Inilah pesan berharga dari
Universitas Hasanuddin Makassar yang Indonesia butuh mendengarnya.
Semula hanya tentang seorang dosen, Dr Ir Yushinta Fujaya Msi, namanya, yang
meneliti kepiting. Menyangkut hewan ini, telah jamak dikenal, bahwa teknologi
untuk melunakkan cangkangnya, adalah dengan cara mutilasi: yakni memreteli kaki-kakinya. Sungguh, cara ini setara dengan
penggemukan ayam pedaging dengan cara memotongi kakinya. Ayam-ayam itu
dibiarkan makan sepanjang waktu, tetapi tidak diperkenankan bergerak. Biarlah
ia menggembung sambil teraniaya demi keuntungan pemiliknya. Cara ini juga serupa
dengan sapi-sapi yang hendak disembelih,
dengan lebih dulu menggelonggong air hingga kembung perutnya. Itulah asal mula Indonesia
harus mengenal sapi gelonggongan, dengan daging yang tak pernah bisa digoreng,
karena air yang melimpah di dalamnya.
Kekejaman bangsa ini kepada hewan-hewan, memang harus diakhiri. Hewan yang
kita konsumsi sambil dizalimi begini, pasti cuma akan mendatangkan kemudharatan
bagi tubuh. Ia akan menimbulkan karma bagi tubuh dan jiwa. Dan kekejaman kepada
hewan-hewan itulah juga yang akhirnya tercermin pada kekejaman kita kepada alam, manusia dan
negara. Kekejaman kepada negara itu, malah sudah kita rasakan bersama akibatnya.
Inilah negara pemilik kesuburan tetapi gagal mendatangkan kemakmuran.
Yushinta adalah dosen peneliti, bahwa untuk melunakkan cangkang
kepiting, cukup hanya dengan menyuntikkan ekstrak bayam ke tubuh mereka. Kaki
hewan-hewan ini tak peru
lagi dipreteli lagi. Yushinta tidak cuma tergerak menyayangi kepiting dan
menjaga martabatnya, tetapi juga membayangkan visi perdagangan jangka panjang, dengan dunia sebagai
pasarnya. Bahwa terhadap hewan sekalipun, pasar dunia itu menjunjung adab yang tinggi
kepada hewan. Sebelum disembelih, sapi-sapi
di Jerman perlu dibius dan dininabobokkan dengan ketentraman. Sebagai
ganjarannya, manusia mereka beri daging yang bagus mutunya, yang dihasilkan tidak
dengan langkah aniaya. Ini jelas bukan
sapi yang selama sehari-semalam diikat dalam bak-bak truk terbuka, tanpa bisa duduk untuk sejenak beristirahat,
sambil menempuh perjalanan panjang. Hewan-hewan itu kita anggap diam, pasti
karena mereka cuma tak sanggup berbicara. Hewan teraniaya itulah yang kita makan,
dan pasti akan menjadi persoalan bagi tubuh.
Kini, Yushinta sedang mengajukan temuannya itu untuk secepatnya
dikabulkan sebagai temuan anak bangsa yang
diliundungi hukum berupa Hak atas kekayaan
Intelektual. Negara harus secepatnya memproses permohonan ini untuk melindungi
kecerdasan bangsa sendiri. Percuma saja memiliki rakyat cerdas, jika negara
terlambat merawatnya. Rakyat yang sehat, harus disambut dengan mata rantai berbangsa
yang juga sehat. Jika tidak, banyak pertumbuhan yang akan berujung mati!
( View : 527 | Refer : 4 | Print : 62 )
AW Jumlah Pengunjung
Total Pengunjung (Sejak 10/10/2006)
3016977
Pengunjung Kemarin
4758
Pengunjung Hari Ini
3912
Online
88
Pengiriman Artikel dan AW Jokes
Jika Anda ingin mengirimkan Artikel, silahkan tekan tombol dibawah ini