|
|||
|
Penulis : Pitoyo Amrih
Rating Artikel :
Kamis, 24-Juli-2008
Dikisahkan sebuah
cerita yang memperlihatkan gambaran potret sebuah hari Minggu
‘kebanyakan' yang terjadi di sebuah kompleks perumahan di sebuah pagi
yang cerah. Tampak beberapa orang mencuci mobil mereka di depan rumah.
Terdengar dari dalam rumah suara riuh rendah anak-anak kecil bermain play-station
di rumah mereka. Satu-dua rumah diantaranya juga terdengar menyalakan
radio dan televisi mereka keras-keras terdengar sampai ke jalan.
Tiba-tiba,.. pet!! Suasana sepi, beberapa orang terlihat sempat bengong, berusaha menyadari apa yang terjadi. Aliran listrik padam! Air untuk cuci mobil berhenti perlahan mengalir. Terdengar suara anak-anak berteriak-teriak kecewa, sampai kemudian hening tak ada suara. Beberapa orang mencoba angkat telepon untuk melaporkan keluhan listrik mati kepada pihak otoritas listrik kota itu. Tapi telpon sunyi, tak ada suara, tak ada nada. Demikian juga telepon genggam, tak ada sinyal. Seseorang berlari menghampiri mobilnya, berpikir bahwa dia punya ide untuk menyalakan radio di mobilnya, yang mungkin menyiarkan perihal mati listrik yang tiba-tiba dan tidak biasanya itu. Tapi sia-sia, tak ada satu pun siaran stasiun radio mengudara. Hanya suara mendesis sepanjang pindai dari ujung ke ujung gelombang. Sekelompok keluarga rupanya sudah jenuh dan memilih mengendara mobil mereka kearah kota. Tapi lihatlah, sepanjang jalan orang-orang hanya berkerumun berdiri duduk di pinggir jalan, karena di dalam rumah, di dalam mal, di dalam pertokoan tempat mereka bekerja rupanya mati lampu dan terasa panas karena AC juga tidak menyala. Mobil itu pun melaju ke pompa bensin terdekat untuk memenuhi tangki bersiap pergi ke luar kota. Tapi apa boleh buat sesampainya di sana, pompa bensin mati tak ada aliran listrik. Mereka punya generator, tapi pihak SPBU mengambil kebijakan tidak menyalakannya untuk menjalankan pompa melayani penjualan bahan bakar. Generator disiapkan hanya pada keadaan darurat. Maka terjadilah kepanikan di sana-sini. Sikap kebersamaan berubah menjadi egois. Yang semula bersahabat, menjadi saling curiga. Orang-orang mulai berteriak, beberapa mulai mengancam. Belum lagi ketika malam tiba. Listrik belum juga menyala. Tampak orang mulai bergerombol di kegelapan di daerahnya masing-masing membawa tongkat dan senjata apa saja. Berjaga-jaga bila saja ada orang berniat jahat mengail di air keruh di kegelapan. Menjelang hari ke-enam. Lisrik belum juga menyala. Keadaan semakin parah. Orang-orang pergi dengan berjalan kaki atau bersepeda. Semua mobil sudah kehabisan bahan bakar. Orang-orang itu pergi dengan menenteng senjata dan bermuka tegang. Entah kenapa demikian. Mereka mulai mengumpulkan makanan sebanyak-banyaknya. Mengancam atau merampas kalau perlu! Saya lupa judul film yang pernah saya tonton, dengan gambaran cerita seperti di atas. Rekaman cerita itu di kepala saya tiba-tiba kembali muncul ketika, mau tidak mau, kita harus menghadapi krisis listrik, yang mungkin bisa sampai beberapa tahun kedepan sebelum percepatan pembangunan penambahan kapasitas pembangkit listrik selesai dibangun. Keadaan mungkin tidak separah apa yang saya ceritakan di atas. Pemerintah kita pun, tampak berusaha menawarkan berbagai alternatif solusi, yang tentunya didasari akan pemikiran bahwa kita semua bisa melewati krisis ini dengan kerugian sekecil-kecilnya. Tapi mengapa kita sudah mulai curiga satu sama lain? Mengapa kita mulai egois? Mulai menghujat orang-orang yang kita percaya. Mulai meninggalkan rasa kebersamaan. Anda boleh mendebat pendapat saya, tapi percayalah, harkat, martabat dan keberadaan kita untuk hidup bersama sebagai manusia yang dibekali akal, jauh lebih penting daripada sekedar krisis listrik..!! Krisis listrik bukan kiamat! 21 Juli 2008 Pitoyo Amrih www.pitoyo.com Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga |
|||
|
|||
| ( View : 2507 | Refer : 1 | Print : 145 | Rate : 8.00 / 3 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Menyiasati Dampak Dari Kenaikan Bbm Terhadap Keuangan Kita (Artikel Tetap) - Jumat, 25-Juli-2008 | ||
| • | Kura-kura (Artikel Tetap) - Senin, 28-Juli-2008 | ||
| • | Kepergian Pertama (Artikel Tetap) - Selasa, 29-Juli-2008 | ||
| • | Kerja Keras Sama Dengan Sukses Bagian 2 (Artikel Tetap) - Kamis, 31-Juli-2008 | ||
| • | Majulah Terus, Pantang Mundur ! (Artikel Tetap) - Jumat, 01-Agustus-2008 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Tentang Dua Orang Pertapa (Artikel Tetap) - Rabu, 23-Juli-2008 | ||
| • | Sahabat, Hadiah Paling Berharga (Artikel Tetap) - Selasa, 22-Juli-2008 | ||
| • | Kekurang-ajaran Adalah Malaikat Pembimbing (Artikel Tetap) - Senin, 21-Juli-2008 | ||
| • | Give Love (Artikel Tetap) - Jumat, 18-Juli-2008 | ||
| • | Perpisahan Dangan Handphone (Artikel Tetap) - Rabu, 16-Juli-2008 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



