Pada tahun 440 SM di negeri China, pada
zaman Berperangnya Negara-negara Bagian, hiduplah seorang Jenderal
Pasukan sekaligus Pengurus Negara yang bernama Wu Zi. Ia lahir di
Negara Bagian Wei, namun bakat dan kemampuannya baru terlihat maksimal
di Negara Bagian Chu setelah sebelumnya mengalami beberapa kali pasang
surut karir di beberapa negara bagian akibat fitnah dan perselisihan.
Menurut
cerita sejarah, ia tidak pernah kalah dalam pertempuran. Ia dikenal
karena eksploitasi militer serta administratifnya yang menonjol. Dalam
berbagai pembahasan mengenai strategi militer klasik China, namanya
banyak dibandingkan dengan Sun Tzu, ahli strategi China klasik yang
terkenal dan penulis buku Art of War, karena Wu Zi juga menulis buku tentang persiapan dan strategi-strategi tempur untuk situasi taktis tertentu, yang disebut Art of Tactics: Winning Strategies of Wu Zi.
Apa
yang akan saya ceritakan ini nantinya bukanlah membahas tentang apa
yang Wu Zi tulis dalam buku strateginya, melainkan adalah suatu
peristiwa yang menunjukkan kebesarannya sebagai seorang pemimpin dan
sesuai dengan apa yang ia dengung-dengungkan dalam buku teorinya
tersebut.
Saat menjabat sebagai jenderal, Wu Zi dikenal sebagai
pemimpin yang mengasihi pasukannya, hal ini seperti apa yang ia catat
dalam buku teorinya: "Kasihilah orang-orangmu seperti layaknya puteramu sendiri".
Wu Zi benar-benar menjalankan apa yang dikatakannya; ia makan makanan
yang sama dengan pasukannya, mengenakan pakaian yang sama, dan tinggal
dalam tenda yang sama. Hal ini menjadikan Wu Zi sebagai pemimpin yang
dihormati dan sangat dicintai anak buahnya.
Suatu hari, ketika
memimpin pasukannya bertempur, Wu Zi mendapati salah seorang
prajuritnya yang terluka karena terkena racun pada kakinya. Racun
tersebut begitu kerasnya, hingga konon hanya orang yang berkemampuan
tinggilah yang dapat menghisapnya keluar. Tidak ada satupun prajurit
yang berani menghisap racun tersebut keluar, selain dikarenakan takut
terhadap bahaya racun yang keras tersebut, kaki yang terkena racun tadi
telah mengeluarkan nanah yang menimbulkan rasa jijik kepada siapapun
yang melihatnya. Namun
tidak demikian dengan Wu Zi. Dengan tanpa ragu-ragu, Wu Zi menghisap
sendiri racun tersebut keluar untuk tidak menjalar ke anggota tubuh
yang lain. Seluruh pasukannya tertegun penuh kekaguman dan menyaksikan
kejadian itu dengan rasa haru yang teramat sangat. Setelah prajurit itu
dirawat lebih lanjut, akhirnya ia sembuh kembali dan sangat terkesan
dengan kebaikan Wu Zi sehingga menceritakan pengalaman tersebut kepada
semua teman dan koleganya dengan perasaan bahagia bercampur bangga.
Kabar
tersebut tak lama kemudian sampai pula ke desa di mana ibu prajurit
tersebut tinggal. Saat ibunya mendengar cerita kebaikan Wu Zi kepada
anaknya tersebut, tak disangka-sangka ibu tua itu berteriak dan
menangis keras, "Anakku yang malang! Aku takkan berjumpa lagi
dengannya!" Ibu tersebut dilanda kesedihan yang amat sangat, ia menutup
pintu rumahnya, dan menyendiri di sana diliputi kemurungan.
Tetangga-tetangga
rumah dari ibu tersebut heran dan bertanya, "Bukankah Ibu seharusnya
bersenang hati karena Jenderal mengasihi anak Ibu sehingga ia rela
menghisap racun itu sendiri? Apa yang Ibu sedihkan ketika putera Ibu
dipimpin oleh jenderal yang luar biasa seperti itu?"
Ibu itu
menjawab, "Ya, jenderal tersebut juga bertindak sama kepada suamiku
ketika kakinya terkena racun. Karena ketulusan dan kebaikan Jenderal Wu
Zi yang seperti itulah, suamiku menjadi begitu tergugah hati dan
kesetiaannya. Sampai akhirnya bertarung dengan mati-matian dan penuh
kesetiaan sehingga ia tewas terbunuh. Hal yang sama tak lama lagi akan
terjadi pula pada anak laki-lakiku!!"
Pembaca, kisah ini
benar-benar cerita yang saya anggap luar biasa dan selalu saya
tempatkan dalam peringkat pertama kisah kepemimpinan yang diteladani.
Cerita yang mungkin sedikit serupa dengan kisah sejarah anak-anak
sekolah dasar Republik Rakyat China (RRC) yang mengagung-agungkan Mao
Zedong saat ia rela menanggalkan jubahnya dalam Long March yang
penuh badai salju untuk kemudian diberikan kepada anak buahnya yang
mulai lemas karena kedinginan. Atau pula kisah Yesus Kristus yang
membasuh kaki murid-murid-Nya dalam sebuah perjamuan terakhir menjelang
kematian-Nya.
Bagi saya, memimpin dengan cinta yang tulus kepada
semua yang dipimpin adalah suatu esensi kepemimpinan yang paling dasar;
adakah yang sekiranya dapat melebihinya, pembaca?
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Willy Wong
|
 |
Wu Zi Leadership With Love
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Pathway To Success - Bagian 5
(Artikel Anda) -
Selasa, 22 Juli 2008
|
 |
Akui Kelemahanmu Dan Lakukan Sesuai Kemampuanmu!
(Artikel Anda) -
Rabu, 23 Juli 2008
|
 |
Semua Tergantung Bagaimana Sikapmu
(Artikel Anda) -
Jumat, 25 Juli 2008
|
 |
Guru, Keluarlah Dari Zona Aman
(Artikel Anda) -
Sabtu, 26 Juli 2008
|
 |
The Secret Of Success Bag 2
(Artikel Anda) -
Minggu, 27 Juli 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Antara Takut Gagal Dan Gagal
(Artikel Anda) -
Minggu, 20 Juli 2008
|
 |
Aku Ditawan Oleh Pikiranku
(Artikel Anda) -
Sabtu, 19 Juli 2008
|
 |
Jampe-jampene Apa Mas
(Artikel Anda) -
Kamis, 17 Juli 2008
|
 |
High Pain , High Gain
(Artikel Anda) -
Rabu, 16 Juli 2008
|
 |
Belajar Kungfu Dari Panda Bagian I
(Artikel Anda) -
Senin, 14 Juli 2008
|
|
|