Belakangan ini, saya sering mendapati orang yang kebingungan
menentukan harga. Mereka yang sedang asik berwirausaha, ternyata banyak yang
kemudian mengeluhkan soal berapa harga yang pantas untuk produknya?
Kalau jelas harga dasarnya sih mungkin tak jadi soal.
Tinggal ambil marjin dari angka hitungan dasar, kalikan dengan jumlah perkiraan
produk yang terjual, beres. Itu pasti nanti akan langsung keluar angka
perkiraan keuntungannya.
Tapi, apakah akan segampang itu? Bagaimana jika kita bergerak
di bidang jasa? Nah, untuk pertanyaan yang terakhir-bagaimana menentukan harga
di bidang jasa-masih banyak yang sering kesulitan. Apalagi, hal tersebut sering
belum ada standar yang pasti di pasaran. Misalnya, jasa potong rambut.
Bagaimana seorang
hair stylist dengan
tukang potong rambut salon biasa bisa mempunyai perbedaan harga bak bumi dan
langit? Okelah kalau memang ada yang beralasan, si
hair stylist pasti sudah punya nama dan pengalaman dong... wajar
kalau lebih mahal. Tapi, berapa sebenarnya standar harga jasa potong rambut itu
sendiri, memang belum ada standarnya bukan?
Kita tidak akan mendebatkan soal berapa harga yang perlu
kita tetapkan untuk usaha kita. Yang ingin saya sampaikan di sini adalah soal
strategi kuno soal
pricing yang
menurut saya masih cukup ampuh di masa sekarang.
Strategi ini-menurut rekan saya-diistilahkan dengan "Harga
bunuh diri alias
suicide price".
Seram? Tunggu dulu. Itu hanya istilah yang mengacu pada pemberian potongan
harga yang kadang tidak masuk akal demi memperoleh keuntungan maksimal.
Bingung? Begini. Ini contoh nyata yang pernah dilakukan oleh
teman saya. Dia memberikan harga cetakan brosur plus desain, termasuk kartu
nama dengan harga supermiring kepada sebuah perusahaan. Setelah saya hitung,
memakai hitungan paling murah sekalipun, harga yang ditawarkan kawan saya itu
sama sekali tak kan
memberikan untung padanya. Saya pun heran.
Usut punya usut, ternyata, klien yang diberikan harga
supermurah itu adalah klien besar yang hingga kini telah beberapa tahun menjadi
pelanggannya. Ia ternyata melakukan subsidi silang dengan memberikan harga
murah untuk cetak brosur dan kartu nama. Dengan begitu, ia bisa mendapatkan
untung lebih besar dengan mendapat berbagai pekerjaan ekstra oleh klien
tersebut seperti membuat baliho hingga ke desain-desain cetak lainnya. Harga
murah yang diberikannya pada klien tersebut membuatnya dikenal sebagai partner
yang mau memberikan harga sangat miring. Padahal, ia mendapatkan untung ekstra
pada pekerjaan lainnya.
Sebenarnya, inti dari harga bunuh diri ini adalah kita
mencari barang yang paling terlihat dan paling banyak jadi omongan orang untuk
diberi harga supermurah. Dengan cara ini, kita menciptakan kesan harga produk
kita lebih murah dari pesaing. Sebab, pada dasarnya orang cenderung akan
membanding-bandingkan satu produk dengan produk lainnya. Dan, kalau ada yang
lebih murah namun berkualitas, pastilah orang akan mereferensikan produk
tersebut kepada orang lain.
Cara seperti ini juga acap saya gunakan untuk menjalankan
usaha di bidang jasa penulisan saya. Beberapa kali saya memberikan harga lebih
murah demi mendapat kepercayaan dari klien. Walhasil, meski di awal harganya
kurang menguntungkan, namun berkat kepercayaan klien, saya pun mendapat banyak
pekerjaan tambahan. Artinya? Arus kas masuk pun lebih lancer.
Bukankah untuk mendapatkan ikan besar, umpan yang diberikan
pun harus ekstra besar? Jadi, sudahkah Anda tentukan, mana harga dari produk
yang akan Anda korbankan?
Agoeng Widyatmoko
adalah konsultan independen UKM, perencana usaha keluarga, dan founder
DapurTulis, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa penulisan. Ia dapat
dihubungi melalui e-mail: agoeng.w@gmail.com.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agoeng Widyatmoko
|
 |
Tutup Lubang, Cari Lubang
|
 |
Jangan Percaya Modal Dengkul
|
 |
Berjumpalitanlah, Peluang Itu Semakin Dekat
|
 |
Dana Sos, Uang Penyelamat II
|
 |
Atur Doong Keuangan Kita...
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Klik, Hidup Anda Telah On
(Artikel Tetap) -
Selasa, 01 Juli 2008
|
 |
Seperti Jenderal Di Medan Perang
(Artikel Tetap) -
Rabu, 02 Juli 2008
|
 |
What Is Success
(Artikel Tetap) -
Jumat, 04 Juli 2008
|
 |
Tindakan Nyata Bukan Hanya Sekedar Kata-kata
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 05 Juli 2008
|
 |
Peragu
(Artikel Tetap) -
Senin, 07 Juli 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Guruku Cantik Sekali
(Artikel Tetap) -
Senin, 30 Juni 2008
|
 |
Menjadi Seorang Pahlawan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 27 Juni 2008
|
 |
Berbagi Alam Dengan Anak Cucu Bagian II
(Artikel Tetap) -
Kamis, 26 Juni 2008
|
 |
Harga Sebuah Kesuksesan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 24 Juni 2008
|
 |
Developing A Good Business Relationship
(Artikel Tetap) -
Senin, 23 Juni 2008
|
|
|