Samuel adalah anak yang sangat aktif dan pintar. Samuel
menyukai hitungan dan tulisan. Sehingga di usia 6 tahun sudah bisa
membaca dan berhitung dengan baik. Tetapi tidak mau mendengarkan jika
tidak dikenal dan dihormatinya.
Pada saat tahun pertama sekolah Kelompok Bermain, Samuel mau mengenal gurunya. Samuel
mau dipanggil oleh gurunya. Tahun ke dua, guru kelas secara bergilir
akan diganti. Dan di tahun ke dua, Samuel sama sekali tidak mau
mendengarkan apa yang dikatakan sang guru. Begitu pula saat masuk Taman
Kanak-Kanak, Samuel semakin tidak mau dikendalikan oleh gurunya.
Yenny,
ibu Samuel bekerja sebagai ibu rumah tangga. Beliau mengalami kesulitan
memberi perhatian kepada Samuel karena anak ke dua lahir. Sehingga
Samuel dipasrahkan ke pembantu di rumah. Setelah anak ke dua berumur
1.5 tahun, Yenny mulai memberi perhatian ke Samuel. Tetapi Yenny
menjadi kesulitan untuk berkomunikasi dengan Samuel.
Karena
Samuel tidak mau mendengarkan gurunya, akhirnya diputuskan bahwa Samuel
harus disekolahkan tetapi bukan sekolah biasa. Beberapa sekolah sudah
dicoba, banyak yang tidak mau menerima. Akhirnya sekolah dengan metode
Homeschooling, HSKS (HomeSchooling Kak Seto).
Beruntung,
dengan cara ini, Samuel terpaksa diajar oleh ibunya. Sehingga
komunikasi dengan Samuel menjadi lebih jelas. Akhirnya keinginan Samuel
dapat diterima. Tidak ada orang lain yang mengenal Samuel selain
Ibunya.
Sebagai
seorang ibu, maka mau tidak mau harus mengajak makan, minum, mandi,
belajar dan lain-lain, sehingga Yenny lebih dapat mengerti kemauan,
kesulitan dan kesenangan dari Samuel.
Ini ada beberapa cuplikan :
"kikunatara
okasan ni naritai" - kalau besar ingin menjadi ibu-jawaban anak-anak
Jepang seperti itu, rasanya tidak dimiliki oleh anak-anak perempuan di
Indonesia (sumber ANNI IWASAKI - Ketua Anni Iwasaki Foundation) Kami
di sini meminta, ya memohonkan, meminta dengan sangatnya supaya
diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukanlah
sekali-kali karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan itu
saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini, melainkan karena
kami, oleh sebab sangat yakin akan besar pengaruh yang mungkin datang
dari kaum perempuan-hendak menjadikan perempuan itu lebih cakap
melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan oleh Alam sendiri ke
dalam tangannya: menjadi ibu-pendidik manusia yang pertama-tama.(sumber
: Kepada Tn Anton dan Nyonya. Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan
Armijn Pane. PN Balai Pustaka 1985)
Dari pengalaman dan cuplikan di atas, saya dapat menyarankan bahwa
Komunikasi antara orang tua dengan anak, hanya dapat dibina dengan baik
jika kedua orang tua saling bekerja sama dan saling mendukung.
Kita
bisa melihat jika kedua orang tua sibuk bekerja, maka anak tidak akan
dikenali keinginan, kemauannya oleh orang tua. Si anak adalah peniru
yang handal. Dia akan meniru pembantu, meniru dari Televisi. Jika
meniru yang baik, betapa senangnya. Tetapi kalau sebaliknya, betapa
kasihan orang tua yang sudah bekerja keras demi anak, tetapi anak akan
tetap kacau. Kebutuhan anak adalah diperhatikan, dan diperhatikan,
bukan uang. Memang sangat sulit perekonomian di Indonesia, oleh sebab
itu perlu kerjasama yang baik antar kedua orang tua dan saling
mendukung. Harus berbagi waktu, siapa yang bekerja, bagaimana mengurus
dapur, karena pemasukan dari satu sisi saja.
Tidak ada orang lain yang mengenal anaknya selain Ibunya. Saya buat tulisan ini, karena Saya sangat menyayangi Samuel dan istri saya, Yenny.
Oleh : Agus Putranto, S.Kom, MT, MSc.
XCEL Manager
Universitas Bina Nusantara
Aputra@binus.edu
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agus Putranto
|
 |
Membangun Komunikasi Anak
|
 |
Berani Mengangkat, Berani Meletakkan
|
 |
Berani Berubah
|
 |
Keluhan Masukan Yang Berharga
|
 |
TI = Belajar
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Berani Mengangkat, Berani Meletakkan
(Campus Corner) -
Selasa, 07 Oktober 2008
|
 |
Ibu Komunikasi Anak
(Campus Corner) -
Rabu, 29 Oktober 2008
|
 |
Kampus Buat Stress Banget?
(Campus Corner) -
Senin, 03 November 2008
|
 |
Tukang Parkir Yang Bodoh
(Campus Corner) -
Senin, 10 November 2008
|
 |
9 Manfaat Menulis Diari Sebagai Terapi Kesuksesan
(Campus Corner) -
Senin, 09 Februari 2009
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Tipe-tipe Penghambat Kemajuan
(Campus Corner) -
Kamis, 12 Juni 2008
|
 |
Kacamata Suasana
(Campus Corner) -
Kamis, 05 Juni 2008
|
 |
Berani Mengangkat, Berani Meletakkan
(Campus Corner) -
Selasa, 03 Juni 2008
|
 |
Hidup Adalah Djoeang
(Campus Corner) -
Jumat, 23 Mei 2008
|
 |
Jadilah Yang Terbaik Apa Pun Profesi Anda
(Campus Corner) -
Senin, 05 Mei 2008
|
|
|