Minggu lalu, selama beberapa hari, saya kebetulan bertugas ke kota yang sampai saat ini, tak henti-hentinya saya memberi predikat sebagai kota yang memiliki penduduk yang sangat luar biasa. Kota Jakarta! Walaupun saya cukup rutin mengunjungi kota itu, tapi pada setiap saya kembali menginjakkan kaki di sana melihat di sekeliling, rasa kagum itu tak pernah berhenti.
Terkadang dalam hati, saya selalu menjuluki penduduk kota Jakarta
dengan sebutan para pejuang ekstrim. Bukan dalam hal ketahanan fisik
mereka terhadap tuntutan ritme kerja mereka, tapi lebih kepada
kehebatan mereka dalam mengelola perasaan terhadap suasana seperti itu
sepanjang hidup mereka.
Saya bukannya menafikkan penduduk kota
lain, bahwa mereka pasti mengalami tekanan kehidupan yang lebih ringan,
tapi saya sendiri yang berdomisili di Solo, merasakan bentuk perjuangan
itu beda. Bentuk perjuangan kehidupan yang tidak hanya mengelola
stamina fisik, tapi tuntutan stamina hati yang lebih. Karena kalau
direnungi lebih dalam dari sisi stamina fisik, saya yang tinggal di
sekitar lingkungan persawahan, hampir setiap hari melihat bagaimana
bapak-bapak petani yang setelah subuh harus sudah pergi ke sawah yang
mereka garap, seharian bekerja di bawah terik matahari, seharian
bergulat dengan lumpur, dan pulang kembali ke rumah menjelang petang.
Alokasi waktu sepertinya kurang lebih sama. Ada
juga saya kenal dengan seorang pedagang sate ayam, yang tiap hari,
dimulai setelah subuh sudah berbelanja ayam, memotong, menguliti,
menyiapkan tusuk satenya, dan seterusnya dilakukan selama seharian.
Sore hari dia harus membuka warung satenya, dan tutup kira-kira hampir
tengah malam. Waktu yang digunakan selama sehari untuk bekerja bahkan
lebih panjang. Lelah fisiknya juga demikian, sepadan dengan teman-teman
yang tinggal di kota besar.
Hanya
bedanya, saya melihat sang bapak petani tadi, tiap siang hari selalu
disambangi istrinya membawa bekal makan siang. Mereka masih sempat
bermotor menjemput anak-anak mereka dari sekolah, untuk kemudian
bercengkerama di balai-balai tengah sawah sambil makan. Juga bapak sate
itu, tiap hari dia bekerja di rumah, selalu berkomunikasi dengan
istrinya, melayani pembeli sate di malam hari juga dibantu dengan istri
dan anaknya.
Hal ini coba saya bandingkan dengan rekan-rekan saya yang tinggal di Jakarta.
Setiap kali bertemu orang baru, disela-sela agenda pembicaraan,
pertanyaan klasik saya selalu seputar dimana rumah tinggal, berapa
jarak yang ditempuh setiap harinya, jam berapa berangkat kantor, jam
berapa sampai rumah. Dan jawaban itu hampir semua sama, jarak rumah dan
tempat kerja selalu pada hitungan puluhan kilometer -bahkan ada yang
sampai lebih dari seratus kilometer!-, setiap hari berangkat subuh, dan
pulang malam hari. Terkadang ada hari-hari dimana harus berangkat kerja
sebelum anak bangun tidur dan pulang malam ketika si anak sudah tidur.
Entahlah, sesuatu yang selalu membuat saya termangu kagum, karena saya
merasa betapa berat perjuangan pada kondisi seperti itu bila hal itu
terjadi pada saya. Saya yang bila sudah lebih dari dua hari tidak
melewatkan waktu barang sejenak bermain bersenda gurau dengan anak
saya, rasanya tidak mudah untuk mengelola kerinduan yang timbul.
Dan tidak hanya itu, selama di Jakarta,
saya selalu amati, dari waktu bekerja itu, lebih dari tigapuluh persen
waktu, saya lewatkan di dalam mobil di perjalanan, hanya untuk menunggu
antrian berbagi jalan menuju tempat tujuan.
Saya pikir bagi penduduk Jakarta
sendiri hal itu merupakan hal yang biasa. Saya hanya begitu kagum
bagaimana mereka menjaga ketahanan mereka yang nampak selalu
terbelenggu untuk sekedar bisa merasakan bagaimana indah rasanya sekali
waktu menjemput sendiri anak dari sekolah, bagaimana leganya bisa
berkomunikasi dengan istri/suami, orang tua, anak, tetangga, tanpa
perasaan lelah dan diburu-buru waktu, bagaimana enaknya setiap sore
sambil duduk di teras rumah melihat anak bemain sepeda.
Entahlah,..atau mungkin saya yang terlalu ekstrim dalam melihat...
29 Agustus 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Pitoyo Amrih ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Kekerasan Di Sekitar Kita...
|
 |
Berbagi Alam Dengan Anak Cucu bagian II
|
 |
What You See is Not What You See
|
 |
When Enough is Enough
|
 |
Rule Of Engagement
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Memilih Jadi Kaya
(Artikel Tetap) -
Selasa, 02 September 2008
|
 |
The Law Of Attraction
(Artikel Tetap) -
Rabu, 03 September 2008
|
 |
Pembaharuan Diri
(Artikel Tetap) -
Kamis, 04 September 2008
|
 |
Percaya Diri Cikal Bakal Kesuksesan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 05 September 2008
|
 |
Seven Habits Of Highly Confident People
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 06 September 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Berani Saja Tidak Cukup
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 30 Agustus 2008
|
 |
Ketika Kualitas Layanan Diabaikan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 29 Agustus 2008
|
 |
Sukses Spritual Saya
(Artikel Tetap) -
Kamis, 28 Agustus 2008
|
 |
Antusiasme Berbicara Itu Menular
(Artikel Tetap) -
Rabu, 27 Agustus 2008
|
 |
Tidak Dapat Memilah Ukuran Ubi Kayu
(Artikel Tetap) -
Selasa, 26 Agustus 2008
|
|
|