertinggal bila dibanding dengan negara ASEAN lainnya. Namun kekayaan sumber alam Indonesia yang tidak ada duanya di kawasan, merupakan local-advantage yang tetap menjadi daya tarik kuat, di samping jumlah penduduknya terbesar yang dapat menyediakan tenaga kerja murah.
Sisa krisis ekonomi 1997-98 yang belum juga enyah dari bumi pertiwi, masih berdampak rendahnya pertumbuhan investasi baru (khususnya arus Foreign Direct Investment) atau semakin merosotnya kepercayaan dunia usaha, yang pada gilirannya menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Hal tersebut karena buruknya infrastruktur ekonomi, instabilitas makro-ekonomi, ketidakpastian hukum dan kebijakan, ekonomi biaya tinggi dan lain-lain. Pemerintah tidak bisa menunda lagi untuk segera berbenah diri, jika tidak ingin menjadi sekedar pelengkap di AEC 2015.
Menlu RI dalam pernyataannya baru-baru ini menyebutkan intensitas kunjungan delegasi Indonesia ke luar negeri dan sebaliknya (khususnya kunjungan delegasi tingkat tinggi yang dipimpin kepala negara/pemerintahan), sebagai bagian dari summit meeting yang mencerminkan pelaksanaan politik luar negeri Indonesia yang lebih bebas dan lebih aktif dari sebelumnya. Ini merupakan bagian dari gejala diplomasi kontemporer dimana summit diplomacy, baik bilateral maupun multilateral memegang peranan penting. Strategic partnership maupun comprehensive partnership yang berhasil kita raih, dimaksudkan agar kedekatan politis ini dapat diterjemahkan ke dalam, menjadi peluang-peluang hubungan ekonomi, perdagangan, investasi dan sebagainya.
Keberhasilan tersebut harus didukung oleh komponen-komponen lain di dalam negeri. Masyarakat bisnis Indonesia diharapkan mengikuti gerak, irama kegiatan diplomasi dan memanfaatkan peluang yang sudah terbentuk ini. Diplomasi Indonesia tidak mungkin harus menunggu kesiapan di dalam negeri. Peluang yang sudah terbuka ini, kalau tidak segera dimanfaatkan, kita akan tertinggal, karena proses ini juga diikuti gerak negara lain dan hal itu terus bergulir.
Kita harus segera berbenah diri untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang kompetitif dan berkwalitas global. Menuju tahun 2015 tidaklah lama. Sudah siapkah kita?. Tantangan dan peluang bagi kalangan profesional muda kita untuk tidak terbengong-bengong menyaksikan lalu-lalang tenaga asing di wilayah kita atau mampukan kita merebut pasaran tenaga kerja di negara-negara kawasan?
Oleh: Jhanghiz Syahrivar (Aiven)
Mahasiswa Jurusan Banking and Finance, 2nd year, President University.
http://www.president.ac.id/
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Jhanghiz Syahrivar (Aiven) - Mahasiswa Jurusan Banking and Finance, 2nd year, President University
|
 |
Towards Asean Community 2015
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Belajar Memahami Kegagalan Dari Thomas Alfa Edison
(Campus Corner) -
Senin, 07 Mei 2007
|
 |
Jadikan Impian Anda Kenyataan
(Campus Corner) -
Kamis, 24 Mei 2007
|
 |
Tidak Tahu Dianggap Tahu
(Campus Corner) -
Senin, 28 Mei 2007
|
 |
Beban "Ibu" Sungguhlah Berat
(Campus Corner) -
Senin, 11 Juni 2007
|
 |
Tidak Mungkin Ada Sukses Tanpa Perubahan
(Campus Corner) -
Rabu, 13 Juni 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
10 Kesalahan Dalam Mengejar Kesuksesan
(Campus Corner) -
Rabu, 25 April 2007
|
 |
Mengulang Hal-hal Kecil Mendasar...
(Campus Corner) -
Kamis, 12 April 2007
|
 |
Candu Inovasiesme
(Campus Corner) -
Kamis, 05 April 2007
|
|
|