Sebuah pertanyaan yang mungkin sederhana, tapi mendasar, yang menurut saya cukup menarik adalah, mengapa kita diciptakan oleh Tuhan Sang Pencipta, secara berbeda-beda? Saya mungkin juga perlu hati-hati dalam menyampaikan pertanyaan ini, karena bagi sebagian dari kita pertanyaan ini mungkin sensitif dengan mudah bisa menyulut kecurigaan. Kecurigaan bahwa bila kita bertanya seperti ini dianggap sebagian orang sebagai rasa ketidak puasan terhadap mengapa Tuhan menciptakan kita manusia. Padahal tidak, ..pertanyaan seperti ini sebenarnya lebih kepada, kita sama-sama secara jernih menggali apa makna dibalik ini semua, karena kita memang diberi bekal akal pikiran oleh-Nya untuk selalu berusaha memaknai itu semua.
Saya adalah orang yang yakin akan keberadaan Tuhan di atas sana. Begitu Maha Besar menguasai seluruh jagad alam semesta mencakup sampai ke wilayah-wilayah yang belum dan mungkin tidak akan pernah kita mengerti. Begitu besar ke-Maha-an-Nya bahkan sampai merasuk ke dalam aliran terkecil sel darah masing-masing kita manusia. Pengertian logis dari hal ini adalah, tentunya akan sangat mudah bagi Tuhan untuk menciptakan kita secara sama. Tidak ada macam ragam ras suku bangsa, tak ada perbedaan ideologi dan paham, semua sama dalam memandang, semua berpersepsi sama terhadap satu hal, semua memiliki tingkat ekonomi yang sama, semua melihat segala sesuatu dalam perspektif yang sama, semua sama. Tapi ternyata tidak demikian. Tuhan Sang Pencipta menciptakan kita manusia berbeda-beda. Tak ada dua orang yang diciptakan benar-benar sama. Bahkan manusia yang lahir kembar, ketika dia tumbuh dewasa, pasti mengalami kejadian dan perlakuan yang tidak sama persis, yang tentunya akan membangun pemahaman dunia bagi mereka secara berbeda.
Ketika lorong-lorong pertanyaan itu coba saya susuri, saya sampai kepada sebuah pengertian bahwa tidak ada kemungkinan lain selain bagi kita manusia untuk selalu mensyukuri dan merayakan setiap perbedaan yang ada di antara kita manusia. Bukan saling mencurigai, bukan saling memusuhi, bukan saling mengkotakkan diri, bukan saling mengutukki satu dengan yang lain, tapi untuk saling melengkapi dan saling memahami.
Oleh karena itu, saya sering merasa sedih ketika melihat –terutama- dari berita di televisi atau koran, ketika masih ada saja diantara saudara-saudara kita yang melihat perbedaan itu sebuah ancaman, sehingga mereka perlu untuk membuat tembok tinggi diantara mereka dan orang-orang yang mereka anggap berbeda, kemudian terkadang memaksakan kehendak mereka, bahkan mungkin dengan cara menebarkan ketakutan-ketakutan. Apalagi bila mereka melakukan itu dengan berdalih membawa kebenaran dari Tuhan. Seakan mereka menampik sendiri kenyataan bahwa perbedaan diantara manusia adalah juga kebenaran dari Tuhan.
Anda mungkin paham bagaimana ‘posisi’ Tuhan di ranah pemahaman secara umum bagi kehidupan geo-politis masyarakat China daratan. Tapi kita mungkin perlu malu dengan mereka ketika dalam enam bulan terakhir ini hubungan mereka dengan negara Taiwan berubah dramatis berputar seratus delapan puluh derajat. Lebih dari enam puluh tahun pertikaian dan perang dingin China dan Taiwan, hanya dalam waktu singkat hubungan mereka begitu mesranya. Seperti seolah mereka sadar bahwa apa yang telah mereka lakuka selama ini dalam mensikapi perbedaan antara mereka adalah salah, dan mereka seperti bergegas mengejar ketinggalan atas kerugian yang ditimbulkan akibat mereka salah mensikapi perbedaan mereka.
Secara umum, menurut saya, saya masih melihat banyak orang di negri kita ini yang berusaha membuat semua diri kita sama dan seragam. Padahal kalo saja kita bisa menggeser paradigma bahwa perbedaan diantara masing-masing kita adalah sebuah kekayaan yang mustinya kita syukuri, pasti kita tidak akan berhenti bersyukur dan selalu takjub betapa kayanya negri kita ini.
Jadi, bila kemudian anda bertemu orang yang berbeda dengan anda,.. mengapa justru tidak kita rayakan?
6 November 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Pitoyo Amrih ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Kecanduan Akan Minyak
|
 |
Diuji Dengan Kenyamanan
|
 |
Mensyukuri Perbedaan
|
 |
Orangtua Harus Belajar (bag 2)
|
 |
Antara Anugrah Dan Bencana
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Ketika Aku Sedang Tidak Setuju
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 08 November 2008
|
 |
MembuatAlamSemestaMelayaniAnda
(Artikel Tetap) -
Minggu, 09 November 2008
|
 |
Gunakan Modal Dalam Diri Anda
(Artikel Tetap) -
Senin, 10 November 2008
|
 |
Senyumlah, Dunia Akan Mencintaimu
(Artikel Tetap) -
Selasa, 11 November 2008
|
 |
Jangan Bekerja Terlalu Keras
(Artikel Tetap) -
Rabu, 12 November 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Belajar Dari Sebuah Bakpau
(Artikel Tetap) -
Rabu, 05 November 2008
|
 |
Impian Menjadi Selebritis Ternama
(Artikel Tetap) -
Senin, 03 November 2008
|
 |
Mengapa Harus Percaya Diri Saat Berbicara
(Artikel Tetap) -
Minggu, 02 November 2008
|
 |
Pabrik Sepatu
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 01 November 2008
|
 |
Hukum Kepercayaan
(Artikel Tetap) -
Kamis, 30 Oktober 2008
|
|
|