|
|||
|
Penulis : Ippho Santosa
Rating Artikel :
Rabu, 02-Juli-2008
Dewasa ini, adalah susah untuk menetapkan keputusan jika hanya mengharapkan
otak kiri yang mengharuskan data serba lengkap. Persis seperti seorang jenderal
yang tengah menjajaki kekuatan musuh di medan perang. Petunjuk-petunjuk sering
tidak komplit. Iya ‘kan? Walhasil, tidak jarang sang jenderal mengira-ngira
berdasarkan intuisinya.
Serupa dengan sepasang suami-istri. Ketika si suami selingkuh, kok bisa-bisanya si istri tahu? Padahal si istri tidak melihat langsung. Saksi tidak ada. Bukti juga tidak ada. Rupa-rupanya intuisi si istri yang mendelik. Secepat kedipan mata! Blink! Secara umum dapat dikatakan, wanita memang lebih intuitif daripada pria. Kemampuan intuitif ini juga melekat pada pemimpin, pengusaha, seniman, dan Bangsa Asia. Itu 'kan kalau datanya tidak komplit? Lantas, bagaimana kalau sebaliknya? Data tumpah-ruah. Pahamilah, intuisi tetap diperlukan. Mutlak! Yah, Anda mana punya waktu untuk memilah dan memilih? Belum lagi ganasnya persaingan belakangan ini. Nah, situasi sedemikian rupa memaksa Anda untuk membuat keputusan dengan sekali sambar -tidak bisa berlama-lama. Di sini lagi-lagi intuisi diharapkan untuk unjuk kerja dan kinerja. Sebagai entrepreneur di bidang properti, musik, dan makanan, entah berapa intuisi membimbing, bahkan menyelamatkan saya. Anda tidak percaya? Bawalah orang-orang yang Anda anggap dahsyat ke hadapan saya. Di waktu sama, saya akan tunjukkan kepada Anda, orang-orang yang tajam intuisinya. Dengan intuisi yang terasah, mereka mengupas dan menguliti problema demi problema. Buntut-buntutnya, mereka dapat mempercepat kesuksesan. Pasti itu! Berbekal intuisi, Anda bagai melihat sesuatu yang tak terlihat oleh kebanyakan orang. Hei, ini bukan berarti Anda harus mengarduskan riset, analisis, dan kalkulasi. Tidak, tidak! Itu semua tetap ada gunanya, tetapi lebih sebagai penguat, pelengkap, dan pengiring. Oleh karena itulah, bagi orang manajemen dan orang pendidikan, intuisi itu dianggap terlarang. Mulailah dengan yang kanan. Kemudian? Barulah dijabarkan dengan yang kiri. Itu artinya, intuisi dulu, baru analisis. Blink dulu, baru think. Seorang entrepreneur yang ditawarkan suatu lokasi, hatinya mungkin membatin, "Sepertinya di sini cocok dibuka pujasera." Yap, intuisinya yang berbicara. Setelah itu, barulah otak kirinya yang berputar. Data-data pun dikumpulkan, dicermati, dan ditimbang-timbang. Seorang pria yang dipertemukan dengan seorang wanita, hatinya mungkin membatin, "Sepertinya dia cocok buat saya." Yap, intuisinya yang berbicara. Setelah itu, barulah otak kirinya yang berputar. Ia pun memikirkan aspek kepribadian, pendidikan, ekonomi, latar belakang keluarga, dan lain-lain. Jelas 'kan? Kanan dulu, baru kiri. Menurut saya, kalau awal-awal kanan sudah bilang 'no', tidak ada gunanya kiri memaksakan diri bilang 'yes'. Ippho Santosa adalah Creative Marketer, dengan latarbelakang entrepreneur di bidang properti, musik, makanan, dan penulis bestseller 10 Jurus Terlarang! |
|||
|
|||
| ( View : 1721 | Refer : 0 | Print : 104 | Rate : 7.00 / 1 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | What Is Success (Artikel Tetap) - Jumat, 04-Juli-2008 | ||
| • | Tindakan Nyata Bukan Hanya Sekedar Kata-kata (Artikel Tetap) - Sabtu, 05-Juli-2008 | ||
| • | Peragu (Artikel Tetap) - Senin, 07-Juli-2008 | ||
| • | Bulu Ayam (Artikel Tetap) - Selasa, 08-Juli-2008 | ||
| • | Dalam Keheningan Peta Solusi Akan Tampak Lebih Jelas (Artikel Tetap) - Rabu, 09-Juli-2008 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Klik, Hidup Anda Telah On (Artikel Tetap) - Selasa, 01-Juli-2008 | ||
| • | Harga Bunuh Diri (Artikel Tetap) - Senin, 30-Juni-2008 | ||
| • | Guruku Cantik Sekali (Artikel Tetap) - Senin, 30-Juni-2008 | ||
| • | Menjadi Seorang Pahlawan (Artikel Tetap) - Jumat, 27-Juni-2008 | ||
| • | Berbagi Alam Dengan Anak Cucu Bagian II (Artikel Tetap) - Kamis, 26-Juni-2008 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



