Saat ini, banyak sekali orang yang mengatakan, bahwa jadi
pengusaha itu gampang. Tinggal
action,
usaha apapun jadi. Punya modal sedikit, bahkan tak punya modal, bisa pinjam.
Punya ide, asal mau bekerja ini dan itu, pasti jadi. Apalagi jika ada relasi
yang bisa dimanfaatkan,
wah, lebih
gampang lagi. Intinya, kalau mau jadi pengusaha,
just do, kerjakan dan jalani saja. Semua seolah gampang dan cepat.
Belum lagi iming-imingnya. Bebas memilih dan mengatur jam
kerja. Bisa bersantai-santai di rumah saat di jalanan orang terjerat kemacetan.
Mau berlibur kapan saja bisa. Mau ini dan itu tinggal pilih. Malah, ada yang
menyebut pengusaha adalah "pemalas" yang dapat uang dari mana-mana. Nah, enak
sekali bukan? Apalagi ditambah saatnya era
booming
buku
Rich Dad Poor Dad. Banyak
orang-istilah kerennya-mencoba pindah kuadran. Banyakkah yang berhasil?
Bagi saya pribadi, menjadi pengusaha malah sama sekali tidak
ada enaknya. Wah, kok bertentangan dengan pendapat saya selama ini yang dikenal
banyak menganjurkan keluarga kecil untuk menambah penghasilan dari usaha
keluarga? Tunggu dulu. Saya hanya ingin mencoba menetralisir gegap gempitanya
orang yang ingin jadi pengusaha. Bukan ingin mengerem, tapi saya hanya mencoba
membuat pandangan agar kita selalu punya sisi yang berimbang antara sekadar
hasrat sesaat, atau didasari dengan niat nan hebat.
Begini, bayangkanlah jika suatu ketika, Anda didatangi
seseorang yang mengeluh tentang produk yang Anda jual. Padahal, saat itu Anda
sedang dipusingkan dengan kondisi keluarga yang juga sedang bermasalah.
Bayangkan pula saat si pelanggan komplain, ia langsung datang dengan
marah-marah.
Atau, kasus lain. Bayangkanlah saat Anda sedang senang
menikmati pesanan yang sudah tinggal kirim, tiba-tiba dibatalkan secara sepihak
karena pemesan-dengan berbagai alasan sangat logis-mengatakan bahwa produk kita
belum sesuai standar yang diinginkannya.
Bayangkan pula saat hendak bersenang-senang liburan dengan
keluarga, tiba-tiba telepon berdering. Staf meminta Anda untuk ke kantor segera
karena ada urusan mendadak yang harus diselesaikan saat itu juga. Di satu sisi,
anak-anak Anda sudah bersiap dengan senyumannya yang hangat menyambut liburan keluarga
menyenangkan yang hanya datang maksimal setahun sekali.
Jadi pengusaha memang punya sejuta kemungkinan. Sukses dan
gagal hanyalah bagian dari proses perjuangan yang harus dilalui. Bisa jadi,
malah proses itulah yang akan jadi episode yang seolah tak berujung pangkal.
Satu masalah kemudian akan disambung dengan masalah lainnya. Satu pelanggan
diatasi keluhannya, akan muncul komplain dari pelanggan lainnya. Sebegitu
mengerikan dan sulitkah?
Nah, jika Anda sudah berlebihan membayangkan semua
kemungkinan buruk dan tak menyenangkan tadi, silakan coba balik pola pikir
kita. Bayangkanlah jika ada pelanggan yang benar-benar puas saat Anda layani
dengan baik komplainnya kemudian merekomendasikan usaha Anda pada semua
rekannya. Informasi dari sang pelanggan tadi akan mendatangkan lebih banyak
lagi pelanggan baru kepada Anda.
Bayangkan pula, saat hendak bersenang-senang dengan
keluarga, tiba-tiba ada telepon dari kantor untuk meminta Anda menandatangani
dokumen kerja sama bernilai miliaran yang akan membuat liburan Anda jauh lebih
menyenangkan. Hmm... menyenangkan bukan rasanya jadi pengusaha kalau itu yang
terjadi?
Saya punya satu kisah yang mungkin bisa kita renungkan
bersama. Suatu kali, ada seorang perempuan tua yang datang untuk mengeluhkan
sofanya yang rusak pada sebuah toko furnitur kecil. Pemilik toko itu lantas
melayani dengan sangat baik perempuan itu. Ia meladeni semua permintaan dan
keluhannya dengan sangat baik dan sopan serta penuh senyuman. Sepulang
perempuan itu, sang anak pemilik toko lantas bertanya kepada ayahnya. "Ayah,
mengapa engkau layani perempuan itu dengan sangat baik. Bukankah dia tadi
datang dengan keluhan yang tak mengenakkan. Dan, anehnya lagi, saya lihat di
bangku itu, ternyata bukan hasil kerjaan toko kita. Jadi, mengapa kita harus
repot-repot membantu memperbaikinya?" Sang ayah dengan lembut berkata bijak,
"Memang Nak. Itu bukan sofa buatan kita. Tapi, dengan kita melayani perempuan
tadi dengan baik, maka kita sudah punya satu pelanggan tetap yang baru. Dan,
jika ia merasa puas, bisa jadi ia akan menarik pelanggan lain ke toko kita."
Pola pikir sang ayah pemilik toko furnitur itu adalah sebuah
pikiran bijak yang patut dimiliki oleh orang yang berjiwa wirausaha. Karena
itu, jika Anda memang punya jiwa melayani, mampu memuaskan konsumen, mampu
berbuat yang terbaik untuk melakukan
deal-deal
bisnis yang menguntungkan semua pihak-seperti kisah di atas-barangkali barulah
Anda pantas jadi pengusaha. Sebab, sejatinya untuk menjadi pengusaha akan
banyak sekali tantangannya. Dan sebenarnya, justru dari tantangan dan halangan
itulah, kita akan jadi pengusaha yang sukses. Hanya mereka yang punya pola
pikir selalu optimis dan positiflah yang akan mampu jadi pengusaha
sesungguhnya.
Jadi, siapkah Anda? Emang enak jadi pengusaha!
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agoeng Widyatmoko - Konsultan independen usaha kecil (UKM)
|
 |
Jangan Kebanyakan Mimpi
|
 |
Jangan Mau Jadi Pengusaha
|
 |
Kkn - kekoncoan Itu Wajib
|
 |
Maling Di Rumahku
|
 |
Carilah Peluang Di Tengah Kemalasan
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Semangat Menghargai Apa Yang Kita Punya
(Artikel Tetap) -
Kamis, 23 Oktober 2008
|
 |
Perbaiki Hubungan Dengan Kata Maaf
(Artikel Tetap) -
Jumat, 24 Oktober 2008
|
 |
Suatu Hari Di Kelas Hypnotherapy
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 25 Oktober 2008
|
 |
Tips Kesuksesan Ala Socrates
(Artikel Tetap) -
Senin, 27 Oktober 2008
|
 |
Hujan Di Balik Jendela
(Artikel Tetap) -
Selasa, 28 Oktober 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Mengaku
(Artikel Tetap) -
Selasa, 21 Oktober 2008
|
 |
Salah Satu Penghambat Kesuksesan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 17 Oktober 2008
|
 |
Buatan Indonesia
(Artikel Tetap) -
Kamis, 16 Oktober 2008
|
 |
Saya Ingin Anda Sukses, Saya Harus Membuat Anda Sukses
(Artikel Tetap) -
Rabu, 15 Oktober 2008
|
 |
Penerangan Ketika Listrik Padam
(Artikel Tetap) -
Senin, 13 Oktober 2008
|
|
|