|
|||
|
Penulis : Team Andriewongso.com
Rating Artikel :
Rabu, 08-Oktober-2008
Jika ada sosok yang sebelumnya kurang
dikenal dan tiba-tiba mencuat menjadi buah bibir di seluruh dunia, barangkali
salah satunya adalah Barack Obama Junior. Yah, berkat kemenangannya dalam
pemilihan calon presiden dari Partai Demokrat-mengalahkan calon kuat, Hillary
Clinton-ia kini maju menjadi calon presiden negara adidaya Amerika Serikat
(AS). Dalam pemilihan mendatang, ia akan melawan rivalnya dari Partai Republik,
John McCain.
Hebatnya, Obama tercatat sebagai calon presiden pertama AS yang berkulit hitam. Tentunya ini menjadi catatan sejarah. Sebab, meski di AS pernah bermunculan pemimpin kulit hitam, namun belum satu pun yang kemudian menjadi calon kuat menjadi presiden. Apalagi, posisi pria kelahiran 4 Agustus 1961 di Honolulu Hawaii-dalam berbagai jajak pendapat-sangat diunggulkan. Memang, tak banyak orang di dunia yang tahu sosok pria murah senyum ini sebelum akhinya maju jadi capres. Ia yang sebelumnya menjabat sebagai senator di negara bagian Illinois, hanya dikenal di AS saja. Bahkan, sebelum jadi senator, mungkin juga tak banyak orang yang tahu bahwa ia adalah seorang dosen hukum konstitusi di University of Chicago Law School dari tahun 1992-2004. Padahal, lulusan Columbia University dan Harvard Law School ini punya sejumlah prestasi yang cukup membanggakan. Terlahir dari keluarga multietnis, sosok Obama mengundang banyak simpati. Ayahnya, seorang ekonom kulit hitam lulusan Harvard, Barack Husein Obama Senior berasal dari Kenya. Sedangkan ibunya yang berkulit putih, Ann Dunham, berasal dari Wichita Kansas. Ketika berusia dua tahun, orangtuanya bercerai. Obama pun ikut ibunya. Sang ibu kemudian menikah lagi dengan pria berkebangsaan Indonesia, Lolo Soetoro, yang kala itu sedang menempuh pendidikan jenjang MA Geografi di East-West Center. Lolo yang juga pejabat di Pertamina kemudian memboyong ibunya dan Obama ke Indonesia. Inilah yang kemudian membuat Obama dianggap sangat dekat dengan Indonesia. Bahkan, ia sempat sekolah di Indonesia sampai usia 10 tahun. Setelah itu, ia kemudian tinggal bersama kakek neneknya dan bersekolah di Punahou School di AS. Di sana, sepertinya bakat kecerdasan dan kepemimpinan Obama mulai tertanam. Buktinya, ia lulus dengan predikat honor atau sangat baik. Karier Obama di dunia politik mulai teruji ketika ia memutuskan untuk menjadi calon anggota DPR Amerika pada tahun 2000. Saat itu, ia gagal. Meski begitu, ia pantang berputus asa. Sembari tetap mengajar, ia maju lagi dalam pencalonan sebagai senat tahun 2003. Kemudian, pada kesempatan pidato dalam Democratic National Convention, ia berhasil memukau dan akhirnya terpilih sebagai senator pada November 2004. Kiprahnya terus menanjak. Di antaranya ia berperan aktif dalam menelurkan sejumlah aturan, seperti soal penggunaan senjata dan transparansi keuangan dana federal. Berbekal berbagai gebrakan politiknya inilah, Obama kemudian memberanikan maju sebagai capres dari Partai Demokrat. Sebab, menurutnya, untuk merubah sesuatu perlu tindakan nyata, dan menjadi presiden adalah salah satunya. "Perubahan tak kan terjadi jika kita menunggu orang lain atau kesempatan lain untuk berubah. Sebab, diri kitalah yang kita tunggu, kitalah perubahan yang dicari itu," ujarnya dalam sebuah kesempatan. "Butuh banyak tetesan darah dan keringat untuk sampai di sini (pemilihan presiden-red). Tapi kita baru mulai. Yang kita lakukan hari ini adalah untuk memastikan bahwa dunia yang akan kita tinggalkan kelak jauh lebih baik untuk anak kita daripada saat ini." Dengan tekad itulah, kini Obama terus maju. Entah bagaimana hasilnya kelak, kita tunggu saja. Tekad dan kemampuan Obama untuk melakukan perubahan dengan maju ke panggung politik perlu mendapat acungan jempol. Meski tak diunggulkan sebelumnya, dengan tekad kuat dan semangat pantang menyerah, ia menunjukkan bahwa dirinya layak dipilih untuk jadi orang nomor satu di negara adidaya Amerika. Sebuah semangat dan tekad yang patut dicontoh dan diterapkan di banyak bidang. Sebab, sejatinya, tanpa tekad kuat dan semangat pantang menyerah-plus kerja keras tentunya- sebuah cita-cita hanya akan berujung pada impian semata. |
|||
|
Komentar Anda
Pengirim : Andreas Hery
isi artikel ini banyak makna yg perlu kita ambil..
di artikel ini mengajarkan kita bahwa jang pernah menyerah begitu saja walaupun kita telah mengalami suatu kegagalan.Masa depan yg cerah ad di benak pundak kita bukan di benak orang lain.
Pengirim : Hengky K
good... artikel ini membuat kita perlu refresh bahwa tekad dan perjuangan harus ada di kehidupan kita
|
|||
|
|||
| ( View : 6823 | Refer : 8 | Print : 214 | Rate : 9.00 / 1 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Jet Li, Jagoan Di Dalam Dan Luar Film (Success Story) - Rabu, 22-Oktober-2008 | ||
| • | Markis Kido/hendra Setiawan (Success Story) - Kamis, 06-November-2008 | ||
| • | Jeff Bezos, Sang Raja Bisnis Online (Success Story) - Selasa, 11-November-2008 | ||
| • | Soebronto Laras (Success Story) - Jumat, 28-November-2008 | ||
| • | Matthew Mullenweg (Success Story) - Rabu, 17-Desember-2008 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Michael Phelps (Success Story) - Rabu, 24-September-2008 | ||
| • | Putera Sampoerna (Success Story) - Selasa, 09-September-2008 | ||
| • | Titiek Puspa (Success Story) - Senin, 25-Agustus-2008 | ||
| • | Rafael Nadal, Sang Pejuang Pantang Menyerah (Success Story) - Rabu, 06-Agustus-2008 | ||
| • | Yoo Ye-eun (Success Story) - Kamis, 24-Juli-2008 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



