|
|||
|
Penulis : Team Andriewongso.com
Senin, 11-Agustus-2008
Inilah pesan berharga dari
Universitas Hasanuddin Makassar yang Indonesia butuh mendengarnya.
Semula hanya tentang seorang dosen, Dr Ir Yushinta Fujaya Msi, namanya, yang
meneliti kepiting. Menyangkut hewan ini, telah jamak dikenal, bahwa teknologi
untuk melunakkan cangkangnya, adalah dengan cara mutilasi: yakni memreteli kaki-kakinya. Sungguh, cara ini setara dengan
penggemukan ayam pedaging dengan cara memotongi kakinya. Ayam-ayam itu
dibiarkan makan sepanjang waktu, tetapi tidak diperkenankan bergerak. Biarlah
ia menggembung sambil teraniaya demi keuntungan pemiliknya. Cara ini juga serupa
dengan sapi-sapi yang hendak disembelih,
dengan lebih dulu menggelonggong air hingga kembung perutnya. Itulah asal mula Indonesia
harus mengenal sapi gelonggongan, dengan daging yang tak pernah bisa digoreng,
karena air yang melimpah di dalamnya.
Kekejaman bangsa ini kepada hewan-hewan, memang harus diakhiri. Hewan yang kita konsumsi sambil dizalimi begini, pasti cuma akan mendatangkan kemudharatan bagi tubuh. Ia akan menimbulkan karma bagi tubuh dan jiwa. Dan kekejaman kepada hewan-hewan itulah juga yang akhirnya tercermin pada kekejaman kita kepada alam, manusia dan negara. Kekejaman kepada negara itu, malah sudah kita rasakan bersama akibatnya. Inilah negara pemilik kesuburan tetapi gagal mendatangkan kemakmuran. Yushinta adalah dosen peneliti, bahwa untuk melunakkan cangkang kepiting, cukup hanya dengan menyuntikkan ekstrak bayam ke tubuh mereka. Kaki hewan-hewan ini tak peru lagi dipreteli lagi. Yushinta tidak cuma tergerak menyayangi kepiting dan menjaga martabatnya, tetapi juga membayangkan visi perdagangan jangka panjang, dengan dunia sebagai pasarnya. Bahwa terhadap hewan sekalipun, pasar dunia itu menjunjung adab yang tinggi kepada hewan. Sebelum disembelih, sapi-sapi di Jerman perlu dibius dan dininabobokkan dengan ketentraman. Sebagai ganjarannya, manusia mereka beri daging yang bagus mutunya, yang dihasilkan tidak dengan langkah aniaya. Ini jelas bukan sapi yang selama sehari-semalam diikat dalam bak-bak truk terbuka, tanpa bisa duduk untuk sejenak beristirahat, sambil menempuh perjalanan panjang. Hewan-hewan itu kita anggap diam, pasti karena mereka cuma tak sanggup berbicara. Hewan teraniaya itulah yang kita makan, dan pasti akan menjadi persoalan bagi tubuh. Kini, Yushinta sedang mengajukan temuannya itu untuk secepatnya dikabulkan sebagai temuan anak bangsa yang diliundungi hukum berupa Hak atas kekayaan Intelektual. Negara harus secepatnya memproses permohonan ini untuk melindungi kecerdasan bangsa sendiri. Percuma saja memiliki rakyat cerdas, jika negara terlambat merawatnya. Rakyat yang sehat, harus disambut dengan mata rantai berbangsa yang juga sehat. Jika tidak, banyak pertumbuhan yang akan berujung mati! |
|||
|
|||
| ( View : 692 | Refer : 4 | Print : 83 | Rate : 0.00 / 0 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Fenality (Smartorial) - Rabu, 20-Agustus-2008 | ||
| • | Mendaulat Kebenaran (Smartorial) - Jumat, 22-Agustus-2008 | ||
| • | Kesaksian YangMenegaskan (Smartorial) - Rabu, 27-Agustus-2008 | ||
| • | Salah Tangkap Dan Salah Hukum (Smartorial) - Kamis, 04-September-2008 | ||
| • | Perangkap Pangan (Smartorial) - Jumat, 05-September-2008 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Arisan Kekuasaan (Smartorial) - Jumat, 08-Agustus-2008 | ||
| • | Berperang Melawan Plastik (Smartorial) - Kamis, 07-Agustus-2008 | ||
| • | Mencari Kutu Di Kepala Sendiri (Smartorial) - Rabu, 06-Agustus-2008 | ||
| • | Rekaman Adam Air (Smartorial) - Selasa, 05-Agustus-2008 | ||
| • | Makanan Basi (Smartorial) - Senin, 04-Agustus-2008 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



