|
|||
|
Penulis : Prie GS
Kamis, 09-Oktober-2008
Setiap lebaran tiba kampungku
malah dicekam sepi. Tetangga yang sibuk mudik cuma membuktikan bahwa kampung
ini hanyalah wilayah transit. Ia cuma
dihuni ketika kita butuh bekerja dan menghidupi keluarga. Kedudukannya lalu setara dengan tempat rekreasi. Orang-orang
ramai berdatangan di siang hari, tetapi ketika malam menjelang ia ditinggal
sendiri. Menatap kampung ini tanpa teman di saat mestinya ia penuh keramaian
lalu menerbitkan rasa ibaku. Lebaran tahun ini menggerakkan niatku untuk menemani kampungku yang sepi.
Pagi-pagi, setelah rampung salat Idul Fitri, aku mengajak anak istriku keliling kampung menyambangi warga yang tersisa. Orang-orang yang kudatangi itu semula kaget, lalu gembira, pada akhirnya ada yang berkaca-laca. Kaget karena tradisi kunjung mengunjungi nyaris mati di kampung transit seperti ini. Gembira karena mendapat kunjungan adalah sebuah harga. Tepatnya, ia mendatangkan perasaan berharga. Terharu, karena di antara tetanggaku itu, ada yang kedudukannya sungguh tak kusangka-sangka. Ia seorang nenek yang tinggal sendiri d rumah kecilnya. Rumah itu sederhana tapi bersih dan rapi. Ini semua membuktikan bahwa di dalam kesendiriannya, nenek ini sanggup meramaikan hidupnya. Ia pasti jenis orang tua yang sehat lahir dan batinnya. Tetapi tak peduli seberapapun ia sehat, nenek ini tetaplah pihak yang sedang sendiri. Pintunya yang ia biarkan terbuka itu, pasti pintu yang penuh doa, agar ada saja tamu yang nanti menjenguknya. Dan benar pula dugaanku. Ketika kami sekeluarga datang, kedatangan yang pasti tak ia duga, nenek ini menyambut kami dengan kegairahan sedemikian rupa. Ia memegang tanganku seperti aku ini cucunya yang hilang lama. ‘'Saya titip jiwa raga,'' katanya. Kalimat ini langsung sekali. Saya terdiam dibuatnya. Betapa ketuaan, kesendirian, adalah musuh yang menggentarkan. Dan ia cuma bisa ditaklukkan oleh perasaan ditemani. Padahal untuk merasa sepi dan ditinggalkan, manusia tidak perlu menjadi setua nenek yang sendiri ini. Buatlah diri Anda sebagai pribadi yang tidak aktual, pribadi yang dijauhi kanan-kiri, pihak yang tertolak di sana-sini. Percayalah, tak butuh waktu lama bagi Anda untuk depresi dan pelan-pelan mati. Bunga-bunga di belukar itu, kenapa tumbuh dengan sempurna walau ia dililit semak dan duri, ya karena seluruh isi belukar itulah sesungguhnya adalah teman-teman sejati. Di dalam ekosistem itulah terdapat mata rantai yang menghidupkan, menguatkan dan saling menemani. Manusia yang sendiri adalah manusia yang sedang terpisah dari mata rantainya. Nenek ini bisa saja sedang mengalami keterpisahan itu. Tetapi melihat rumah kecilnya yang rapi, bahasanya yang hidup dan jabat tangannya yang hangat, aku tidak sedang melihat ancaman sepi. Aku hanya sedang melihat orang tua yang sendiri. Bahwa kesendirian butuh teman, aku mengerti. Tetapi nenek ini kuyakini telah sanggup menghadirkan aneka teman dalam kesendirian. Entah kenapa, aku tak terlalu khawatir lagi pada nasib orang tua ini. Kekhawatiranku malah kepada seluruh orang-orang, termasuk diriku sendiri, yang tampaknya dikelilingi keramaian, tetapi sesungguhnya ia senantiasa kesepian. Jangan-jangan semakin aku meleburkan diriku dalam keramaian cuma semakin menegaskan kesepianku. Jangan-jangan semakin aku dikelilingi banyak teman semakin menegaskan bahwa sejatinya aku tak berteman. Di rumahku memang berkumpul seluruh anggota keluargaku, di dalam rumah setiap kali kami berpapasan, tetapi bisa jadi kami tak pernah benar-benar saling bertemu. Aku bisa saja begitu jauh dari anak-anakku, walau setiap hari mereka lalu-lalang di sebelahku. Dengan istri, bisa saja aku merasa tak pernah berjumpa walau setiap malam kami tidur di bawah selimut yang sama. Akhirnya yang aku cemaskan bukan nenek yang hidup sendiri di rumah kecilnya ini, melainkan diriku sendiri, atau orang-orang sepertiku, yang diam-diam kesepian di tengah keramaian. Prie GS |
|||
|
|||
| ( View : 4478 | Refer : 2 | Print : 97 | Rate : 0.00 / 0 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Belajar Dari Kesalahan Orang Amerika (Artikel Tetap) - Jumat, 10-Oktober-2008 | ||
| • | Penerangan Ketika Listrik Padam (Artikel Tetap) - Senin, 13-Oktober-2008 | ||
| • | Saya Ingin Anda Sukses, Saya Harus Membuat Anda Sukses (Artikel Tetap) - Rabu, 15-Oktober-2008 | ||
| • | Buatan Indonesia (Artikel Tetap) - Kamis, 16-Oktober-2008 | ||
| • | Salah Satu Penghambat Kesuksesan (Artikel Tetap) - Jumat, 17-Oktober-2008 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Ciptakan Kemenangan Anda (Artikel Tetap) - Rabu, 08-Oktober-2008 | ||
| • | Pertanyaan Yang Berkualitas Menghasilkan Jawaban Yang Berkualitas (Artikel Tetap) - Senin, 06-Oktober-2008 | ||
| • | Logika Atau Kendala (Artikel Tetap) - Minggu, 05-Oktober-2008 | ||
| • | Betapa Hal Kecil Bisa Bisa Merubah Hidup Anda (Artikel Tetap) - Kamis, 02-Oktober-2008 | ||
| • | Empat Penjara Hati (Artikel Tetap) - Rabu, 01-Oktober-2008 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



