Alkisah, ada dua ekor tikus bersahabat. Karena keadaan, yang satu tinggal
di desa sedangkan yang lain tinggal di kota. Suatu hari, tikus kota berkunjung
ke desa sahabatnya. Oleh tikus desa, tikus kota dibawa keliling desanya,
disuguhi makanan terbaik ala desa sambil bercerita, "Sahabat, desaku memang
sepi tetapi hawanya begitu sejuk dan suasananya damai. Makanan pun tersedia dimana-mana
di sepanjang lumbung pak tani. Bagaimana menurut pendapatmu?"
Dengan gaya perkotaannya tikus kota menjawab, "Jujur saja sobat, aku
sungguh tidak mengerti kenapa kamu betah tinggal di tempat seperti ini. Begitu
sepi, dingin, dan seakan-akan tidak ada kehidupan yang berarti. Makanan terbaikmu,
rasanya pun juga terlalu hambar bagi lidahku. Sekali waktu datanglah ke kota.
Aku akan tunjukkan kepadamu kehidupan yang layak, nikmat, mewah, dan megah.
Engkau akan tahu betapa jelek, kotor, dan tidak layaknya tempat tinggalmu ini."
Mendengar cerita tentang kota yang begitu menawan, si tikus desa tertarik
untuk ikut ke sana. Setibanya mereka di kota, dengan bangga dibawanya tikus
serta berkeliling menikmati indahnya gedung-gedung tinggi, lampu-lampu yang
menghiasi sepanjang jalan, keramaian manusia dan kendaraan yang berlalu lalang.
Hingga akhirnya mereka sampai ke liang lubang di sebuah rumah mewah kediaman
manusia.
"Ayo masuklah. Memang rumah majikanku besar, indah, dan selalu hangat di
dalamnya, berbeda sekali dengan rumah desamu kan?" Setelah berkeliling, perut
pun terasa lapar. Sambil bercakap-cakap, mereka mengendap-endap memasuki ruang
makan. Sungguh hebat makanan di atas meja, banyak dan beragam serta memancarkan
aroma yang begitu mengundang selera.
Saat hendak menyantap makanan. Tiba-tiba, "gubrak!" terdengar suara daun
pintu dibuka dengan kasar disusul dengan teriakan menggelegar dari orang yang
datang itu. Tikus kota spontan berbalik arah dan berteriak "Cepat lari, cepat !"
sesegera mungkin mereka pun berlari menyelamatkan diri ke lubang pengaman
menghindari caci maki dan kemarahan si penghuni rumah.
Dengan jantung yang masih berdegup kencang karena kaget dan ketakutan, si
tikus desa berkata tegas, "Aku mau pulang. Seindah dan semegah apapun di kota,
di sini bukanlah tempatku. Ternyata desaku yang sepi dan tenang jauh lebih enak
untuk tempat tinggalku. Selamat tinggal sahabat."
Pembaca yang budiman,
Pepatah mengatakan "Rumput tetangga lebih hijau dibanding rumput di halaman
sendiri." Kadang kita hidup selalu dengan perbandingkan! Melihat orang lain
serasa lebih enak, lebih hebat, lebih kaya, lebih indah dibandingkan diri
sendiri. Jika kehebatan orang lain menjadi acuan kita, maka tentulah perasaan
tidak bahagia yang senantiasa menyelimuti kita.
Seperti saat ini, setelah berlebaran di kampung halaman, biasanya
terjadi urbanisasi besar-besaran. Kembali ke kota dan banyak yang membawa serta
sanak saudara dan teman untuk mengais rejeki di kota. Sesungguhnya, jika kaum
muda mau menggali potensi yang ada di kampung halaman mereka masing-masing,
maka banyak masalah yang akan terpecahkan. Dan banyak prestasi yang bisa diciptakan,
desa menjadi maju dan kota tidak perlu pengap karena bertambahnya penduduk yang
tidak sesuai dengan perencanaan kota. Sehingga pemerataan pun terjadi. Dengan
demikian kehidupan akan selaras penuh keharmonisan.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Andrie Wongso
|
 |
Mengembangkan Kasih Sayang
|
 |
The Power of Small Habit - Kebiasaan Menuntaskan Pekerjaan
|
 |
Percikan Api
|
 |
Lentera Kehidupan
|
 |
Indonesia Pasti Jaya
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Bangkitlah Pemuda!
(AW Artikel) -
Selasa, 28 Oktober 2008
|
 |
Prasangka
(AW Artikel) -
Senin, 10 November 2008
|
 |
Nilai Kesadaran
(AW Artikel) -
Rabu, 19 November 2008
|
 |
Jiwa Besar Berkah Besar
(AW Artikel) -
Kamis, 27 November 2008
|
 |
Perjuangan Hidup
(AW Artikel) -
Jumat, 12 Desember 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Doa Untuk Putraku
(AW Artikel) -
Senin, 08 Juni 2009
|
 |
Saya Mau Berubah
(AW Artikel) -
Kamis, 09 Oktober 2008
|
 |
Maafkan Dia
(AW Artikel) -
Kamis, 25 September 2008
|
 |
Menghargai Orang Lain
(AW Artikel) -
Senin, 15 September 2008
|
 |
Ketetapan Hati
(AW Artikel) -
Minggu, 07 September 2008
|
|
|