Ide-ide saya bukanlah ideku. Saya mempelajarinya dari Socrates, Chesterfield, dan lainnya. Saya hanya membuatnya menjadi buku.
Dale Carnegie
Minggu lalu saya berada di Singapura selama satu minggu untuk membantu klien di negara itu. Dalam perjalanan pulang dari Singapura menuju Jakarta, saya menunggu keberangkatan pesawat di Skyview Lounge, Changi Airport, Singapura. Sambil minum secangkir teh panas, saya membaca buku terbaru yang ditulis oleh Robert S. Kaplan & David P. Norton, The Execution Premium, Harvard Business School Publishing (2008). Sesekali saya mengamati suasana sekitar. Hampir delapan puluh lima persen orang yang berada di Lounge itu membaca buku, dan mayoritas dari mereka adalah orang bule. Yang lainnya, sekitar lima belas persen, sedang asyik ngobrol membahas tentang gosip artis di televisi. Mereka mengobrol sambil ketawa cekikikan selama hampir dua jam. Dari bahasa mereka, saya kenali bahwa mereka adalah rombongan anak muda dari Indonesia. ”Sebuah pemandangan yang sangat bertolak belakang antara orang-orang bule dan anak-anak muda Indonesia itu,” gumam saya dalam hati.
Pemandangan itu langsung mengingatkan saya dengan iklan Tantowi Yahya. Sebagai Duta Baca Indonesia, ia mengatakan, ”Membaca adalah salah satu syarat menjadi orang pintar, karena dengan membaca kita dapat mengetahui berbagai macam informasi. Sebaliknya, dengan tidak membaca kita akan jadi bodoh. Kebodohan sangat dekat dengan kemiskinan.” Teringat kata-kata itu, saya langsung mengambil laptop, membukanya dan menuliskan artikel ini.
”Membaca adalah salah satu dari disiplin-disiplin terbaik yang harus dibiasakan,” demikian ungkap Robin Sharma, penulis buku laris internasional, The Monk Who Sold His Ferrari. Ketika kita sedang membaca, kita sebenarnya sedang berinteraksi dengan Sang Penulis buku. Maukah Anda bercengkrama dengan Bill Gates, pemilik Microsoft, orang terkaya di dunia, sambil minum teh? Inginkah Anda mendapatkan nasihat dari Warrent Buffet? Saya yakin, sama seperti saya, kebanyakan dari Anda juga pasti mau. Tapi bagaimana caranya? Bukankah Bill Gates dan Warrent Buffet tidak mungkin punya waktu untuk Anda? Gampang! Baca buku mereka! Dengan membaca buku-buku mereka, maka Anda bisa mengetahui jalan pikiran mereka. Dengan membaca buku tentang orang sukses yang Anda hormati, maka sebenarnya Anda sedang mengijinkan cara berpikir brilian orang luar biasa itu masuk ke dalam pikiran Anda, mempengaruhi hidup Anda dan pada gilirannya akan membuat Anda sukses, sama seperti mereka.
Mungkin warisan terbesar saya nantinya bagi anak-anak saya adalah perpustakaan saya. Saya memiliki buku tentang produktivitas, kualitas, sistem manajemen, manajemen strategik, motivasi, kepemimpinan, bisnis, spiritual, dan topik-topik lain yang saya senangi. Kebanyakan buku-buku itu saya beli di toko buku dalam negeri maupun luar negeri, atau saya membeli melalui website amazon.com. Buku-buku itu mempengaruhi cara berpikir dan membentuk nilai-nilai dalam hidup saya. Kalau saya bisa seperti apa adanya saya sekarang ini, itu karena hasil membaca buku di masa lalu. Bagi saya, buku adalah harta yang tak ternilai harganya.
Daripada Anda membelanjakan uang Anda untuk hal-hal yang tidak penting, lebih baik Anda membeli buku. Dari pada Anda menonton program Televisi yang tidak bermutu, lebih baik Anda meluangkan waktu untuk membaca buku. Banyak orang mengatakan tidak punya waktu untuk membaca buku, tetapi ironisnya mereka punya waktu berjam-jam dalam satu hari untuk menonton televisi atau sekedar jalan-jalan ke mal. Menurut survei, rata-rata orang menghabiskan waktu untuk menonton Televisi minimum tiga jam dalam satu hari. Jika saja Anda mau menginvestasikan uang dan waktu Anda untuk membaca buku-buku positif minimum satu jam satu hari, maka hidup Anda akan jauh lebih baik dari hidup Anda sekarang.
Bisa membaca tetapi tidak membaca adalah hampir sama dengan buta huruf. Anda harus meluangkan waktu membaca hal-hal positif setiap hari. Penuhi pikiran Anda dengan hal-hal itu, maka Anda akan menjadi orang sukses. Jika Anda ingin sukses, gunakanlah buku sebagai sarana inspirasi yang membakar jiwa dan semangat Anda. Gemarlah membaca!
Berny Gomulya adalah seorang penulis, pembicara seminar profesional, pelatih personal dan perusahaan dalam bidang productivity dan management system. Ia mendapatkan pengakuan tertinggi dari dunia otomotif internasional sebagai salah satu dari hanya delapan orang Indonesia sebagai Auditor TS 16949:2002 International Automotive Task Force (IATF). Setelah lulus sebagai Sarjana Elektro dan Magister Manajemen dari Universitas Indonesia, dia bekerja di PT Astra International Tbk dan Productivity Standard Board (PSB) di Singapore. Kini, Berny mendirikan sebuah lembaga di bidang personal productivity, organization productivity, dan management system. Berny dapat dihubungi melalui email ke bernygomulya@yahoo.com.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Berny Gomulya
|
 |
Seandainya Kita Lahir Pada Usia 80 Tahun
|
 |
Tujuh Fondasi Keseimbangan
|
 |
C U K U P
|
 |
Katakan Tidak
|
 |
Kegagalan Dimulai Dari Kesuksesan
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Bersuara Dan Temukan Suara Bagi Yang Lain
(Artikel Anda) -
Senin, 13 Oktober 2008
|
 |
Bagaimana Dan Mengapa Karakter Itu Menjadi Penting?
(Artikel Anda) -
Selasa, 14 Oktober 2008
|
 |
The Secret Of Success
(Artikel Anda) -
Rabu, 15 Oktober 2008
|
 |
Jangan Tanya Pada Rumput Yang Bergoyang
(Artikel Anda) -
Kamis, 16 Oktober 2008
|
 |
1001 Alasan
(Artikel Anda) -
Sabtu, 18 Oktober 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Hati-hati Dengan Pikiran Anda
(Artikel Anda) -
Sabtu, 11 Oktober 2008
|
 |
Invicible And Incredible Power
(Artikel Anda) -
Kamis, 09 Oktober 2008
|
 |
Mengukir Reputasi Lebih Penting Dari Prestasi
(Artikel Anda) -
Selasa, 07 Oktober 2008
|
 |
EnjoyAja
(Artikel Anda) -
Minggu, 05 Oktober 2008
|
 |
Tujuh Hari Dalam Kebijaksanaan (hari Kelima)
(Artikel Anda) -
Sabtu, 04 Oktober 2008
|
|
|