|
|||
|
Penulis : Pitoyo Amrih
Rating Artikel :
Senin, 01-September-2008
Minggu lalu, selama beberapa hari, saya kebetulan bertugas ke kota yang sampai saat ini, tak henti-hentinya saya memberi predikat sebagai kota yang memiliki penduduk yang sangat luar biasa. Kota Jakarta! Walaupun saya cukup rutin mengunjungi kota itu, tapi pada setiap saya kembali menginjakkan kaki di sana melihat di sekeliling, rasa kagum itu tak pernah berhenti.
Terkadang dalam hati, saya selalu menjuluki penduduk kota Jakarta dengan sebutan para pejuang ekstrim. Bukan dalam hal ketahanan fisik mereka terhadap tuntutan ritme kerja mereka, tapi lebih kepada kehebatan mereka dalam mengelola perasaan terhadap suasana seperti itu sepanjang hidup mereka. Saya bukannya menafikkan penduduk kota lain, bahwa mereka pasti mengalami tekanan kehidupan yang lebih ringan, tapi saya sendiri yang berdomisili di Solo, merasakan bentuk perjuangan itu beda. Bentuk perjuangan kehidupan yang tidak hanya mengelola stamina fisik, tapi tuntutan stamina hati yang lebih. Karena kalau direnungi lebih dalam dari sisi stamina fisik, saya yang tinggal di sekitar lingkungan persawahan, hampir setiap hari melihat bagaimana bapak-bapak petani yang setelah subuh harus sudah pergi ke sawah yang mereka garap, seharian bekerja di bawah terik matahari, seharian bergulat dengan lumpur, dan pulang kembali ke rumah menjelang petang. Alokasi waktu sepertinya kurang lebih sama. Ada juga saya kenal dengan seorang pedagang sate ayam, yang tiap hari, dimulai setelah subuh sudah berbelanja ayam, memotong, menguliti, menyiapkan tusuk satenya, dan seterusnya dilakukan selama seharian. Sore hari dia harus membuka warung satenya, dan tutup kira-kira hampir tengah malam. Waktu yang digunakan selama sehari untuk bekerja bahkan lebih panjang. Lelah fisiknya juga demikian, sepadan dengan teman-teman yang tinggal di kota besar. Hanya bedanya, saya melihat sang bapak petani tadi, tiap siang hari selalu disambangi istrinya membawa bekal makan siang. Mereka masih sempat bermotor menjemput anak-anak mereka dari sekolah, untuk kemudian bercengkerama di balai-balai tengah sawah sambil makan. Juga bapak sate itu, tiap hari dia bekerja di rumah, selalu berkomunikasi dengan istrinya, melayani pembeli sate di malam hari juga dibantu dengan istri dan anaknya. Hal ini coba saya bandingkan dengan rekan-rekan saya yang tinggal di Jakarta. Setiap kali bertemu orang baru, disela-sela agenda pembicaraan, pertanyaan klasik saya selalu seputar dimana rumah tinggal, berapa jarak yang ditempuh setiap harinya, jam berapa berangkat kantor, jam berapa sampai rumah. Dan jawaban itu hampir semua sama, jarak rumah dan tempat kerja selalu pada hitungan puluhan kilometer -bahkan ada yang sampai lebih dari seratus kilometer!-, setiap hari berangkat subuh, dan pulang malam hari. Terkadang ada hari-hari dimana harus berangkat kerja sebelum anak bangun tidur dan pulang malam ketika si anak sudah tidur. Entahlah, sesuatu yang selalu membuat saya termangu kagum, karena saya merasa betapa berat perjuangan pada kondisi seperti itu bila hal itu terjadi pada saya. Saya yang bila sudah lebih dari dua hari tidak melewatkan waktu barang sejenak bermain bersenda gurau dengan anak saya, rasanya tidak mudah untuk mengelola kerinduan yang timbul. Dan tidak hanya itu, selama di Jakarta, saya selalu amati, dari waktu bekerja itu, lebih dari tigapuluh persen waktu, saya lewatkan di dalam mobil di perjalanan, hanya untuk menunggu antrian berbagi jalan menuju tempat tujuan. Saya pikir bagi penduduk Jakarta sendiri hal itu merupakan hal yang biasa. Saya hanya begitu kagum bagaimana mereka menjaga ketahanan mereka yang nampak selalu terbelenggu untuk sekedar bisa merasakan bagaimana indah rasanya sekali waktu menjemput sendiri anak dari sekolah, bagaimana leganya bisa berkomunikasi dengan istri/suami, orang tua, anak, tetangga, tanpa perasaan lelah dan diburu-buru waktu, bagaimana enaknya setiap sore sambil duduk di teras rumah melihat anak bemain sepeda. Entahlah,..atau mungkin saya yang terlalu ekstrim dalam melihat... 29 Agustus 2008 Pitoyo Amrih www.pitoyo.com Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga |
|||
|
|||
| ( View : 1398 | Refer : 0 | Print : 153 | Rate : 8.50 / 2 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Memilih Jadi Kaya (Artikel Tetap) - Selasa, 02-September-2008 | ||
| • | The Law Of Attraction (Artikel Tetap) - Rabu, 03-September-2008 | ||
| • | Pembaharuan Diri (Artikel Tetap) - Kamis, 04-September-2008 | ||
| • | Percaya Diri Cikal Bakal Kesuksesan (Artikel Tetap) - Jumat, 05-September-2008 | ||
| • | Seven Habits Of Highly Confident People (Artikel Tetap) - Sabtu, 06-September-2008 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Berani Saja Tidak Cukup (Artikel Tetap) - Sabtu, 30-Agustus-2008 | ||
| • | Ketika Kualitas Layanan Diabaikan (Artikel Tetap) - Jumat, 29-Agustus-2008 | ||
| • | Sukses Spritual Saya (Artikel Tetap) - Kamis, 28-Agustus-2008 | ||
| • | Antusiasme Berbicara Itu Menular (Artikel Tetap) - Rabu, 27-Agustus-2008 | ||
| • | Tidak Dapat Memilah Ukuran Ubi Kayu (Artikel Tetap) - Selasa, 26-Agustus-2008 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



