Kecanduan akan
minyak..! Hmm,..sebuah kalimat yang pagi tadi sempat mencuri perhatian
saya. Menjadi keterangan sebuah gambar di Majalah National Geographic
edisi bulan Agustus 2008. Apa yang membuat saya tertarik bukanlah dari
untaian kata itu sendiri, karena terdengar memang kalimat itu terasa
biasa saja tidak ada yang istimewa. Yang membuat kalimat itu terkesan
beda adalah dari substansi-nya yang bagi telinga saya sangat terasa
menggugah keterlenaan kita selama ini, betapa kita saat ini sangat
tergantung akan bahan bakar minyak. Setiap sendi kehidupan kita, tidak
ada satu pun yang terbebas dari kebutuhan kita akan bahan bakar minyak.
Mari kita coba jabarkan sejak kita bangun tidur, menjangkau surat
kabar pagi, tinta yang menyusun huruf menjadi kata pada koran itu
dibuat sebagian fraksinya dari minyak. Bergegas mandi, air yang
mengalir, dipompa dengan tenaga listrik, yang saat ini sebagian besar
pembangkit listrik bertenaga diesel. Kalaupun ada pembangkit tenaga
air, maka yang menggerakkan turbin pembangkit, juga air yang sudah
diubah menjadi uap bertekanan yang diperoleh dari pemanasan dengan
tenaga solar,..ah! Lagi-lagi minyak! Berangkat ke kantor berkendara
mobil, saat ini yang paling populer masih mobil bertenaga mesin
berbahan bakar minyak. Sesampainya di kantor, seharian kita butuh
lisrik, mengelola industri yang hampir bisa dipastikan ada kontribusi
minyak di sana. Sore hari perjalanan ke
rumah kita kembali harus mengkonsumsi minyak. Sampai di rumah masih
butuh lisrik, bahkan tidur pun rasanya tak nyaman bila AC tidak
menyala, lagi-lagi butuh listrik, butuh minyak!
Beberapa
tahun yang lalu, para ilmuwan perminyakan sebagian masih ada yang
begitu optimis akan cadangan minyak mentah dunia yang begitu besar,
yang diprediksi akan cukup memenuhi kebutuhan minyak dunia, bahkan
sampai lewat abad ini. Tapi belakangan justru sebagian besar dari
mereka yang optimis, mulai meralat pendapat mereka dan masuk pada
kelompok yang pesimis, dimana cadangan minyak dunia bisa jadi tidak
akan cukup mengimbangi pertumbuhan kebutuhan, bahkan dalam hitunganbelasan tahun kedepan!
Konon
kabarnya, banyak orang juga terheran akan harga minyak dunia yang
melambung tinggi akhir-akhir ini. Yang menurut beritanya, bahwa harga
tinggi itu justru paling banyak bukan dinikmati oleh produsen minyak,
tapi justru oleh para pelaku pasar modal industri perminyakan. Yang
dipicu oleh produksi minyak dunia yang stagnan, dan tak mampu memenuhi
pertumbuhan permintaan pasar.
Entahlah,
bagi saya masih terlalu membingungkan, tapi apa yang saya coba ingin
sampaikan adalah, apa yang bisa kita lakukan dalam lingkaran pengaruh
kita terhadap keadaan ini. Dan ungkapan ‘kecanduan akan minyak' bagi
saya terasa begitu pas. Karena dengan ungkapan ini seakan menyadarkan
kita bahwa jangan-jangan masalah utamanya terletak pada kita semua yang
mulai tidak bisa melepas ketergantungan kita akan minyak.
Saya
bukannya berusaha membela pemerintah dengan keputusan menaikkan harga
jual minyak. Tapi saya merasa, bahwa keputusan itu tetap diambil
-disamping pada perhitungan ekonominya- juga karena ada semacam
semangat untuk mendidik kita-kita ini untuk mulai belajar mengurangi
ketergantungan kita akan minyak.
Apa
bisa? Saya berani menjawab, bisa! Tidak perlu muluk-muluk akan sesuatu
yang besar-besar. Kita mulai saja dari diri sendiri dan orang-orang
disekitar kita. Pakailah listrik hanya seperlunya. Kita harus mulai
bisa secara jernih membuat garis tegas antara ‘kebutuhan' dan
‘keinginan'. Bila kebetulan kita memakai mobil yang begitu rakus
melahap premium, apakah kita memang ‘butuh' mobil macam begini, atau
hanya sekedar ‘ingin'. Kemana-mana bersepeda, kenapa tidak?
Kita
manusia saat ini seakan semakin dibuai oleh beragam kemudahan. Sehingga
lupa bahwa kemudahan yang paling mudah pun tetap butuh sumber daya.
Saatnya kita belajar untuk menghargai setiap sumber daya yang kita
miliki. Karena sumber daya tidak hanya minyak, akal dan kemauan kita
juga sumber daya kita. Malu rasanya kalau sampai kecanduan akan minyak!
30 Juli 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Pitoyo Amrih ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Kecanduan Akan Minyak
|
 |
Berbagi Alam Dengan Anak Cucu bagian I
|
 |
What You See is Not What You See
|
 |
Maafkan Saya
|
 |
Costumer Delightful
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Sesuatu Tidak Selalu Nampak Sebagaimana Kelihatanya
(Artikel Tetap) -
Senin, 04 Agustus 2008
|
 |
Jangan Pernah Berhenti
(Artikel Tetap) -
Selasa, 05 Agustus 2008
|
 |
Kekuatan Kata-kata Positif
(Artikel Tetap) -
Rabu, 06 Agustus 2008
|
 |
Pemantik Kegembiraan
(Artikel Tetap) -
Kamis, 07 Agustus 2008
|
 |
Tutup Lubang, Cari Lubang
(Artikel Tetap) -
Kamis, 07 Agustus 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Majulah Terus, Pantang Mundur !
(Artikel Tetap) -
Jumat, 01 Agustus 2008
|
 |
Kerja Keras Sama Dengan Sukses Bagian 2
(Artikel Tetap) -
Kamis, 31 Juli 2008
|
 |
Kepergian Pertama
(Artikel Tetap) -
Selasa, 29 Juli 2008
|
 |
Kura-kura
(Artikel Tetap) -
Senin, 28 Juli 2008
|
 |
Menyiasati Dampak Dari Kenaikan Bbm Terhadap Keuangan Kita
(Artikel Tetap) -
Jumat, 25 Juli 2008
|
|
|