Sering terdengar sentilan-sentilan seperti "Si A berhasil dalam musik karena punya bakat musik" atau "Si B sukses dalam bisnis karena punya bakat bisnis".
Tidak salah kalau kita mengiyakan sentilan di atas dan tidak salah juga kalau kita menggarisbawahi bahwa bakat bukan merupakan porsi yang besar bagi terwujudnya kesuksesan seseorang.
Bakat adalah salah satu "bekal" di antara "bekal-bekal" lainnya yang dikaruniai oleh Allah SWT sang pencipta untuk mengarungi hidup di dunia.
Kalau boleh saya ibaratkan, bakat bagaikan "cairan kental/jel yang akan berubah bentuk sepanjang usia manusia" yang sangat membutuhkan wadah pembentuk. Di mana material wadah pembentuk bersumber dari lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah.
"Wadah" di atas dituntut harus mempunyai kualitas yang baik agar bakat yang dihasilkan mempunyai bentuk yang elok, enak dipandang, halus di tangan, kokoh dan harum semerbak dan saat wadah cetakannya dilepas (manusia tersebut meninggal) masih meninggalkan aroma keharuman yang sejati (dikenang).
Dalam pencapaian bentuk wadah dengan kualitas baik maka bekal-bekal lainnya seperti, mata, telinga, otak dan organ vital lainnya harus difungsikan untuk mendukung pembentukan wadah tersebut.
Mata digunakan untuk membaca ilmu dari literatur buku-buku yang baik dan melihat fenomena alam semesta.
Telinga digunakan untuk mendengar pembicaraan-pembicaraan yang berkualitas, positif dan motivatif.
Otak digunakan untuk mencerna, menganalisa dan merumuskan informasi-informasi dari sumbangsih mata dan telinga.
Hati atau jiwa digunakan untuk mengimbangi/mengontrol produk hasil dari otak atau pemikiran.
Produk dari otak dan hati inilah yang memberikan ciri dan kualitas langsung dari "wadah" pembentuk bakat.
Jadi, sentilan-sentilan di atas sebenarnya adalah buah dari bakat yang sudah memberikan bentuk.
Beberapa hal yang bisa dipersiapkan dan dikondisikan agar kata-kata "si A atau si B" diganti dengan nama kita, yaitu:
- Bentuk atau kondisikan lingkungan keluarga yang memberikan kebebasan dan dukungan munculnya embrio bakat dari anggota keluarga, peran orang tua sangat menentukan.
- Cari lingkungan masyarakat yang kondusif dengan bakat kita, misalnya ikut komunitas pengusaha bagi yang punya bakat pengusaha.
- Cari lingkungan sekolah yang mau bekerjasama untuk pengembangan bakat siswanya, misalnya ikut ekstra-kurikuler melukis bagi siswa yang berbakat melukis.
Semoga uraian singkat ini memberikan alur pemahaman dan langkah yang runtut mengenai apa itu bakat.
Salam Sukses Luar Biasa.
Salam,
Insyirahman
Scheduling and Project Control Engineer
FM-Engineering,
Chevron Indonesia Company-Balikpapan.
Pemerhati dan pencinta manusia positif
E-mail: insyirahman@chevron.com
http://insyrahman.multiply.com/
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Insyirahman - Pemerhati dan pencinta manusia positif
|
 |
Bakat
|
 |
Keyakinan Dan Persepsi Positif
|
 |
Jadilah Yang Pertama Dan Terbaik
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Perjuangan Menghadapi Tantangan Hidup
(Artikel Anda) -
Sabtu, 24 Februari 2007
|
 |
Memaknai "Bangun Dan Tidur" Untuk Kesuksesan
(Artikel Anda) -
Selasa, 27Februari 2007
|
 |
Resource Leverage, Kunci Sukses Kerajaan Mataram
(Artikel Anda) -
Rabu, 28 Februari 2007
|
 |
Asset No. 1 - Kunci Sukses
(Artikel Anda) -
Sabtu, 03 Maret 2007
|
 |
Roda Nasib Itu Default Nya Memang Selalu Berputar
(Artikel Anda) -
Senin, 05 Maret 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Berani Tampil Beda
(Artikel Anda) -
Selasa, 20Februari 2007
|
 |
Akhir Perjalanan
(Artikel Anda) -
Senin, 19 Februari 2007
|
 |
Berlarilah Jika Ingin Sukses
(Artikel Anda) -
Minggu, 18 Februari 2007
|
 |
The Power Of Soul
(Artikel Anda) -
Sabtu, 17 Februari 2007
|
 |
Makna Dibalik Suatu Kesuksesan
(Artikel Anda) -
Jumat, 16 Februari 2007
|
|
|